Berita

Donal Trump/Net

Dunia

Trump Dimakzulkan?

Buntut Kesaksian Eks Bos FBI
SABTU, 10 JUNI 2017 | 08:12 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bekas Bos FBI James Comey menyebut Presiden Amerika Serikat Donal Trump sebagai pembohong saat diperiksa di hadapan Kongres. Bila kesaksian itu benar adanya, maka ini pukulan telak bagi Trump. Sebab, Trump, yang menghalangi investigasi FBI, akan dianggap sebagai penghambat keadilan. Pelanggaran semacam itu berpotensi menyebabkan Trump dimakzulkan oleh Kongres. Tapi, akankah Trump dimakzulkan?

Pada Kamis waktu setempat, Comey menyampaikan kesaksiannya di hadapan anggota Parlemen selama kurang lebih tiga jam. Dalam keterangannya itu, Comey tampil tenang menyampaikan pengantar dan berbagai kesaksiannya. Namun, beberapa kali nada bicaranya berapi-api terutama saat menyampaikan kata pengantarnya.

Omongannya berapi-api saat menyinggung omongan Trump yang menyebut dirinya tak becus sebagi Bos FBI atau saat menyinggung omongan Trump yang mengatakan FBI tidak dipimpin dengan baik. Menurut dia, omongan Trump ini telah mencemarkan nama baiknya. "Itu kebohongan, polos dan sederhana. Dan saya sangat menyesal pegawai FBI harus mendengarnya," kata Comey, seperti dikutip BBC. "FBI itu jujur, FBI kuat, dan FBI selalu independen," katanya dalam sambutannya.


Comey mengatakan pernyataan Trump mengenai dirinya adalah murni kebohongan. Dia juga mengaku bingung dengan penjelasan yang berubah-ubah mengenai alasan pemecatannya.

Sekadar tahu saja, Trump memecat Comey saat dia sedang memimpin penyelidikan dugaan keterlibatan Rusia dalam kampanye presiden Trump pada 2016. Trump kemudian mengatakan dia tidak pernah berusaha menghalangi penyelidikan ters ebut.

Namun dalam pemeriksaan Comey, fakta bicara lain. Comey mengaku selalu mencatat omongan Trump setiap kali bertemu. Dan dalam beberapa kali pertemuan itu Trump berulang kali memujinya karena telah melakukan pekerjaan dengan baik. Lalu kenapa dipecat? Dia menduga, alasannya dipecat oleh Trump untuk mengubah penyelidikan terhadap Rusia.

Comey juga mengatakan kepada Komite Intelijen Senat ia yakin Trump, pada Februari lalu, mengarahkannya untuk menghentikan penyelidikan FBI terhadap mantan penasihat keamanan nasional Michael Flynn. Padahal penyelidikan terhadap Flynn merupakan bagian dari penyelidikan Rusia yang lebih luas. "Saya tahu saya dipecat karena sesuatu tentang bagaimana saya melakukan penyelidikan Rusia, yang dengan cara tertentu menekannya (Trump), dengan cara tertentu membuatnya kesal, dan memutuskan untuk memecat saya karena hal itu," ungkap Comey.

Comey tidak akan mengatakan apakah Trump memang berupaya menghalangi keadilan. Namun ia menambahkan hal itu akan menjadi nasihat khusus Robert Mueller, sosok yang melanjutkan penyelidikan tudingan Rusia dan dipercaya menyelesaikan masalah tersebut.

Selama sesi tanya jawab, Comey memberikan jawaban ringkas. Namun setiap yang dibeberkannya menegaskan Trump merupakan presiden yang tidak dia percaya dan telah menekannya untuk menghentikan peneyelidikan FBI terhadap Flynn.

Kendati demikian, dalam sesi tanya jawab, Comey berulang kali mengatakan ada beberapa rincian yang tak dapat ia utarakan. Hal ini mengindikasikan Comey menyimpan informasi-informasi sensitif yang hanya dapat dia kemukakan pada sesi tertutup dengan para senator.

Badan intelijen AS percaya Rusia mencampuri pemilihan AS dan mereka menyelidiki dugaan hubungan antara kampanye Trump dan Rusia. Tapi tidak ada bukti kolusi yang diketahui dan Trump telah mrnyangkalnya dengan menyebut hal itu berita palsu.

Lalu bagaimana tanggapan Trump? Juru bicara Trump, Sarah Sanders pada Kamis membalas serangan Comey dengan mengatakan, "Saya dapat secara definitif mengatakan presiden bukanlah pembohong."

Kasus dugaan komunikasi yang dijalin tim kampanye Donald Trump dan Rusia masih terus menjadi polemik berkepanjangan di AS. Bahkan, sejumlah kalangan menilai kasus ini bisa memakzulkan Trump dari kekuasaannya seperti skandal Watergate yang menumbangkan Presiden Richard Nixon pada 1974.

Seperti dilaporkan The Guardian, ada sejumlah kemiripan antara skandal kampanye Trump dan Watergate. Kemiripan tak terelakkan saat terungkap bahwa Trump ternyata sempat meminta Comey, untuk membatalkan penyelidikan tentang hubungan antara mantan Penasihat Keamanan Nasional, Michael Flynn dengan Rusia.

Terungkapnya permintaan tersebut telah membuat sejumlah politisi AS, termasuk mantan capres Partai Republik, John McCain menyebutkan bahwa skandal Trump mirip skandal Watergate. ***

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya