Berita

Dunia

Trump Tarik AS Dari Kesepakatan Iklim, Kecaman Internasional Muncul

JUMAT, 02 JUNI 2017 | 14:17 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

RMOL. Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memutuskan untuk menarik Amerika Serikat dari kesepakatan iklim Paris.

Trump mengatakan bahwa kesepakatan tersebut seperti "menghukum" AS dan akan merugikan jutaan pekerjaan Amerika.

Dalam sebuah pidato di Gedung Putih, dia mengatakan bahwa dia siap untuk menegosiasikan sebuah kesepakatan baru atau kembali memasukkan kesepakatan tersebut dengan persyaratan yang lebih baik.


"Saya terpilih mewakili warga Pittsburgh, bukan Paris," katanya seperti dimuat BBC.

Trump menjelaskan bahwa kesepakatan iklim Paris merupakankesepakatan yang bertujuan untuk meremehkan, merugikan dan memiskinkan AS.

Dia mengklaim bahwa kesepakatan tersebut akan menelan biaya sebesar 3 triliun dolar AS dalam GDP dan menghilangka 6,5 juta pekerjaan.

Trump mengatakan bahwa ia memenuhi tugasnya yang sungguh-sungguh untuk melindungi Amerika dan warganya.
 
 "Kami tidak ingin pemimpin lain dan negara lain menertawakan kami lagi - dan mereka tidak akan melakukannya," sambung Trump.

Trump tidak memberikan skala waktu. Namun, di bawah kesepakatan tersebut, sebuah negara yang ingin meninggalkan perjanjian tersebut hanya dapat memberikan pemberitahuan tiga tahun setelah tanggal mulai berlaku, yakni 16 November 2016.

Proses meninggalkannya memakan waktu satu tahun lagi, artinya tidak akan lengkap sampai beberapa minggu setelah pemilihan presiden AS pada 2020.

Pembayaran AS ke Dana Iklim Hijau PBB, yang membantu negara-negara berkembang mengatasi dampak perubahan iklim, juga akan berhenti. [mel]

=====


Komentar bernada kecaman bermunculan di ranah internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penarikan diri Negeri Paman Sam dari kesepakatan iklim Paris.

Trump mengatakan bahwa kesepakatan tersebut seperti "menghukum" AS dan akan merugikan jutaan pekerjaan Amerika.

Dalam sebuah pidato di Gedung Putih, dia mengatakan bahwa dia siap untuk menegosiasikan sebuah kesepakatan baru atau kembali memasukkan kesepakatan tersebut dengan persyaratan yang lebih baik.

Mantan Presiden AS Barack Obama, yang menyetujui kesepakatan Paris, juga segera mengkritik langkah tersebut, menuduh pemerintahan Trump telah menolak masa depan.

Pemimpin Demokrat Senat Chuck Schumer menyebut keputusan tersebut merupakan salah satu langkah kebijakan terburuk yang dibuat di abad ke-21 karena kerusakan besar pada ekonomi, lingkungan dan posisi geopolitik.

Di ranah internasional, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan sangat kecewa dengan keputusan Trump.

Perdana Menteri Inggris Theresa May, juga mengungkapkan kekecewaannya dan mengatakan kepada Trump bahwa dia menangani kesepakatan tersebut untuk melindungi kemakmuran dan keamanan generasi masa depan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa dia menghormati keputusan Trump namun yakin itu adalah bentuk kesalahan, baik bagi AS maupun untuk planet bumi.

Menteri Keuangan Jepang Taro Aso mengatakan bahwa pihaknya bukan hanya merasa kecewa, tapi juga marah.

Sedangkan juru bicara PBB mengatakan bahwa ini adalah kekecewaan besar bagi upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mempromosikan keamanan global.

Pemimpin Perancis, Jerman dan Italia dengan cepat mengeluarkan sebuah pernyataan bersama yang menolak sebuah renegosiasi kesepakatan.

"Kami menganggap momentum yang dihasilkan di Paris pada bulan Desember 2015 tidak dapat diubah dan kami sangat yakin bahwa kesepakatan Paris tidak dapat dinegosiasi ulang, karena ini adalah instrumen vital bagi planet, masyarakat dan ekonomi kita," kata pernyataan bersama itu seperti dimuat BBC. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya