Berita

Politik

Anti TNI Dan Ulama, Hendardi Disebut Makelar Kasus

MINGGU, 21 MEI 2017 | 11:59 WIB | LAPORAN:

Ketua Setara Institute Hendardi dinilai tendensius dan gagal paham terkait polemik seputar kasus teror dan kriminalisasi ulama yang berpeluang dibawa ke mekanisme internasional.

Menurut Ketua Progres 98 Faizal Assegaf, Hendardi lupa bahwa ihwal penyampaian aduan kepada Dewan HAM Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) merupakan refleksi protes secara politik maupun hukum yang lazim disuarakan oleh elemen sipil.

"Tujuannya untuk mengkampanyekan ketidakpercayaan umat Islam atas perilaku semena-mena rezim Jokowi dan aparat Polri. Intinya pendekatan protes melalui jalur dan mekanisme internasional merupakan langkah tepat dan sangat mendesak dilakukan," jelasnya di Jakarta, Minggu (21/5).


Faizal mengatakan bahwa tidak mutlak pengaduan disampaikan kepada Dewan HAM PBB. Namun, lebih berpeluang disalurkan pada Organisasi Konferensi Islam (OKI)) yang memiliki konsensus atas perlindungan hak-hak ulama. Mengingat kasus kriminalisasi ulama adalah masalah sensitif dan telah menimbulkan sorotan serius dari negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI. Dukungan OKI berpeluang membuka akses jaringan intelijen dan lembaga investigasi independen guna membongkar motif serta para aktor kriminalisasi.

Perilaku rezim Jokowi makin otoriter terhadap ulama dan tokoh-tokoh Islam. Jika dibiarkan, dikhawatirkan akan memicu konflik sebagaimana yang terjadi di Suriah. Potensi ke arah itu yang harus diantisipasi agar Indonesia tidak terjebak dalam konflik Sara yang dapat mengancam kedamaian dan persatuan nasional.

"Tapi lucunya Hendardi dan kelompok liberal terkesan panik, dan seolah menjadi juru bicara Istana untuk menghalangi upaya ulama mencari keadilan. Sebaliknya di sisi lain, Hendardi paling getol menyudutkan TNI serta gencar menyerang ulama kritis yang berseberangan dengan rezim Jokowi," ujar Faizal.

Dia menyebut Hendardi melakukan modus politik yang bertujuan mengais untung lewat politik transaksional, berperilaku hipokrit, belum lepas dari tabiat makelar kasus, dan sangat memalukan.

"Ngaku pejuang HAM kok justru bertindak diskriminasi. Rajin mendesak pencopotan panglima TNI dan ikut melegitimasi kejahatan kriminalisasi ulama, ngawur," pungkas Faizal. [wah] 

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya