Berita

Akbar Tandjung/net

Politik

Akbar Tandjung: Golkar Harus Ikut Perkuat KPK

SELASA, 23 MEI 2017 | 15:34 WIB | LAPORAN:

Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, Akbar Tandjung, menyarankan partainya ikut memperkuat lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia mengusulkan penguatan KPK masuk dalam agenda Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2017 yang masih berlangsung.

Akbar ingatkan, penegakan hukum dan pemberantasan korupsi sebagai salah satu agenda reformasi. Golkar sebagai partai yang berkomitmen dalam reformasi sudah selayaknya mendukung KPK. Apalagi, KPK merupakan salah satu lembaga negara yang berdiri setelah reformasi 1998.

"Kita harus memperlihatkan konsistensi kita terhadap sikap, dukungan kepada pemberantasan korupsi, dengan memberikan dukungan penuh kepada lembaga yang telah ditugaskan untuk melakukan pemberantasan korupsi yaitu KPK," ujar Akbar di tengah Rapimnas Partai Golkar di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (23/5).


Akbar menambahkan, keberadaan KPK adalah bukti yang menjamin Indonesia serius dalam pemberantasan korupsi. Akbar ingin Partai Golkar memberi porsi perhatian lebih besar kepada KPK.

"Jadi itu yang memperlihatkan bahwa partai kita adalah partai yang juga aktif dalam terciptanya pemerintahaan yang bersih, pemerintahan yang kuat, pemerintahan yang berwibawa. Itu yang saya sampaikan dalam kesempatan penting ini," tutup Akbar.

Terkait pernyataan Akbar itu, ada situasi menarik di internal Fraksi Partai Golkar DPR RI. Fraksi beringin mencabut surat yang ditandatangani Sekretaris Fraksi, Agus Gumiwang Kartasasmita, yang berisi pernyataan tidak akan mengirim nama anggota ke Pansus Hak Angket KPK.

Surat itu dicabut menyusul penetapan Robert Kardinal sebagai Ketua Fraksi baru menggantikan Kahar Muzakir. Robert mengklaim fraksinya masih melakukan rapat internal terkait anggota yang akan dikirimkan ke panitia angket.

"Jadi kita masih rapat, karena ini harus kolektif kolegial. Sekarang belum ada rapat karena masih di Dapil semua," ujarnya di Kantor DPP Partai Golkar, Selasa lalu (16/5). [ald]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya