Sebuah RUU yang disahkan oleh anggota Partai Republik AS diperkirakan akan menyebabkan 23 juta orang kehilangan cakupan layanan kesehatan pada tahun 2026 mendatang,
Di sisi lain, RUU akan menstabilkan pasar asuransi kesehatan di beberapa negara bagian dan membuat orang sakit sulit membeli asuransi.
Begitu hasil pengamatan badan pengawas anggaran dari Kantor Anggaran Kongres (CBO), sekelompok pakar non-partisan yang menganalisis undang-undang AS.
Pada Rabu (24/5) mereka mengatakan bahwa undang-undang tersebut akan mengurangi defisit federal sebesar 119 miliar dolar AS antara tahun 2017 dan 2026.
Laporan tersebut dapat memberi amunisi tambahan kepada Demokrat yang telah menuduh Presiden Donald Trump dan anggota Partai Kongres menempatkan orang-orang yang sakit dan berpenghasilan rendah yang berisiko dengan usaha mereka untuk mengembalikan undang-undang kesehatan tanda tangan mantan Presiden Barack Obama yang resmi, yang secara formal dikenal sebagai Affordable Care Act namun Sering disebut Obamacare.
Partai Republik telah berusaha untuk membongkar Obamacare dengan mengatakan bahwa hal itu terlalu mahal dan merupakan penjangkauan pemerintah di pasar layanan kesehatan.
Namun laporan CBO mengatakan amandemen tersebut akan membuat sulit atau tidak mungkin bagi orang-orang yang memiliki kesehatan buruk untuk membeli cakupan komprehensif di beberapa negara bagian.
"Orang-orang yang kurang sehat, termasuk mereka yang memiliki kondisi medis yang sudah ada atau yang baru diakuisisi, pada akhirnya tidak dapat membeli asuransi kesehatan non-kelompok komprehensif dengan premi yang setara dengan mereka yang berada di bawah undang-undang saat ini, jika mereka dapat membelinya sama sekali," begitu bunyi laporan CBO seperti dimuat
Reuters.
CBO mengatakan bahwa pasar bagi orang-orang untuk membeli paket asuransi individu kemudian dapat menjadi tidak stabil di negara bagian yang memilih untuk membebaskan persyaratan Obamacare untuk cakupan kondisi medis yang sudah ada dan manfaat kesehatan yang penting.
[mel]