Berita

Noriega/BBC

Dunia

Sepenggal Kisah Eks Pemimpin De Facto Panama, Dari Sekutu AS Hingga Terpidana

SELASA, 30 MEI 2017 | 16:34 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Jenderal Manuel Antonio Noriega, mantan pemimpin militer Panama tutup usia awal pekan ini.

Pria 83 tahun itu menghembuskan napas terakhir setelah baru saja menjalani operasi setelah menderita pendarahan setelah operasi otak.

Noriega telah menjadi sekutu penting AS namun secara paksa dikeluarkan saat tentara Amerika menyerang pada tahun 1989 dan kemudian dipenjara di AS karena tuduhan penggunaan narkoba dan pencucian uang.


Dia menghabiskan sisa hidupnya dalam tahanan, belakangan di Panama untuk pembunuhan, korupsi dan penggelapan uang.

Namun ia dilepaskan ke tahanan rumah pada bulan Januari untuk mempersiapkan operasi pada awal Maret untuk mengeluarkan tumor otak.

Sekretaris Negara untuk Komunikasi Manuel Dominguez mengumumkan bahwa ia menjalani operasi lebih lanjut setelah pendarahan otak namun meninggal Senin petang waktu setempat di rumah sakit Santo Tomas Panama City.

"Kematian Manuel A Noriega menutup sebuah bab dalam sejarah kita," kata
Presiden Juan Carlos Varela.

Meskipun dia tidak pernah terpilih untuk jabatan, Noriega menjadi pemimpin de facto Panama, yang memiliki masa jabatan enam tahun sebagai gubernur militer pada tahun 1980an.

Sebagai pendukung kuat Amerika Serikat, dia menjadi sekutu penting dalam upaya Washington untuk melawan pengaruh komunisme di Amerika tengah.

Tapi AS bosan dengan perannya yang semakin represif secara internal di Panama, dan ada indikasi bahwa dia menjual jasanya kepada badan intelijen lainnya, belum lagi organisasi perdagangan narkoba.

Noriega akhirnya didakwa di pengadilan federal AS atas tuduhan perdagangan obat bius pada tahun 1988 dan, setelah pengamat AS menyatakan bahwa dia telah mencuri pemilihan tahun 1989, Presiden George HW Bush meluncurkan invasi "Operasi Just Cause", yang mengirim hampir 28.000 tentara.

Dikabarkan BBC, Noriega mencari perlindungan dalam misi diplomatik Vatikan di Panama City.

Pasukan AS mengusirnya dengan bermain musik pop dan heavy metal yang memekakkan telinga tanpa henti di luar. [mel]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Gus Ipul Cek Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama Manado

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:14

Pegawai Imigrasi Jaksel Tingkatkan Kemampuan Jurnalistik dan Kehumasan

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:46

Pengawasan MBG Harus Diperkuat Usai Dadan Dkk Dicokok Kejagung

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:28

Pemerintah Sepakati Kerangka RAPBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Dibidik 6,5 Persen

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:02

Piala AFF U-19: Drama VAR Kubur Impian Garuda Muda ke Final

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:56

Mahasiswa Jabar Turun ke Jalan Suarakan RUU Polri dan BBM

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:24

PLN Berhasil Operasikan Tower Emergency, Sistem Kelistrikan Sumut Kembali Normal

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:14

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap, Pertamax Naik Ikuti Harga Pasar

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

Target Pendapatan Dipatok Naik, DPR Restui Minuman Manis Kena Cukai

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara 72 Jam Lebih Cepat

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:02

Selengkapnya