Berita

Obamacare/Net

Dunia

Di Bawah RUU Pengganti Obamacare, 23 Juta Orang Berpotensi Kehilangan Asuransi Kesehatan

KAMIS, 25 MEI 2017 | 18:45 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sebuah RUU yang disahkan oleh anggota Partai Republik AS diperkirakan akan menyebabkan 23 juta orang kehilangan cakupan layanan kesehatan pada tahun 2026 mendatang,

Di sisi lain, RUU akan menstabilkan pasar asuransi kesehatan di beberapa negara bagian dan membuat orang sakit sulit membeli asuransi.

Begitu hasil pengamatan badan pengawas anggaran dari Kantor Anggaran Kongres (CBO), sekelompok pakar non-partisan yang menganalisis undang-undang AS.


Pada Rabu (24/5) mereka mengatakan bahwa undang-undang tersebut akan mengurangi defisit federal sebesar 119 miliar dolar AS antara tahun 2017 dan 2026.

Laporan tersebut dapat memberi amunisi tambahan kepada Demokrat yang telah menuduh Presiden Donald Trump dan anggota Partai Kongres menempatkan orang-orang yang sakit dan berpenghasilan rendah yang berisiko dengan usaha mereka untuk mengembalikan undang-undang kesehatan tanda tangan mantan Presiden Barack Obama yang resmi, yang secara formal dikenal sebagai Affordable Care Act namun Sering disebut Obamacare.

Partai Republik telah berusaha untuk membongkar Obamacare dengan mengatakan bahwa hal itu terlalu mahal dan merupakan penjangkauan pemerintah di pasar layanan kesehatan.

Namun laporan CBO mengatakan amandemen tersebut akan membuat sulit atau tidak mungkin bagi orang-orang yang memiliki kesehatan buruk untuk membeli cakupan komprehensif di beberapa negara bagian.
 
"Orang-orang yang kurang sehat, termasuk mereka yang memiliki kondisi medis yang sudah ada atau yang baru diakuisisi, pada akhirnya tidak dapat membeli asuransi kesehatan non-kelompok komprehensif dengan premi yang setara dengan mereka yang berada di bawah undang-undang saat ini, jika mereka dapat membelinya sama sekali," begitu bunyi laporan CBO seperti dimuat Reuters.

CBO mengatakan bahwa pasar bagi orang-orang untuk membeli paket asuransi individu kemudian dapat menjadi tidak stabil di negara bagian yang memilih untuk membebaskan persyaratan Obamacare untuk cakupan kondisi medis yang sudah ada dan manfaat kesehatan yang penting. [mel]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Sekjen MPR akan Evaluasi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:17

UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:12

40 Ormas Tolak Berkas Kasus Ade Armando Cs Dilimpahkan ke Polda Metro

Senin, 11 Mei 2026 | 18:10

Bos PSI Jatim Bagus Panuntun "Puasa Bicara" Setelah 10 Jam Digarap KPK

Senin, 11 Mei 2026 | 18:09

MPR Minta Maaf soal Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bikin Gaduh

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

PTC Bukukan Laba Rp152,9 Miliar di Tengah Fluktuasi Industri

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

Warga Sitaro Minta Proses Hukum Bupati Chyntia Kalangin Berjalan Adil

Senin, 11 Mei 2026 | 17:42

Bus Terguling di Tol Sergai, Empat Penumpang Tewas

Senin, 11 Mei 2026 | 17:33

Keberanian Siswi Koreksi Juri LCC Patut Diapresiasi

Senin, 11 Mei 2026 | 17:17

Bank Mandiri Pertegas Komitmen Akselerasi UMKM Naik Kelas di Ajang Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 17:14

Selengkapnya