Berita

Foto/Net

Politik

Proses Berkembangnya Islam Radikal

SELASA, 30 MEI 2017 | 10:37 WIB | OLEH: YAN DARYONO

PADA tahun 1980-an wajah Islam di Indonesia mulai mengalami perubahan yang terus berkelanjutan. Jika awalnya Islam merupakan agama yang kompromi kepada budaya lokal, pada era 1980-an mulai bergeser mengarah kepada penolakan kompromi kepada budaya lokal tersebut.

Para cendekiawan muslim yang baru kembali dari mengikuti pendidikan di Timur Tengah, menawarkan Islam sebagai agama yang memiliki ketentuan baku dan kaku yang konon semata-mata bersumber dari kitab suci Al Qur'an dan Hadist.

Para cendekiawan muslim itu menebar pemahaman mereka dalam berbagai kegiatan ceramah agama di mesjid-mesjid, kelompok-kelompok pengajian, pesantren demi pesantren, hingga menerbitkan buku-buku Islami dalam pandangan yang (menurut mereka) bersumber dari kitab suci Al Qur'an dan Hadist.


Tetapi pada sisi lain, seiring upaya mengubah visi dari pandangan tradisional kepada pandangan baru, muncul gerakan Islam yang membawa paham yang kurang lebih sama radikalnya. Yaitu Islam dengan pengamalan ajarannya yang absolut dan kaku, atau disebut juga sebagai Islam fundamentalis.

Sehingga untuk menegakkan sikap fundamentalis itu - jika perlu - harus dengan menggunakan cara-cara kekerasan yang ekstrim.

Akibatnya, mau tidak mau, pandangan yang absolut dan radikalis itu akhirnya dapat mengerdilkan nilai-nilai Islam itu sendiri. Islam selalu mengajarkan umatnya untuk selalu bersikap egaliter, pluralis dan sangat melarang cara-cara kekerasan.

Jika mendalami lebih jauh proses tumbuh kembangnya paham Islam radikal, sebenarnya sudah terjadi sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia. Yaitu ketika dalam rumusan hasil rapat BPPKI (Badan Panitian Persiapan Kemerdekaan Indonesia) diakui dan disepakati bersama bahwa dasar negara Indonesia Merdeka adalah Pancasila.

Keputusan tersebut menimbulkan sikap penolakan dari sekelompok tokoh Islam saat itu yang menghendaki agar dasar negara adalah bersya'riat Islam bagi para pemeluknya.

Demikian pula ketika Presiden Soekarno mengumumkan dekrit pembubaran konstituante pada tanggal 5 Juli 1959 dan kembali kepada prinsip Undang-Undang Dasar 1945. Tetapi kebijaksanaan Presiden Soekarno saat itu, dinilai oleh sekelompok tokoh Islam telah mengabaikan usulan Piagam Jakarta yang menegaskan Islam sebagai agama resmi negara dan syarat menjadi Presiden RI haruslah seorang muslim serta kewajiban melaksanakan syari'at Islam bagi semua pemeluknya.

Kekecewaan para tokoh Islam masa itu semakin bertambah manakala Presiden Soekarno menetapkan rasionalisasi militer. Yakni kelembagaan militer hanya berlaku pada TNI yang diresmikan pembentukannya pada tanggal 5 Oktober 1945.

Bagi warga negara, pejuang atau mantan pejuang, yang akan bergabung bersama TNI haruslah memenuhi sejumlah persyaratan resmi yang telah ditetapkan. Maka sebagai akibat kebijaksanaan rasionalisasi militer itu, sebanyak 300.000 orang milisi Hizbullah di Jawa Barat yang dipimpin SM Kartosuwiryo terpaksa kehilangan eksistensinya, demikian pula pada milisi Hizbullah di daerah-daerah lainnya di Indonesia juga mengalami kekecewaan yang sama. Para anggota milisi yang tidak mampu memenuhi persyaratan resmi itu, walau dikenal berani dan sangat berjasa dalam bertempur melawan penjajah, terpaksa tidak bisa disertakan bergabung bersama TNI.

Puncak kekecewaan itu pun akhirnya mendorong SM Kartosuwiryo menyatakan sikap protes dengan memproklamirkan terbentuknya Darul Islam atau Negara Islam Indonesia (NII) dan Tentara Islam Indonesia (TII) pada bulan Agustus 1949 di Jawa Barat.

Pada saat inilah Islam di Indonesia ditampilkan dalam bentuk pemberontakkan, kekerasan dan peperangan. SM Kartosuwiryo dan para pengikutnya yang masih setia memilih masuk hutan di pegunungan Jawa Barat dan memulai perlawanan bersenjata.

Ternyata langkah SM Kartosuwiryo diikuti oleh Daud Bereuh pemimpin Laskar Hizbullah di Aceh, lalu menyusul Kahar Muzakar pemimpin Laskar Hizbullah di Sulawesi Selatan. Perang saudara pun dimulai.

Jika sebelum ini antara TNI dan Laskar Hizbullah saling membantu dalam menghadapi penjajah, maka kini mereka berhadapan untuk tujuan yang berbeda. Bilamana TNI bertujuan untuk menjaga keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Kebhinekaan sebagai kedaulatan penuh bangsa Indonesia, SM Kartosuwiryo Cs justru ingin mengubah NKRI menjadi Negara Islam Indonesia.

Sampai pada tanggal 4 Juni 1962, SM Kartosuwiryo berhasil ditangkap oleh Pasukan Siliwangi. Pemerintah RI saat itu berhasil menewaskan sejumlah pimpinan DI/TII di berbagai daerah dan juga memenjarakan para pengikutnya. Namun ternyata, sisa-sisa gerakan tersebut bagai api dalam sekam.

Pada tahun 1965, seiring terjadinya kemelut politik nasional yang diawali dengan peristiwa G30S PKI, kekuasaan pemerintahan pun beralih. Dari Presiden Soekarno beralih kepada Mayor Jenderal TNI Soeharto yang kemudian dikenal sebagai peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru.

Pada masa peralihan tersebut, para mantan pejuang DI/TII kembali memulai aktivitasnya. Kebangkitan perjuangan itu tidak lagi menggunakan strategi perjuangan bersenjata, bahkan mulai meninggalkan karakter militeristik dan mengabaikan struktur kenegaraan NII.

Mereka membentuk gerakan yang dinamakan: NII Fillah yang bersifat non struktural. Kepemimpinan gerakan tersebut dilaksanakan secara kolegial oleh Kadar Shalihat dan Djadja Sudjadi, dua tokoh mantan petinggi DI/TII.

Mereka didukung oleh tokoh-tokoh mantan DI/TII lainnya seperti Abdullah Munir, Kamaluzaman, Sabur, Danu Muhammad Hasan dan seterusnya.

Mengendus munculnya gerakan NII Fillah itu menumbuhkan inspirasi tersendiri bagi kalangan intelijen Pemerintah Orde Baru yang saat itu sedang gencar-gencarnya membasmi kaum komunis berserta seluruh jaringan organisasinya di Indonesia.

Yaitu dengan memanfaatkan atau mengeksploitasi para mantan DI/TII yang sedang membangun gerakan baru untuk menjadi "alat" pemerintah orde baru membasmi kaum komunis. Maka pendekatan intelijen kepada para mantan DI/TII itu pun dimulai. [bersambung/***]

Penulis adalah pemerhati isu-isu keamanan dan pertahanan. Tinggal di Bandung. Tulisan ini adalah bagian kedua dari empat bagian tulisan.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya