Industri semen meramal pertumbuhan bisnis tahun ini tidak akan jauh dari tahun lalu. Pasalnya, daya beli masyarakat masih lemah. Pengusaha berharap pada proyek infrastruktur.
Sales Director PT Holcim Indonesia Tbk Dion Sumedi mengatakan, pertumbuhan inÂdustri semen di sepanjang tahun ini tidak akan berbeda dibandingkan tahun lalu yang bergerak lambat. Penyebabnya, kata dia, masih rendahnya serapan pemerintah.
"Pasokan sangat besar ditaÂmbah ketatnya persaingan dan daya beli yang rendah kami berÂharap pada proyek pemerintah," katanya di Jakarta, kemarin.
Holcim sendiri mengalami rugi bersih sebesar Rp 285 miliar di sepanjang 2016. Bahkan, hingga kuartal I tahun ini, perusahaan belum meraih laba bersih.
"Tren perlambatan ekonomi masih ada dampaknya, selain itu daya beli juga masih lemah," akunya.
Dia meminta, pemerintah bisa mendorong untuk mengakselerasi pembangunan infrastrukÂtur dan perumahan. "Perumahan kan mestinya sudah (tumbuh) 12 persen, tapi kuartal I-2017 baru 8 persen," jelas Dion.
Ia menambahkan, baik inÂfrastruktur maupun perumahan masih memiliki potensi besar karena kebutuhannya tidak perÂnah habis. Di sektor perumahan, khususnya yang terjangkau, pemerintah telah memiliki proÂgram sejuta rumah untuk memÂfasilitasi kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
"Padahal sudah ada program itu, tapi realisasinya masih jauh. Ayo gimana caranya, industri-industri semen sudah siap nih," sebut Dion.
Proyeksi pertumbuhan yang dipatok Asosiasi Semen IndoÂnesia (ASI) sebesar 5 persen diÂanggap Dion sudah paling makÂsimal. Dalam kondisi seperti ini, menurutnya, industri semen sulit bisa tumbuh di atas 3 persen. "Kita berharap kondisi membaik sehingga 5 persen bisa terwujud. Tapi kita lihat sekarang ini sulit, kami menargetkan tumbuhan 2 persen," jelas Dion.
Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) meÂnyatakan hal serupa, lambatnya pertumbuhan bisnis umumnya dipengaruhi oleh pasokan seÂmen yang berlebih dan daya beli kurang. "Kami melihat memang penjualan semen dua tahun belaÂkangan tidak bagus," ucapnya.
Turunnya penjualan disebabÂkan oleh perubahan cuaca, terÂtundanya proyek infrastruktur, dan beberapa proyek perumaÂhan. Faktor-faktor tersebut meÂmangkas penjualan perusahaan semen.
Menurut dia, mayoritas peÂrusahaan semen di Indonesia memfokuskan pada penjualan semen kantong. Dan, semen ini biasanya banyak diserap oleh sektor properti. "Kalau proyek properti sebagai pelanggan kita menahan daya beli maka haraÂpan ada pada proyek infrastrukÂtur," ujarnya.
Proyek infrastruktur pemerintah menjadi tumpuan para perusahaan semen di Tanah Air. Jika bisa berkolaborasi sesuai harapan bukan tidak mungkin pertumbuhan industri semen bisa naik mencapai 3 persen.
"Kita lihat ritelnya berhenti, propertinya berhenti. Kita berÂgantung ke infrastruktur, ritelÂnya enggak jalan. Full year growth industri semen 3 persen," ujarnya.
Menurut Rizkan, pertumbuÂhan industri semen tahun ini masih sulit untuk kembali kuat. Tidak adanya insentif dan turunÂnya harga jadi masalah yang harus dibenahi. "Rebound itu kan kepercayaan. Insentifnya apa?," cetusnya.
Anjloknya harga, diakui dia, menggerus laba perusahaan semen. Padahal dari sisi produksi dan penjualan relatif tidak ada masalah berarti. "Coba cari mana perusahaan yang naik? Target laba perusahaanÂnya, sekarang kami cuma bisa usahakan enggak turun tahun ini," pungkas Rizkan.
Sekretaris Perusahaan PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) Zulfikri Subli mengakui, inÂdustri semen memang sedang menghadapi tantangan. Dalam kondisi ini perusahaan dituntut melahirkan strategi disamping menaruh harapan pada pemerintah. Strategi yang digunakan perseroan dengan fokus pada daerah yang butuh pasokan seÂmen seperti Sumatera, artinya perusahaan pilih main aman.
Menurut dia, bisnis semen perÂseroan masih besar dari empat daerah, yakni Sumatra Selatan, Lampung, Jambi dan Bengkulu. Taksiran Semen Baturaja, kebuÂtuhan semen keempat daerah itu bisa mencapai 5 juta-5,5 juta ton semen tahun ini.
Dari strategi itu juga perusaÂhaan mampu meraup pendapatan Rp 327 miliar. "Kami targetkan penjualan bisa 2 juta ton tahun ini," tukas Zulfikri. ***