Berita

Foto/Net

Politik

Islam Radikal "Peliharaan" Orde Baru

SELASA, 30 MEI 2017 | 11:36 WIB | OLEH: YAN DARYONO

DENGAN reputasinya sebagai seseorang yang terbiasa berpikir dan bersikap kontroversil, Mayor Jenderal TNI Ali Moertopo yang pada awal 1965 menjabat sebagai Komandan Divisi Opsus (Operasi Khusus) BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara), segera melakukan pendekatan dengan para mantan Darul Islam atau Negara Islam Indonesia (NII) dan Tentara Islam Indonesia (TII) yang sedang memulai gerakan baru.

Orang pertama yang didekati adalah Danu Muhammad Hasan, seorang eksponen DI/TII yang dikenal bersikap moderat dan terlihat mudah untuk didekati.

Ternyata upaya awal itu berhasil, Danu Muhammad Hasan membuka diri terhadap pendekatan Opsus, sekaligus menyatakan kesediaannya untuk membantu mendistribusi informasi tentang gerakan NII baru tersebut.


Selang tiga tahun kemudian, Dodo Muhammad Darda - salah seorang anak SM Kartosuwiryo - menginisiasi pertemuan rahasia dengan sejumlah mantan kepercayaan almarhum ayahnya.

Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk menghidupkan kembali visi Darul Islam demi mewujudkan Indonesia sebagai negara non sekuler dan hanya berdasarkan hukum Islam. Saat itulah terbentuk organisasi baru dengan nama: Komando Jihad.

Jika NII Fillah merupakan manifestasi kebangkitan gerakan DI/TII yang baru dengan meninggalkan karakter militeristik dan non struktural, karena lebih berfungsi menggerakan kaum ulama Darul Islam yang melaksanakan dakwah dengan konsep baru yang flexsible, Komando Jihad justru menempuh cara berbeda.

Yaitu masih bertumpu pada karakter militeristik dan akan mengedepankan gerakan perjuangan yang bersifat agitasi militer. Maka sebagai Ketua Komando Jihad dipercayakan kepada Adah Djaelani, mantan "tangan kanan" SM Kartosuwiryo.

Dalam konsep gerakannya, Komando Jihad membagi tujuh wilayah perjuangan yang menyerupai struktur organisasi Darul Islam sebelumnya. Dari tujuh wilayah komando tersebut yang terpenting justru wilayah komando tiga di Jawa Barat yang kepemimpinannya dipercayakan kepada Danu Muhammad Hasan yang telah lama dibina menjadi informan Opsus.

Mengetahui munculnya gerakan Komando Jihad tersebut, Ali Moertopo melihat peluang untuk memberdayakan para pimpinan Komando Jihad dalam rangka pemenangan Golkar dalam Pemilu 1971. Yaitu menggunakan organisasi Komando Jihad untuk kepentingan Pemerintah Orde Baru sambil terus mengawasi aktivitas pergerakan organisasi tersebut.

Sedangkan orang yang dinilai paling tepat dipercaya untuk membina kelompok Komando Jihad itu adalah Pitut Soeharto, seorang perwira menengah TNI AD. Karena jauh sebelum ini Pitut Soeharto sudah menjalin hubungan akrab dengan para mantan petinggi DI/TII tersebut.

Pendekatan Pitut Soeharto membuahkan keberhasilan. Dengan menawarkan konsensus sebagai agen pendistribusian minyak tanah dan sembako kepada para petinggi DI/TII itu, para pimpinan Komando Jihad bersedia membantu memperjuangkan pemenangan Golkar dalam Pemilu 1971. Sejak itu pula Komando Jihad menjadi binaan tim Opsus Orde Baru.

Tidak saja digunakan untuk penggalangan massa demi kemenangan Golkar dalam Pemilu demi Pemilu, tetapi juga digunakan sebagai "alat" dalam menumpas sisa-sisa kelompok Komunis dan jaringan organisasi bawah tanahnya di seluruh Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Sementara pada saat yang sama, yaitu di tahun 1971-1973, Ali Moertopo juga "menggarap" kelompok Islam Jama’ah yang dipimpin oleh Nurhasan al-Ubaidah.

Kelompok NII Fillah juga berhasil didekati, dibentuk menjadi LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam Indonesia) sebagai salah satu organisasi sayap Golkar. Selanjutnya LEMKARI berubah nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) sampai sekarang dan tetap menjadi organisasi sayap Partai Golkar. [bersambung/***]

Penulis adalah pemerhati isu-isu keamanan dan pertahanan. Tinggal di Bandung. Tulisan ini adalah bagian ketiga dari empat bagian tulisan.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya