Mantan Menko Perekonomian dan Menko Maritim, Rizal Ramli, meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di bawah kepemimpinan baru mau merombak struktur kredit perbankan.
Hal itu dikatakan Rizal saat diminta pendapatnya oleh Komisi XI DPR RI dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (31/5).
Dalam pandangannya, Rizal kembali mengeluarkan pengibaratannnya yang terkenal soal perekonomian Indonesia seperti "gelas anggur".
Seperti bentuk gelas anggur, keadaan ekonomi Indonesia ditopang kekuatan ekonomi kelas menengah dan bawah yang sangat rapuh. Sedangkan di bagian atas, ada sekitar segelintir keluarga kaya yang menguasai ribuan perusahaan. Ekonomi gelas anggur itulah yang menjadi jalan ekonomi Orde Baru dan dilanjutkan sampai sekarang.
Anggota Panel Ahli Perserikatan Bangsa Bangsa ini mengungkap, ada 160 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan 200 keluarga yang memiliki lebih dari 100 perusahaan. Sedangkan kelompok pengusaha kelas menengah, di bagian tengah gelas anggur, berjumlah sangat kecil.
Rizal menegaskan, struktur kredit perbankan selama ini lebih banyak dinikmati pengusaha kaya. Perusahaan-perusahaan besar mendapat penyaluran kredit dalam jumlah besar. Padahal, rasio ekspor terhadap total penjualan dari 200 perusahaan besar itu hanya di bawah 10 persen. Situasi itu berbeda dengan perusahaan-perusahaan besar di negara maju yang rasio ekspor terhadap total penjualannya lebih dari 90 persen.
"Perusahaan-perusahaan besar di negara-negara maju membuat keuntungan untuk kemudian dibawa ke dalam negerinya. Kalau di Indonesia, mereka cari uang di sini tetapi keuntungan dibawa ke luar negeri," kata Rizal.
Karena itulah Rizal meminta DPR mendorong para calon pimpinan baru OJK berani membuat kebijakan yang mengubah struktur ekonomi yang tak adil itu.
Dia berharap, masukannya menjadi bahan Komisi XI DPR dalam menguji kelayakan dan kepatutan calon Dewan Komisaris OJK.
"Penyaluran kredit harus mulai mengutamakan perusahaan-perusahan kecil dan menengah," saran Rizal.
[ald]