Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Redefinisi 'On Terror'

SELASA, 30 MEI 2017 | 13:22 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

SEMUA orang setuju, terorisme adalah "unlawful acts of violence". Para pedantic demokrasi, macam Al Araf dan Hendardi, pun setuju. "Dangerous to human life", kata US Patriot Act.

Terrorist group macam Provisional Irish Republican Army (PIRA) yang beroperasi di Irlandia Utara nggak bisa disamakan dengan kelompok "Kapak Merah". Segerombolan komunis Red Army Faction (RAF) atau "Baader-Meinhof Gang" pimpinan Andreas Baader bukan sekedar preman atau begal motor.

Sindikat pembunuh Pulomas menewaskan lima orang. Namun, dalam rangkaian pertempuran Armed Islamic Group (GIA) dan Group for Preaching and Combat (GSPC) menewaskan 100 ribu orang di Algeria. Termasuk aksi extermination of entire villages.


Terrorist men are freedom fighters. Bagi kelompoknya. Bukan sekedar perompak, penculik, apalagi maling ayam (tapok). Moh. Siddique Khan, London Bomber 2005, menyatakan, "We are at war. And I am a soldier."

Merujuk statemen Carl von Clausewitz: “war is an act of violence to compel our enemy to do our will,” maka jelas aksi teroris dan terorisme adalah perang. Bukan sekedar "purely criminal in nature".

Jadi masukan Jacob Hornberger dalam artikel berjudul "Criminal Offenses vs. Acts of War" tidak tepat. Sama seperti Araf dan Hendardi, Hornberger pun bilang "Acts of terrorism remain police matters."

Nyatanya, terrorisme adalah an act of war. Minimal a warlike action.

Lebih jauh, Daniel Benjamin dan Steven Simon menyimpulkan serangan al-Qaeda (9/11) was warlike in its dimensions, in terms of the devastation caused and the losses (human, material, and financial) suffered.

Kritikus dan Pro Komunis mengabaikan fakta respon militer terhadap aksi terorisme bukan a one-sided affair.

Menurut Jenderal Gatot Nurmantyo, terorisme adalah kejahatan terhadap negara.

Tendensi historik dan current events membuktikan bahwa "terrorism is more than just a run-of-the-mill criminal act".

Indikator ancaman terorisme terhadap negara bisa dilihat dari perkembangan aksi terorisme itu sendiri.

Terorisme telah bertransformasi. Tidak lagi berskala kecil dan bersifat domestik. Bandingkan antara aksi David Copeland (British Neo-Nazi militant) dan Bom Bali yang menewaskan 202 orang.

Di tahun 1999, aksi gila teroris David Copeland (London Nail Bomber) berlangsung selama 13 hari dan menewaskan tiga orang. Targetnya Negro, orang Asia dan Gay. Antara tahun 1967-79, teroris komunis Jerman Barat hanya sanggup merekrut 25-32 kader. Mereka merilis 63 aksi teror (bombings, bank raids, kidnappings dan assassinations) dan membunuh 33 orang. Itu terjadi sebelum Bundeswehr (militer Jerman) memutuskan menghancurkan gerakan mereka.

Jadi, sudah benar bila Presiden Joko dan Kapolri Tito berpendapat bahwa TNI mesti dilibatkan.

Dahulu, Federal Bureau of Investigation (FBI) ditugasi handle domestik terorist Weathermen atau Weather Underground Organization. Ini organisasi teroris komunis Amerika. Sekitar tahun 1969-70, mereka merilis rangkaian aksi bom, menjebol penjara (jailbreaks) dan rusuh.

FBI masih sanggup menekuk berbagai anti-government milisia. Kentucky State Militia, Ohio Unorganized Militia Assistance, Southeastern Ohio Defense Force, Michigan Militia dan sebagainya diberangus.

Namun, the same could not be said of Al-Qaeda, with its global presence and more wide-ranging scale of activity and support.

Jadi, stop merusak NKRI dengan menyatakan terorisme adalah fenomena domestik dan hanya masuk kategori "Criminal Offenses".[***]

Penulis Merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak)



Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya