Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) khawatir penggantian program penyaluran beras sejahtera (rastra) dengan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) bakal mempengaruhi bisnis perusahaan. Selama ini, Bulog juga kesulitan menyalurkan rastra ke masyarakat.
Direktur Operasional Bulog, Karyawan Gunarso mengatakan, sekitar 90 persen bisnis Bulog saat ini merupakan penyerapan gabah/ beras dari petani yang kemudian disalurkan ke Rumah Tangga Sasaran (RTS) dalam bentuk beÂras sejahtera tipe medium.
Bisnis ini diatur dalam InÂstruksi Presiden (Inpres) No.5 Tahun 2015 tentang kebijakan pengadaan gabah/beras dan peÂnyaluran beras oleh pemerintah.
Karyawan khawatir, jika rasÂtra dihapus dan diganti dengan BPNT, maka harus ada aturan baru yang mengatur soal kewaÂjiban penyerapan gabah/beras petani oleh Bulog.
"Jika rastra dihapus maka kami akan kesulitan menyalurkan beras jenis medium tersebut, sementara di satu sisi, kami harus menyerap gabah dari petani. Harus ada jaÂminan outlet untuk menyalurkan serapan gabah petani ini," kata Karyawan saat diskusi Antisipasi Penerapan Kebijakan Beras SeÂjahtera Sistem Tunai di Jakarta.
Karyawan merinci, proses bisÂnis Bulog harus berubah ketika penyaluran rastra jadi BPNT. Karena saat penyaluran beras menjadi nontunai, akan terjadi pasar bebas di mana bukan hanya Bulog yang bisa memasarkan beras ke masyarakat sejahtera, pemain swasta pun bisa berpeluÂang menjalankan bisnis ini.
"Informasi awal, BPNT itu kan sistem voucer, nanti bisa dibelikan beras di toko terÂtentu. Berasnya tidak dipatok, bisa yang medium bahkan bisa yang premium. Artinya, kalau masyarakat lebih pilih yang premium, maka beras medium yang kita serap dari petani tidak laku di pasar. Tidak ada jaminan bakal terjual," ujar Karyawan.
Karena itu, Bulog mengusulÂkan cadangan beras rastra di Bulog menjadi Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Stok beras Bulog saat ini mencapai 2,1 juta ton, yang sebagian besar meruÂpakan cadangan beras medium untuk rastra. Sementara CBP setahun hanya 280.000 ton.
"Jika BPNT direalisasikan, Bulog berharap CBP naik menÂjadi 1 juta ton hingga 2 juta ton pertahun," ujarnya.
Untuk realisasi penyaluran rasÂtra oleh Bulog hingga Mei tahun ini, Karyawan menyebut kalau peÂnyerapannya masih rendah. Dari pagu alokasi tahun 2017 sebesar 2,55 juta ton, hingga 26 Mei 2017 Bulog baru berhasil merealisasiÂkan sekitar 628 ribu ton.
"Rendahnya serapan ini karena terlambatnya data RTS dari KeÂmenterian Koordinator PembanÂgunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) serta Kementerian Sosial (Kemensos). Datanya by name by address dan baru masuk dari Kementerian PMK dan KemenÂsos baru masuk 27 maret 2017, makanya penyalurannya baru mulai April," katanya.
Karyawan mengatakan, pihaknya baru memulai penyaluran pada April kemarin. Sebab harus menunggu Surat Perintah Alokasi (SPA) dari pemerintah daerah. Adapun, tahun ini rumah tangga sasaran mencapai 14,21 juta dari 15,53 juta rumah tangga miskin.
Merasa Aman Pengamat dari
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, sebagai penyalur dan penyangga beras nasional, bisnis Bulog dinilai tidak fokus.
"Ini yang kerap bikin BuÂlog kesulitan dalam menyerÂap dan menyalurkan beras ke masyarakat. Tidak heran serapan rastra selalu rendah," kata Enny kepada
Rakyat Merdeka.
Seharusnya, kata dia, Bulog menjalankan bisnis yang terpiÂsah, di mana mereka tidak boleh mencari untung, melainkan fokus melaksanakan penugasan pemerintah.
"Apalagi saat ini, kebijakan penyaluran rastra belum matang. Akibatnya, penyaluran tidak makÂsimal. Harus ada juga kepastian dari pemerintah, agar serapannya maksimal," tegas Enny.
Pengamat BUMN Ferdinand Hutahaean mengatakan, denÂgan suntikan modal dari negara (PMN) seharusnya kinerja Bulog sebagai penyangga dan penyalur beras senasional bisa berjalan dengan baik.
"Bulog kan dapat PMN, seÂharusnya mereka bisa lebih maksimal. Tapi kenyataannya, serapan tidak maksimal dan kualitas beras sejahteranya kerap mengecewakan," kata Ferdinand kepada
Rakyat Merdeka.
Ferdinand khawatir, support dari pemerintah ini justru memÂbuat Bulog terlena, karena sudah merasa aman dan nyaman dengan penugasan yang mereka terima.
"Akibatnya, rasa ingin maju dan meningkatkan kompetensi mereka tidak ada. Ini harus dihilangkan, Bulog harus jadi perusahaan yang kuat dan mampu bersaing, apalagi tugas mereka beras sebagai peÂnyangga stok pangan nasional," tegas Ferdinand. ***