Berita

Ivanka Trump/Net

Dunia

Selidiki Pabrik Pembuat Sepatu Ivanka Trump di China, Aktivis Buruh Ini Ditangkap

RABU, 31 MEI 2017 | 15:55 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Seorang pria diamankan dan dua orang lainnya hilang di China setelah melakukan penyelidikan terhadap sebuah perusahaan China yang membuat sepatu bermerek Ivanka Trump.

Begitu keterangan yang disampaikan oleh China Labor Watch, sebuah kelompok advokasi yang berbasis di New York (Rabu, 31/5).

Pria yang ditangkap adalah aktivis buruh Hua Haifeng. Menurut Li Qiang, direktur eksekutif kelompok China Labor WatchIa ditangkap di provinsi Jiangxi karena dicurigai secara ilegal menggunakan peralatan menguping.


Ketiga pria tersebut telah menyelidiki kondisi buruh di pabrik yang memproduksi sepatu Ivanka Trump, putri Presiden Donald Trump, dan juga merek Barat lainnya.

"Kami mengajukan banding kepada Presiden Trump, Ivanka Trump sendiri, dan kepada perusahaan merek dagangnya untuk mengadvokasi dan mendesak pembebasan aktivis kami," kata China Labor Watch dalam keterangan seperti dimuat Reuters.

Belum ada keterangan dari pihak Ivanka Trump maupun Gedung Putih. Begitupun dari pihak kepolisian China yang masih belum memberikan komentar lebih lanjut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan bahwa dia mengetahui sesuatu tentang situasi tersebut dan menolak berkomentar lebih lanjut.

Penangkapan dan penghilangan yang dilaporkan terjadi pada saat tekanan kuat terhadap aktivis buruh di China di tengah tindakan keras terhadap masyarakat sipil di bawah Presiden Xi Jinping.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak aktivis hak buruh melaporkan bahwa mereka diintimidasi dan dilecehkan, ditahan sementara, atau dibatasi dalam gerakan mereka.

Kelompok HAM International meminta pembebasan ketiganya jika mereka ditahan hanya karena menyelidiki kemungkinan pelanggaran tenaga kerja di pabrik-pabrik.

"Aktivis yang mengekspos pelanggaran hak asasi manusia potensial layak mendapat perlindungan bukan penganiayaan," kata William Nee, peneliti China kelompok tersebut.

"Trio ini tampaknya merupakan yang terbaru yang melanggar kampanye agresif pemerintah China terhadap aktivis hak asasi manusia yang memiliki hubungan dengan organisasi luar negeri, dengan menggunakan kepura-puraan 'keamanan nasional'," sambungnya. [mel]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Gus Ipul Cek Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama Manado

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:14

Pegawai Imigrasi Jaksel Tingkatkan Kemampuan Jurnalistik dan Kehumasan

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:46

Pengawasan MBG Harus Diperkuat Usai Dadan Dkk Dicokok Kejagung

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:28

Pemerintah Sepakati Kerangka RAPBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Dibidik 6,5 Persen

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:02

Piala AFF U-19: Drama VAR Kubur Impian Garuda Muda ke Final

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:56

Mahasiswa Jabar Turun ke Jalan Suarakan RUU Polri dan BBM

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:24

PLN Berhasil Operasikan Tower Emergency, Sistem Kelistrikan Sumut Kembali Normal

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:14

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap, Pertamax Naik Ikuti Harga Pasar

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

Target Pendapatan Dipatok Naik, DPR Restui Minuman Manis Kena Cukai

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara 72 Jam Lebih Cepat

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:02

Selengkapnya