Berita

Foto/Net

Bisnis

Angkasa Pura II Mau Bangun Terminal 4 Bandara Soetta

Atasi Pertumbuhan Penumpang
SABTU, 03 JUNI 2017 | 09:21 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Meski operasional Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta) belum sepenuhnya berjalan, PT Angkasa Pura II (AP II) Persero berencana membangun Terminal 4 di Bandara Soetta. Penambahan terminal ini untuk mengakomodasi peningkatan jumlah penumpang.

Terminal anyar tersebut bakal dibangun di kawasan kar­go dengan luas sekitar 300.000 meter persegi, sedikit lebih kecil dari terminal 3 yang mencapai 400.000 meter persegi.

Direktur Utama AP II Muham­mad Awaluddin mengatakan, rencana pembangunan Terminal 4 Bandara Soetta saat ini masih dalam tahap kajian. Baru pada Tahun 2018, rencana pemban­gunan masuk ke tahap detail engineering design (DED).


"Saat ini baru kajian sehingga belum tahu berapa investasinya. Setelah DED rampung, baru di akhir 2018 kita masuk tahap konstruksi, nantinya pemban­gunan juga akan dilelang ke kontraktor, seperti Terminal 3," kata Awaluddin di Jakarta.

Dilanjutkannya, Terminal 4 nantinya menempati lokasi Soewarna yang sebelumnya merupakan terminal kargo yang akan digantikan fungsinya. Ka­wasan tersebut memiliki luas sekitar 300.000 meter persegi, sedikit lebih kecil dari terminal 3 yang mencapai 400.000 meter persegi.

Awaluddin menyebut, dengan adanya Terminal 4, kapasitas penumpang di Bandara Inter­nasional Soekarno Hatta bisa mencapai 100 juta penumpang per tahun dari saat ini di kisaran 60 juta penumpang per tahun.

"Dalam lima tahun ke depan pengunjung Bandara Soetta akan menembus angka 100 juta penumpang, tahun ini aja udah 60 juta. Jadi kita sangat butuh penambahan terminal untuk mengakomodasi peningkatan ini," tegas Awaluddin.

Dilanjutkannya, Angkasa Pura II menargetkan terminal baru di lima bandara yang dikelola perseroan dapat beroperasi pada 2017 guna mendukung pengem­bangan pariwisata nasional dan ekspansi bisnis perseroan.

"Lima bandara itu adalah Hu­sein Sastranegara di Bandung, Depati Amir di Pangkalpinang, Silangit di Tapanuli Utara, Su­padio di Pontianak, dan Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng," ujar Awaluddin.

Sebelumnya, Direktur Operasi dan Teknik AP II Djoko Mur­jatmodjo mengatakan, saat ini Terminal 3 Bandara Soetta sudah mampu menampung 25 juta pen­umpang. Jumlah tersebut terbagi dua yaitu sebanyak 12,5 juta penumpang domestik dan 12,5 juta penumpang internasional.

"Jumlah 25 juta penumpang itu karena kita melayaninya den­gan level of service B, sementara bandara-bandara di dunia um­umnya level of services C. Nah Terminal 3 kalau diturunkan ke C bisa menampung 30 juta pen­umpang," kata Djoko.

Terlambat


Langkah pengelola bandara pelat merah menambah terminal 4 dinilai sangat terlambat. Pasal­nya, saat ini jumlah penumpang pesawat udara di Indonesia tumbuh belasan persen setiap tahun.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menilai, penambahan terminal yang akan dilakukan AP II pada tahun depan sangat terlambat dalam mengakomodasi pening­katan penumpang. Bahkan pem­bangunan Terminal 3 yang saat ini belum beroperasi penuh 100 persen dinilai juga terlambat.

"Dengan hadirnya Terminal 3, kapasitas Bandara Soetta saat ini mampu melayani 60 juta penumpang per tahun. Padahal jumlah penumpang yang be­rangkat dari dan tiba di Bandara Soetta saat ini sudah 60 juta. Artinya, kalau ada peningkatan lagi dalam beberapa bulan ke depan, sudah tidak tertampung atau overload," kata Alvin ke­pada Rakyat Merdeka.

Hal ini, kata dia, menyebabkan panjangnya antrean penumpang dan pesawat untuk tinggal lan­das maupun mendarat. Selain itu, antrean tersebut membuat penggunaan bahan bakar pesa­wat menjadi tidak efisien dan menyebabkan polusi udara.

"Terminal 4 harus segera dibangun, AP II juga harus melakukan perluasan Terminal 1 dan 2 agar tidak overload da­lam waktu dekat. Peningkatan kapasitas juga perlu dilakukan pada sisi layanan navigasi pen­erbangan. Penambahan alokasi frekuensi radio, petugas ATC serta modernisasi infrastruk­tur navigasi seperti Radar dan sistem pemantauan dan forcast cuaca," tegas Alvin. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya