Berita

Pansus Pemilu/net

Politik

Pengaturan Media Sosial Masuk UU Pemilu Tanda Parpol Dan Penguasa Sedang Paranoid

SENIN, 22 MEI 2017 | 15:38 WIB | LAPORAN:

Wacana pengaturan media sosial (medsos) yang akan dimasukan ke dalam UU Pemilu lewat pansus pemilu DPR RI jelas merupakan bentuk pengekangan terhadap masyarakat sipil yang ingin berpartisipasi dalam proses pemilu.

"Itu tanda pemerintah dan DPR mau membungkam suara-suara kritis masyarakat. Juga menunjukkan paranoid politik partai-partai besar yang sedang berkuasa,"ungkap Wakil Sekjend Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indoneia, Girindra Sandino melalui keterangan pers kepada redaksi, Senin (22/5).

Menurut Girindra, DPR RI harus hati-hati jika ingin mengatur partisipasi masyarakat yang tersalur melalui wadah atau sarana apapun. Pasalnya hal tersebut kata dia merupakan bentuk kemunduran demokrasi dan memberhangus kekuatan sipil dalam mengawasi proses kontestasi demokrasi.


Tak hanya itu, usulan DPR soal rekap yang membypass atau memotong jalur dari TPS langsung ke KPU kabupaten/kota kata Girindra sangat berbahaya.

"Ini juga dapat membabat partisipasi masyarakat. Kemudian jika terjadi sesuatu tidak ada saksi berlapis,"kata Girindra.

Selain itu, pemotongan rekap tersebut dapat memboroskan anggaran karena nantinya akan banyak petugas pemilu otomatis tidak dapat bekerja atau nganggur. Mekanismenya juga kata Girindra belum jelas.

KPU kabupaten/kota kata Girindra pasti kewalahan dan rawan gugatan. Partai seharusnya membaca hal itu karena esensi dari pemilu adalah adanya partisipasi masyarakat, dan ketika proses rekap di potong maka hal itu dapat mendegradasi konsolidasi demokrasi di bawah.

"Sangat berbahaya. Apalagi pemilu  serentak nanti akan ada banyak kotak pileg, plus kotak suara pilpres. Terbaca sekali bahwa parpol hanya ingin mendulang suara dan menang tanpa memperhatikan hal-hal subtantif dari proses demokrasi dan pendidikan politik dari kontestasi demokrasi yang wajib melibatkan rakyat,"demikian Girindra.[san]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya