Berita

Foto/Net

Bisnis

Perhutani Kaji Ulang Bisnis Air Minum Dalam Kemasan

Sempat Rugi Rp 321 Miliar Di Tahun 2016
MINGGU, 28 MEI 2017 | 10:46 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Perum Perhutani mencatat laba perusahaan sebesar Rp 121 miliar pada kuartal satu 2017 atau meningkat 138 persen dibanding 2016 Year of Year (YoY) yang merugi Rp 321 miliar. Transformasi bisnis terus dikembangkan guna meraih kinerja positif tahun ini.

Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Mauna mengatakan, kerugian sebesar Rp 321 miliar tersebut masih ditambah dengan banyaknya kewajiban yang belum terpenuhi seperti kewajiban pajak, tamba­han dana pensiun, peningkatan status karyawan.

Ia tak memungkiri, bahwa kon­disi perusahaan beberapa tahun terakhir menunjukan kinerja yang terus memburuk dari sisi kinerja keuangan, operasional serta kual­itas sumberdaya hutannya.


Untuk itu, pihaknya terus berupaya melakukan transformasi bisnis, ditopang dengan penu­runan biaya pokok penjualan dan biaya usaha. "Meski dari sisi pendapatan juga belum sesuai harapan karena lesunya pasar dunia untuk produk kayu dan gon­dorukem, tapi kami terus melaku­kan transformasi bisnis," ujarnya, melalui siaran pers, kemarin.

Menurutnya, tantangan yang dihadapai Perhutani selama ini ada pada penjualan kayu dengan varia­si tinggi, hanya bisa dijual secara konvensional. Sedangkan, pen­jualan secara online dipersepsikan hanya untuk produk-produk yang variasinya tidak tinggi.

Namun, setelah melalui proses ujicoba dan mekanisme ketat, Per­hutani bisa mewujudkan penjualan kayu secara online melalui online Toko Perhutani. Melalui mekanisme online ini transaksi jual beli kayu menjadi transparan.

"Keberhasilan itu bagian dari rangkaian transformasi bisnis yang tengah dilakukan. Kami mulai dari sisi pemasaran seperti strategic, taktik, hingga ke im­plementasi branding campaign, dimana titik berat penilaian ter­masuk inovasi yang dilakukan di era digitalisasi," jelasnya.

Saat ini, pihaknya juga tengah merestrukturisasi bisnis yang dibagi dalam dua kelompok besar yaitu revitalisasi existing business dan new business development.

"Untuk existing business yang dipertahankan akan dilakukan rebranding ecotourism, sedangkan bisnis yang tidak mengun­tungkan dikaji ulang, seperti usaha air minum dalam kemasan dan industri kayu," katanya.

Bangun Bisnis Biomass

Perhutani juga akan mengem­bangkan wisata World Class Eco­park bekerjasama dengan investor yang telah survei dan memberikan kepastiannya untuk bekerjasama di beberapa destinasi wisata alam.

"Salah satunya akan kita kem­bangkan wisata di kawasan Sentul Bogor seluas 600 hektar (Ha)," katanya.

Selain itu, Perhutani akan membangun bisnis biomass karena prospek energi terbaru­kan ini sangat menjanjikan dan ramah lingkungan. Hal ini me­lihat adanya peluang kebutuhan energi terbarukan menggunakan woodpellet di dunia pertumbu­hannya sebesar 2,7 juta ton per tahun (2010-2025).

"Kebutuhan woodpellet Korea Selatan sekarang banyak dipa­sok oleh Vietnam, sedangkan rata-rata ekspor Indonesia ke Korea Selatan baru mencapai 70 ribu ton per tahun," katanya.

Untuk itu, Perhutani bekerjasama dengan Korea Western Power (KWP) membangun Power Plant berbasis biomassa untuk Pabrik Sagu Perum Per­hutani, Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat.

Menurutnya, kerjasama terse­but memungkinkan Perhutani Group mengembangkan tana­man biomass seluas 200 ribu Ha yang akan menghasilkan 3.2 juta MT woodchips.

"Nilai woodchips ini bisa untuk membangun pembangkit setara 800 MW listrik pertahun atau 1.6 juta MT wood pellet, artinya energi biomass dapat menghemat penggunaan energi fosil (solar) senilai Rp 2 triliun per tahun," tandasnya. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya