PT Garuda Indonesia (Persero) dikabarkan hampir bangkrut. Hal ini menyusul perolehan maskapai plat merah itu turun 88 persen dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang senilai Rp 1,03 triliun atau 78 juta dolar AS.
Pada tiga bulan pertama 2017, Garuda Indonesia mengalami kerugian yang cukup mendalam sekitar Rp 1,31 triliun. Tercatat juga Garuda Indonesia memiliki utang yang cukup signifikan yakni sebesar hampir 40 triliun.
Dalam kondisi seperti ini, Ketua BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira menyarankan pemerintah untuk segera ambil alih dalam menyelamatkan Garuda Indonesia.
"Mungkin harus diambil alih pemerintah dalam hal ini Kementerian BUMN. Jika tidak ada solusi akan semakin dalam kerugian negara," ujar Anggawira dalam keterangannya, Kamis (8/6).
Garuda sebagai salah satu aset bangsa harus diselamatkan.
Sebab jika dari kacamata konsumen, performa Garuda masih dianggap cukup baik.
"Akan tetapi jika terjadi seperti ini Garuda harus mengklarifikasi kepada publik kondisi faktual sekarang," ujarnya.
Sejak tahun 2015, utang Garuda Indonesia mencapai Rp 32,5 triliun. Meningkat kembali di tahun 2016 yang mencapai Rp 36,6 triliun. Terus meningkat di tahun 2017 ini hingga mencapai Rp 39,6 triliun.
Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli pernah menyoroti tentang rencana pembelian pesawat Airbus A350 sebanyak 30 unit oleh Garuda Indonesia. Menurutnya pesawat Airbus A350 hanya cocok untuk rute Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa. Rizal pun mengingatkan perlu ada pembenahan Garuda ke depan agar bisa diselamatkan dari kebangkrutan.
Solusi Rizal Ramli pada Agustus 2015 agar Garuda tidak bangkrut dengan membeli pesawat yang kelasnya lebih rendah, yakni, Airbus 320 agar benar-benar bisa menguasai pasar domestik dan Asia.
"Kuasai dulu pasar domestik dan Asia, kuasai dulu pasar regional lima sampai tujuh tahun. Kalau sudah kuat baru kita hantam," tandas Rizal pada saat itu.
[wid]