Berita

Foto/Net

Bisnis

Industri Semen Diramal Masih Jalan Di Tempat

Daya Beli Masyarakat Masih Lesu
MINGGU, 28 MEI 2017 | 10:29 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Industri semen meramal pertumbuhan bisnis tahun ini tidak akan jauh dari tahun lalu. Pasalnya, daya beli masyarakat masih lemah. Pengusaha berharap pada proyek infrastruktur.

Sales Director PT Holcim Indonesia Tbk Dion Sumedi mengatakan, pertumbuhan in­dustri semen di sepanjang tahun ini tidak akan berbeda dibandingkan tahun lalu yang bergerak lambat. Penyebabnya, kata dia, masih rendahnya serapan pemerintah.

"Pasokan sangat besar dita­mbah ketatnya persaingan dan daya beli yang rendah kami ber­harap pada proyek pemerintah," katanya di Jakarta, kemarin.


Holcim sendiri mengalami rugi bersih sebesar Rp 285 miliar di sepanjang 2016. Bahkan, hingga kuartal I tahun ini, perusahaan belum meraih laba bersih.

"Tren perlambatan ekonomi masih ada dampaknya, selain itu daya beli juga masih lemah," akunya.

Dia meminta, pemerintah bisa mendorong untuk mengakselerasi pembangunan infrastruk­tur dan perumahan. "Perumahan kan mestinya sudah (tumbuh) 12 persen, tapi kuartal I-2017 baru 8 persen," jelas Dion.

Ia menambahkan, baik in­frastruktur maupun perumahan masih memiliki potensi besar karena kebutuhannya tidak per­nah habis. Di sektor perumahan, khususnya yang terjangkau, pemerintah telah memiliki pro­gram sejuta rumah untuk mem­fasilitasi kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

"Padahal sudah ada program itu, tapi realisasinya masih jauh. Ayo gimana caranya, industri-industri semen sudah siap nih," sebut Dion.

Proyeksi pertumbuhan yang dipatok Asosiasi Semen Indo­nesia (ASI) sebesar 5 persen di­anggap Dion sudah paling mak­simal. Dalam kondisi seperti ini, menurutnya, industri semen sulit bisa tumbuh di atas 3 persen. "Kita berharap kondisi membaik sehingga 5 persen bisa terwujud. Tapi kita lihat sekarang ini sulit, kami menargetkan tumbuhan 2 persen," jelas Dion.

Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) me­nyatakan hal serupa, lambatnya pertumbuhan bisnis umumnya dipengaruhi oleh pasokan se­men yang berlebih dan daya beli kurang. "Kami melihat memang penjualan semen dua tahun bela­kangan tidak bagus," ucapnya.

Turunnya penjualan disebab­kan oleh perubahan cuaca, ter­tundanya proyek infrastruktur, dan beberapa proyek peruma­han. Faktor-faktor tersebut me­mangkas penjualan perusahaan semen.

Menurut dia, mayoritas pe­rusahaan semen di Indonesia memfokuskan pada penjualan semen kantong. Dan, semen ini biasanya banyak diserap oleh sektor properti. "Kalau proyek properti sebagai pelanggan kita menahan daya beli maka hara­pan ada pada proyek infrastruk­tur," ujarnya.

Proyek infrastruktur pemerintah menjadi tumpuan para perusahaan semen di Tanah Air. Jika bisa berkolaborasi sesuai harapan bukan tidak mungkin pertumbuhan industri semen bisa naik mencapai 3 persen.

"Kita lihat ritelnya berhenti, propertinya berhenti. Kita ber­gantung ke infrastruktur, ritel­nya enggak jalan. Full year growth industri semen 3 persen," ujarnya.

Menurut Rizkan, pertumbu­han industri semen tahun ini masih sulit untuk kembali kuat. Tidak adanya insentif dan turun­nya harga jadi masalah yang harus dibenahi. "Rebound itu kan kepercayaan. Insentifnya apa?," cetusnya.

Anjloknya harga, diakui dia, menggerus laba perusahaan semen. Padahal dari sisi produksi dan penjualan relatif tidak ada masalah berarti. "Coba cari mana perusahaan yang naik? Target laba perusahaan­nya, sekarang kami cuma bisa usahakan enggak turun tahun ini," pungkas Rizkan.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) Zulfikri Subli mengakui, in­dustri semen memang sedang menghadapi tantangan. Dalam kondisi ini perusahaan dituntut melahirkan strategi disamping menaruh harapan pada pemerintah. Strategi yang digunakan perseroan dengan fokus pada daerah yang butuh pasokan se­men seperti Sumatera, artinya perusahaan pilih main aman.

Menurut dia, bisnis semen per­seroan masih besar dari empat daerah, yakni Sumatra Selatan, Lampung, Jambi dan Bengkulu. Taksiran Semen Baturaja, kebu­tuhan semen keempat daerah itu bisa mencapai 5 juta-5,5 juta ton semen tahun ini.

Dari strategi itu juga perusa­haan mampu meraup pendapatan Rp 327 miliar. "Kami targetkan penjualan bisa 2 juta ton tahun ini," tukas Zulfikri.  ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya