Berita

Tommy Arthur/The Guardian

Dunia

Tujuh Kali Lolos Dari Maut, Pembunuh Bayaran Ini Akhirnya Disuntik Mati

JUMAT, 26 MEI 2017 | 17:34 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Otoritas keamanan Alabama mengeksekusi mati Tommy Arthur, seorang tahanan yang berhasil lolos dari tujuh eksekusi sebelumnya karena keyakinannya dalam pembunuhan berencana tahun 1982.

Arthur, 75, dinyatakan meninggal dini hari tadi (Jumat, 26/5) di sebuah penjara di barat daya Alabama setelah suntikan mematikan.

Menurut pihak berwenang, ia dihukum karena membunuh seorang insinyur ranjau Troy Wicker, yang ditembak mati saat ia tidur di tempat tidurnya di kota Muscle Shoals, Alabama utara.


Istri Wicker, Judy, pada awalnya mengatakan kepada polisi bahwa dia pulang dan diperkosa oleh seorang pria kulit hitam yang menembak dan membunuh suaminya.

Namun setelah penyelidikan lebih lanjut, ia mengubah ceritanya dan bersaksi bahwa dia telah mendiskusikan pembunuhan suaminya dengan Arthur, yang datang ke rumah dengan riasan dan wig bergaya Afro dan menembak suaminya.

Sang istri mengatakan bahwa ia membayar Arthur 10.000 dolar AS.

Dua putusan pertamanya dalam kasus Wicker dibatalkan, tapi yang ketiga tidak. Arthur meminta hakim untuk memberinya hukuman mati. Keputusan itu strategis, katanya, untuk membuka lebih banyak jalan banding.

Negara menetapkan tujuh tanggal eksekusi untuk Arthur antara tahun 2001 dan 2016. Semua ditunda karena tim hukum pro bono yang melawan hukumannya.

Pada tahun 2016, Arthur bahkan sempat amat dekat dengan kamar kematian.

"Kami sedang bersiap untuk masuk ke ruangan dan mereka akan meletakkan jarum di tanganku," katanya, ketika Mahkamah Agung AS memberinya penangguhan hukuman yang tak terduga beberapa saat sebelum surat perintah kematian tersebut berakhir.

Jaksa Agung negara bagian mengatakan Arthur menggunakan proses pengadilan terus-menerus untuk menghindari hukumannya selama bertahun-tahun.

"Kasus Thomas Arthur adalah contoh mengerikan tentang bagaimana pembunuh yang dihukum dapat memanipulasi sistem hukum untuk menghindari keadilan," kata Jaksa Agung Steve Marshall baru-baru ini seperti dimuat The Guardian. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya