Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Membangun Kebebasan Berpendapat

KAMIS, 08 JUNI 2017 | 08:53 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

TERNYATA naskah Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab (RMOL, 6 Juni 2017) memperoleh sambutan tidak positif alias negatif dari pihak yang tidak setuju upaya menghentikan hujat dan fitnah di Tanah Air Udara tercinta kita ini.

Bahkan naskah sederhana itu difitnah sebagai bagian dari gerakan memberangus kebebasan berpendapat yang telah dengan susah payah dihadirkan lewat demokrasi oleh Orde Reformasi di persada Nusantara masa kini.

Derita Berjemaah


Akibat merasa diri menjadi korban fitnah bahwa saya ingin memberangus kebebasan berpendapat maka saya memanfaatkan hak sebagai warga Indonesia di alam demokrasi untuk mengungkapkan pendapat melalui naskah sederhana yang dimuat atas budi baik Kantor Berita Politik RMOL yang sedang anda baca ini.

Bagi mereka yang tidak ingin membaca ungkapan pendapat saya silakan mengejawantahkan wejangan Gus Dur "Gitu Aja Kok Repot" dengan berhenti membaca naskah ini sampai di sini saja.

Bagi yang tetap ingin melanjutkan membaca naskah harap bertanggung jawab sendiri terhadap segenap reaksi negatif mulai dari sekedar tidak suka sampai muak.

Pertama: secara alasanologis saya bertanya kepada diri saya sendiri mengenai kenapa saya harus repot menulis naskah "Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab". Setelah mawas diri ke sana ke mari, akhirnya saya dapat menyimpulkan alasan saya menulis naskah tidak setuju pranata hujat dan fitnah berdasar pengamatan atas sikap sesama manusia yang dihujat dan difitnah di samping sikap sesama manusia yang menghujat dan memfitnah.

Lazimnya, mereka yang dihujat dan difitnah merasa tidak senang namun sebaliknya mereka yang menghujat dan memfitnah merasa senang. Maka wajar para penghujat dan pemfitnah merasa tidak senang apabila diminta menghentikan perilaku yang mereka senangi.

Namun ternyata rasa sakit dihujat dan difitnah merupakan bukan suatu bentuk perasaan individual namun perasaan kolektif alias derita berjemaah. Yang ikut merasa sakit bahkan bisa lebih sakit ternyata bukan hanya sang korban dihujat dan difitnah belaka namun segenap anggota keluarga mulai dari semah, anak-anak, orang tua, sepupuh, sanak keluarga sampai ke para sahabat seiring sejalan dalam paham dan mazhab.

Ibarat ledakan sebuah bom bukan hanya membinasakan korban secara individual namun kolektif maka ledakan hujat dan fitnah bukan menyakiti seorang insan saja namun segenap anggota keluarga, handai taulan, sahabat sang insan yang dihujat dan difitnah berdasar "roso jiniwit katut" ikut merasakan derita sesama.

Ramadhan

Saya merasa tidak berhak sekaligus juga memang tidak mampu menasehati para penghujat dan pemfitnah yang saya yakin pasti memiliki alasan masing-masing sehingga tega hati melakukan hujat dan fitnah terhadap sesama manusia.

Namun selama menyarankan belum dilarang maka dengan penuh kerendahan hati saya memberanikan diri untuk menyarankan agar di bulan suci Ramadhan ini marilah kita bersama merenungi makna luhur yang terkandung di dalam hadits jihad-Nafs: Al Sukuni meriwayatkan dari Abu Abdillah Al Shadiq bahwa ketika Nabi Muhammad SAW menyambut pasukan sariyyah kembali setelah memenangkan peperangan, Beliau bersabda: 'Selamat datang wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil tetapi masih harus melaksanakan jihad akbar!'. Ketika orang-orang bertanya tentang makna sabda itu, Rasul SAW menjawab: 'Jihad kecil adalah perjuangan menaklukkan musuh. Jihad akbar adalah jihad Al-Nafs, yaitu perjuangan menaklukkan diri sendiri!'.

Marhaban ya Ramadhan. Taqaballahu minna wa minkum. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1438 H. [***]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajar Kemanusiaan

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya