Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Terus Merugi, Pengamat Sarankan Garuda Untuk Kurangi Direksi

JUMAT, 09 JUNI 2017 | 17:02 WIB | LAPORAN:

Jajaran direksi perusahaan Garuda Indonesia (Persero) sebaiknya diefisiensikan dalam kondisi rugi pada kuartal pertama di tahun 2017 ini.

Begitu pendapat pengamat kebijakan publik Agus Pambagio  melalui pesan singkat (Jumat, 9/6).

"Jajaran direksinya sangat tidak efisien sembilan orang. Buat apa? Perusahaan sedang rugi," ujar Agus.


Agus juga menyoroti status Garuda sebagai perusahaan yang terdaftar di lantai bursa bisa diberhentikan izin usahanya karena melanggar peraturan perihal pengangkatan direksi.

“CASR (Civil Aviation Safety Regulation) atau PKPS (Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil)  menyebutkan bahwa Direktur Operasi dan Direktur Teknik adalah bagian dari Board, bukan pejabat Direktur. Garuda bisa distop perdagangannya di lantai bursa, karena selain mengenyampingkan aturan keselamatan dalam CASR juga jelas pengangkatan direktur di luar RUPS adalah pelanggaran terhadap POJK Nomor 33 Tahun 2014," paparnya.

Sebelumnya Agus pernah menyampaikan pendapat bahwa sangat krusial bagi suatu maskapai untuk menyusun personelnya sesuai dengan persyaratan yang tertuang dalam CASR 121.59 dan 121.61. CARS ini mengatur tentang syarat-syarat minimum personel manajemen dan kualifikasi personel.

"Ini pemerkosaan terhadap regulasi," cetus Agus.

Kondisi kerugian yang dialami Garuda, Agus melihat diperparah oleh beberapa faktor seperti pembukaan bandara internasional yang sangat banyak, kenaikan harga avtur yang cukup tinggi, serta proses birokrasi yang panjang.

"Kemudian banyak jenis pesawat yang digunakan sehingga M&O mahal,” jelas Agus.

Sedangkan mengenai utang Garuda Indonesia yang mencapai Rp. 39,6 triliun pada tahun ini, hemat Agus, Garuda Indonesia merestrukturisasi hutang atau menjual sahamnya.

Seperti diwartakan sebelumnya, omzet Garuda Indonesia menyusut pada triwulan II 2016 lalu sebesar 63.190,972 dolar AS. Sedangkan pada tiga bulan pertama 2017, perusahaan penerbangan milik negara ini mengalami kerugian cukup mendalam sekitar Rp 1,31 triliun.[wid]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya