Berita

Ade Komarudin/RMOL

Politik

Kecurigaan Dan Permusuhan Di Masyarakat Makin Tinggi, Akom Salahkan Pilkada Jakarta

SABTU, 20 MEI 2017 | 19:10 WIB | LAPORAN:

Ketua Umum Depinas Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), Ade Komarudin (Akom) angkat bicara soal kebhinekaan yang akhir-akhir ini seakan kembali terusik. Dia menyesalkan ada segelintir pihak yang justru terjebak pada fanatisme suku, agama dan ras (SARA) yang membabi buta.

Padahal menurutnya, ketegangan terkait SARA seyogyanya sudah selesai sejak lama, yakni sejak para pendahulu bangsa bersama-sama berikrar menjadi satu bangsa yang bersatu, berlandasakan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

"Koeksistensian kita sebagai entitas yang beragam, baik sebagai etnis yang berbeda khususnya China vs Pribumi, Suku Jawa dan luar Jawa, agama utamanya Islam vs Kristen, dan warna kulit Putih vs sawo matang, kembali diusik," sesal Akom yang disampaikannya saat orasi kebangsaan dalam perayaan HUT ke 57 Soksi di Menara Citicon, Jakarta Barat, Sabtu (20/5).


Suka tidak suka, imbuh Akom, harus diakui, ketegangan yang akhir-akhir ini muncul akibat Pilkada sebagai pemicunya, tepatnya Pilkada DKI, yang mengangkat isu SARA. Dimana menurutnya, bendungan toleransi justru dibobol oleh lisan atau perkataan yang kurang terjaga serta kontestasi politik yang menghalalkan segala cara, utamanya dengan membentuk polarisasi di akar rumput yang tidak produktif.

"Sangat disayangkan, seharusnya ini tidak terjadi. Seakan-akan identitas kita sebagai bangsa yang terkenal tepo seliro serta santun dan berdampingan, menjadi tercemar oleh politik elektoral yang meracuni sumber-sumber terbinanya ladang-ladang toleransi itu. Ini seharusnya tidak terjadi," sesal Ketua DPR RI ke-VII itu.

Akom menegaskan bahwa seharusnya hal semacam itu tidak terjadi. Pasalnya, sebagai bangsa, persoalan ini seyogyanya sudah selesai sejak lama. Dari Sumpah Pemuda hingga amandemen UUD’45, bangsa ini sudah mengakomodir seluruh hak dan kewajiban semua etnis, suku, agama dan warna kulit.

"Kita tidak pernah merasakan perlunya memperuncing perbedaan-perbedaan itu. Perbedaan adalah Sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Kita tidak perlu memperuncing perbedaan-perbedaan itu," tegasnya.

Sebab, tambah Akom, selama hubungan antar sesama anak bangsa yang sangat beranekaragam ini ditentukan oleh perbedaan-perbedaan, maka itu berarti kita akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian ketimbang perdamaian, serta memperkuat mereka yang mempromosikan konflik ketimbang kerjasama yang dapat membantu rakyat mencapai keadilan dan kemakmuran.

"lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus diakhiri!," seru Akom.

Untuk mengakhiri lingkaran kecurigaan dan permusuhan itu, lanjut Akom, SOKSI mendorong terbentuknya sebuah undang-undang untuk menjamin terwujudnya kelestarian nilai-nilai Pancasila. Dijelaskannya dari undang-undang tersebut, dimungkinkan berdirinya sebuah independent state body yang bertugas khusus untuk mengkaji, merencanakan, melaksanakan dan bertanggung jawab terhadap lestarinya nilai-nilai Pancasila di tengah-tengah masyarakat.

"Urusan melestarikan nilai-nilai Pancasila ini tidak cukup diberikan hanya kepada sebuah unit di bawah pemerintah, seperti BP7 di masa lampau. Konrkitnya, kita akan mendorong terbentuknya Komisi Pelestarian Nilai-nilai Pancasila, layaknya Komnas HAM terhadap penegakan HAM, KPK terhadap pemberantasan korupsi, dan sejenisnya,"demikian Akom.[san]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya