Perum Perhutani mencatat laba perusahaan sebesar Rp 121 miliar pada kuartal satu 2017 atau meningkat 138 persen dibanding 2016 Year of Year (YoY) yang merugi Rp 321 miliar. Transformasi bisnis terus dikembangkan guna meraih kinerja positif tahun ini.
Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Mauna mengatakan, kerugian sebesar Rp 321 miliar tersebut masih ditambah dengan banyaknya kewajiban yang belum terpenuhi seperti kewajiban pajak, tambaÂhan dana pensiun, peningkatan status karyawan.
Ia tak memungkiri, bahwa konÂdisi perusahaan beberapa tahun terakhir menunjukan kinerja yang terus memburuk dari sisi kinerja keuangan, operasional serta kualÂitas sumberdaya hutannya.
Untuk itu, pihaknya terus berupaya melakukan transformasi bisnis, ditopang dengan penuÂrunan biaya pokok penjualan dan biaya usaha. "Meski dari sisi pendapatan juga belum sesuai harapan karena lesunya pasar dunia untuk produk kayu dan gonÂdorukem, tapi kami terus melakuÂkan transformasi bisnis," ujarnya, melalui siaran pers, kemarin.
Menurutnya, tantangan yang dihadapai Perhutani selama ini ada pada penjualan kayu dengan variaÂsi tinggi, hanya bisa dijual secara konvensional. Sedangkan, penÂjualan secara online dipersepsikan hanya untuk produk-produk yang variasinya tidak tinggi.
Namun, setelah melalui proses ujicoba dan mekanisme ketat, PerÂhutani bisa mewujudkan penjualan kayu secara online melalui online Toko Perhutani. Melalui mekanisme online ini transaksi jual beli kayu menjadi transparan.
"Keberhasilan itu bagian dari rangkaian transformasi bisnis yang tengah dilakukan. Kami mulai dari sisi pemasaran seperti strategic, taktik, hingga ke imÂplementasi branding campaign, dimana titik berat penilaian terÂmasuk inovasi yang dilakukan di era digitalisasi," jelasnya.
Saat ini, pihaknya juga tengah merestrukturisasi bisnis yang dibagi dalam dua kelompok besar yaitu revitalisasi existing business dan new business development.
"Untuk existing business yang dipertahankan akan dilakukan
rebranding ecotourism, sedangkan bisnis yang tidak mengunÂtungkan dikaji ulang, seperti usaha air minum dalam kemasan dan industri kayu," katanya.
Bangun Bisnis BiomassPerhutani juga akan mengemÂbangkan wisata World Class EcoÂpark bekerjasama dengan investor yang telah survei dan memberikan kepastiannya untuk bekerjasama di beberapa destinasi wisata alam.
"Salah satunya akan kita kemÂbangkan wisata di kawasan Sentul Bogor seluas 600 hektar (Ha)," katanya.
Selain itu, Perhutani akan membangun bisnis biomass karena prospek energi terbaruÂkan ini sangat menjanjikan dan ramah lingkungan. Hal ini meÂlihat adanya peluang kebutuhan energi terbarukan menggunakan woodpellet di dunia pertumbuÂhannya sebesar 2,7 juta ton per tahun (2010-2025).
"Kebutuhan woodpellet Korea Selatan sekarang banyak dipaÂsok oleh Vietnam, sedangkan rata-rata ekspor Indonesia ke Korea Selatan baru mencapai 70 ribu ton per tahun," katanya.
Untuk itu, Perhutani bekerjasama dengan Korea Western Power (KWP) membangun Power Plant berbasis biomassa untuk Pabrik Sagu Perum PerÂhutani, Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat.
Menurutnya, kerjasama terseÂbut memungkinkan Perhutani Group mengembangkan tanaÂman biomass seluas 200 ribu Ha yang akan menghasilkan 3.2 juta MT woodchips.
"Nilai woodchips ini bisa untuk membangun pembangkit setara 800 MW listrik pertahun atau 1.6 juta MT
wood pellet, artinya energi biomass dapat menghemat penggunaan energi fosil (solar) senilai Rp 2 triliun per tahun," tandasnya. ***