Berita

Jokowi-Gatot/net

Politik

Relasi Militer-Sipil

JUMAT, 26 MEI 2017 | 20:09 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

PRINSIP "Supremasi Sipil" atas militer adalah fenomena dunia. Amerika selalu jadi rujukan civilian democracy. Namun, Tiongkok juga adopsi prinsip supremasi sipil tersebut.

Di Tiongkok, tidak pernah ada tentara jadi presiden. Mao Zedong, Liu Xiao Qi, Deng Xiao Ping, Jiang Zemin, Hu Jin Tao dan Xi Jin Ping adalah sipil. Kepemimpinan sipil ini adalah legacy dari Mao Zedong's classic wisdom: "Political power grows out of the barrel of the gun. The party must always control the gun, the gun must never control the party”.

Dari sini, istilah "party army" tercipta. Konsep perangnya bernama "people's war". Tentaranya disebut People's Liberation Army atau Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).


Jadi, klik ngaco sok American centris keliru bila mengira supremasi sipil adalah praktek negara demokrasi an sich.

Justeru, Amerika tidak pernah alergi terhadap militer. Supremasi sipil atas militer di Amerika, begitu juga di Tiongkok, tidak pernah berarti mengerdilkan peran militer dalam politik (apalagi pertahanan) seperti anasir penghasut berkedok LSM di Indonesia.

Amerika memang sukses memegang prinsip civilian democracy. Kendali sipil atas militernya kuat.

Militer sepenuhnya netral, jenderal profesional, small size standing army in peace time, subordinasi militer, penerimaan militer atas regulasi dan unwritten norms merupakan kunci sukses supremasi sipil Amerika.

Namun, partisipasi para jenderal dalam politik Amerika sama sekali tidak dianggap sebagai sesuatu yang "un-American" atau unconstitutional.

Sebaliknya, sejarah Amerika adalah sejarah mengenai relasi militer-civil, antara prajurit dan politik. Relasi ini diterima dan di-encouraged.

Pola pikir NGO liberal anti militer bersumber pada rasa takut para pendiri Amerika terhadap "British Sanding Army". The American's Declaration of Independence adalah ekspresi melawan King George III. Karena Sang Raja “kept among us, in times of peace, standing armies without the consent of our legislature.”

Yang enggak diketahui orang-orang macam Al Araf adalah publik sipil Amerika sangat menghormati jenderal-jenderal mereka.

Sejak awal, Amerika punya presiden George Washington, "commander of the Continental Army in the American Revolution."

Kabinet Washington diisi sejumlah veteran perang seperti Henry Knox, Edmund
Randolph, Timothy Pickering, dan Alexander Hamilton.

Jadi, apa salahnya Jenderal Gatot Nurmantyo diundang dan datang ke acara Partai Golkar.

Tudingan Impartial atas Jenderal Gatot Nurmantyo bersifat serangan pribadi. Tidak profesional. Subjektif. Mengada-ada. Punya motif tidak baik.

Bagi saya, ini relasi civil-militer. Dan ini soal biasa. Jejak relasi civil-militer bisa ditelusuri dalam naskah Sun Tzu dan Carl von Clausewitz. Keduanya juga bilang organisasi militer adalah pelayan negara (servants of the state).

Seorang Panglima seperti Jenderal Gatot Nurmantyo pasti paham ini. TNI bukan "party army" Golkar seperti konsep Maoist.

TNI adalah salah satu institusi militer terbaik di dunia. Militer Indonesia, berkat Suharto's legacy, tidak pernah kudeta. Ngga seperti militer di Dahomey, Togo, Congo dan Uganda. Di Bolivia, tercatat 189x kudeta militer selama 169 tahun eksistensinya sebagai negara. Politik Thailand dan Philiphina berkali-kali diwarnai kudeta militer.

Kelompok pro supremasi sipil keblinger mesti menyadari bahwa militer dan sipil adalah "two distinct worlds and that they were fundamentally different from one another". Kalo belum paham, baca lagi bukunya James Burk:  "Theories of Democratic Civil-Military Relations".

Ada batasan jelas agar supremasi sipil bisa dipertahankan. Yaitu, jangan terlalu jauh mengobok-obok militer. Sipil aktifis NGO hanya mengerti "dunia militer" dari permukaan saja.

Sebelum menghasut presiden supaya pecat Jenderal Gatot Nurmantyo, ada baiknya, mereka belajar lagi teori Soldier and the State (Samuel P. Huntington) dan The Professional Soldiers-nya Morris Janowitz.

Tanpa tahu military world, hasutan mereka akan picu backlash. Sipil jangan terlalu menekan TNI dengan segala macam jargon. Apa lagi sampe mendeskreditkan Panglima TNI. "Too much control over the military could result in a force too weak to defend the nation, resulting in failure on the battlefield. Too little control would create the possibility of a coup, i.e., failure of the government."

Era reformasi telah memungkinkan kontrol sipil atas militer. TNI sudah kembali ke barak. Perannya dalam politik praktis bersifat minimal.

Usaha obok-obok TNI dengan kedok "mengendalikan TNI" bisa dicurigai sebagai manuver memperlemah TNI. Thus, memperlemah pertahanan negara. Foreign powers, ekstrim kiri-kanan, setan gundul dan OPM tentu gembira bila TNI lemah.

LSM terbukti sukses berperan sebagai proxy foreign power menumbangkan Rezim Suharto dan menyingkirkan ABRI dari politik negara. Menurut Fadli Zon, sejak tahun 1995, USAID mengucurkan US$ 26 juta kepada 30 LSM untuk menjatuhkan Presiden Suharto. Michael Camdessus berkata, "We created the conditions that obliged President Suharto to leave his job". Jatuhnya Suharto sama artinya menyingkirkan ABRI.

Bagi saya, menyingkirkan Jenderal Gatot Nurmantyo sama saja berarti memperlemah TNI. Dan itu tidak bisa dibiarkan.[***]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya