Berita

Ilustrasi/Net

Politik

MAKRIFAT PAGI

Puasa Gugur Dan Subur

JUMAT, 26 MEI 2017 | 08:55 WIB | OLEH: YUDI LATIF

SAUDARAKU, bulan puasa datang berulang, mengajak kita jeda kerutinan. Ibarat musim gugur memberi pepohonan saat meranggas. Dedaunan jatuh luruh, gugur-tafakur, pulang ke akar, menyuburkan kehidupan.

Sesungguhnya bejana kehidupan yang penuh jemu susah menerima pengisian. Perut yang terus-terusan kenyang jadi biang penyakit. Hati yang mengejuju jenuh jadi perigi depresi. Organ yang tunak bergerak jadi mudah lapuk.

Manusia memerlukan jeda pengosongan, penyegaran, pengasoan. Sela puasa menjadi momen hibernasi untuk memulihkan kesehatan jasmani-rohani. Sedemikian vitalnya, hingga Tuhan pun mengajak seluruh manusia melakukannya; menghargainya sebagai kado spesial buat-Nya.


Maksud puasa mengurangi kepenuhan perut, janganlah diisi gairah konsumsi dengan ritual melambung harga-harga. Maksud puasa melepas tekanan hati, janganlah disesaki asap pergunjingan dan permusuhan. Maksud puasa mengistirahatkan organ tubuh, jangan ditambah beban pencernaan.

Pengurangan konsumsi bisa menurunkan kolesterol jahat dalam tubuh; berbagi gizi-kenikmatan pada sesama. Pengosongan perut bisa mengistirahatkan pencernaan; memberi efek detoksifikasi dan peremajaan sel-sel otak. Pelepasan tekanan hati, lewat zikir dan aneka ibadah, membebaskan jiwa dan penjara rutinitas masalah.

Dengan mengendalikan diri dari gravitasi syahwat bumi, roh manusia bisa mikraj ke langit tertinggi. Dengan melesat ke langit suci, mental manusia terbang dari kesadaran personal menuju transpersonal; dari kesadaran keseharian, menuju kesadaran terluhur.

Dengan puasa sejati, derajat manusia ditinggikan melampaui nilai kebendaan-kekuasaan. Bahwa nafsu menimbun harta, memperluas pengaruh, dan eksploitasi pengetahuan telah melalaikan manusia hingga membiarkan dirinya menjadi faktor produksi, budak kekuasaan, dan alat percobaan. Dalam perbudakan nafsu, agama yang mestinya pengemban misi keadilan, cinta kasih, dan kewarasan justru acap kali menjadi penasbih atau setidaknya membiarkan kezaliman, permusuhan, dan pembodohan.

Di manakah misi penyempurnaan akhlak jika agama hanya dijadikan kemasan pemasaran, pangkal pertikaian, dan dalih kekuasaan? Bukankah suatu ironi yang memilukan bahwa aktor utama dari "komedi omong" ini sering kali para pemuka agama sendiri? Di masa sulit ketika orang kecil menjerit, pemuka agama "menjual" ayat untuk menidurkan keresahan lantas memberi teladan akhlak dengan pamer kemewahan.

Agama pun tak henti dijadikan sengketa interpretasi dalam persaingan pendakuan kebenaran, sebagai amunisi dalam perebutan kuasa. Prinsip kerelaan dalam organisasi masyarakat sipil-keagamaan pun dirobohkan oleh politik uang dan godaan kekuasaan. Umat sekadar diperuntukkan bagi hasrat kuasa, bukan kekuasaan diperuntukkan bagi perbaikan kehidupan umat.

Sedemikian rupa sehingga kita tak sempat menyaksikan perwujudan lain dari gairah keagamaan selain dari sekadar "budak nafsu". Jika agama sebagai landasan kritik terhadap berhala dan korupsi kebendaan, kekuasaan, dan pengetahuan telah menjadi fosil; sementara sumur moralitas lain pun mengering; bagaimana bisa yakin bahwa segala percobaan reformasi politik bisa berhasil tanpa basis etis yang menopangnya.

Epos demokrasi selama era Reformasi memperlihatkan, betapa politik sebagai teknik mengalami kemajuan, tetapi politik sebagai etik mengalami kemunduran. Etik dan politik bak minyak dengan air yang tak bisa dipersatukan. Elite politik lebih mengedepankan syahwat kepentingannya ketimbang kemaslahatan umum. Akrobat demi akrobat politik yang dipertunjukkan penguasa semakin jelas menunjukkan kebangkrutan moral kepemimpinan.

Politik tanpa landasan etik bak bahtera yang berlayar tanpa kompas. Rezim silih berganti, janji-janji digoreng dengan kecap nomor satu, sumber daya terkuras dengan utang luar negeri yang terus membubung. Ada banyak gerak-gerik sekadar untuk gerak di tempat. Kita seakan melaju ke depan, untuk tersesat di banyak tikungan, yang membuat kita kembali ke titik awal.

Jeda Ramadhan memberi momen refleksi diri, memulihkan tenaga rohani untuk membakar benalu yang mengerdilkan moralitas. Ramadhan memberi kesadaran bahwa hasrat menimbun dan berkuasa tak pernah ada puasnya kecuali dengan puasa. Pengendalian dirilah akar tunjang pengendalian sosial. Adapun puasa bak kawah candradimuka pelatihan kendali diri.

Sekiranya semua warga mampu berpuasa sungguhan, gumpalan lemak yang berlebih di satu kelompok bisa disalurkan menjadi energi hidup bagi kelompok lain, tidak menjadi kolesterol keserakahan yang memicu kelumpuhan sosial. Seperti dedaunan yang jatuh di musim gugur bisa memupuk rerumputan di bawah dan sekitarnya. Sesekali kita pun perlu meranggas; membiarkan keakuan terbakar, tersungkur sujud; menginsafi kefanaan yang menerbitkan hasrat untuk berbagi, membuka diri penuh cinta untuk yang lain. [***]

Penulis adalah cendekiawan, pemikir Islam dan kenegaraan.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya