Berita

Foto/RMOL

Politik

Tiga Nilai Praktek Islam Dalam Makna Berpolitik

SABTU, 20 MEI 2017 | 14:42 WIB | LAPORAN:

Ada tiga values atau nilai dalam praktek keislaman. Konsep tersebut dipaparkan politisi Ferry Mursyidan Baldan dalam seminar "Politik Dalam Islam" Membangun Ghirah Politik Umat Islam Dalam Rangka Memperteguh Persatuan Nasional di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (20/5).

"Pertama konsep masjid. Masjid bukan semata sebagai ibadah atau sekadar ritual keagamaan. Tapi, mengantar kita ke pemahaman pengalaman batin yang luar biasa dengan sang pencipta," kata mantan Menteri Agraria itu.

Artinya, urai Ferry, ketika jiwa kosong, sebaiknya jangan berpolitik. Sehingga, ketika ada orang tidak taat terhadap agamanya, sebaiknya jangan dipercaya. "Apalagi yang mempolitisi agamanya," tambah Ketua Umum PB HMI 1990-1992 itu.


Lalu, konsep kedua, makna salat berjamaah mengandung dua hikmah. Khususnya, terkait kepemimpinan dan loyalitas. Dalam perspektif diri, menurut Ferry diajarkan soal kepemimpinan dan kemampuan.

"Saat salat berjamaah, masih ada faktor kepatutan dan kepantasan. Ada yang lebih senior atau lebih sepuh, pasti dipersilakan jadi imam. Tapi, ketika ada kesalahan dalam salat, bisa ucap subhanallah, untuk koreksi.

Baca Al Fatihah, kita (makmum) juga hafal, tapi tidak boleh sama kerasnya dengan imam, itu pelajaran loyalitas. "Itu cara kita memaknai berpolitik dalam ibadah," paparnya.

Sedangkan yang ketiga, Ferry menjabarkan terkait konsep zakat. Dalam Islam, zakat dapat diartikan mengeluarkan atau membersihkan apa yang bukan dari kita. Sehingga, tidak ada istilah korupsi atau mengambil hak orang lain.

"Milik dia saja harus dikeluarkan, karena itu bukan punya anda. Kenapa koruptor banyak yang taat beragama, itu tidak dibenarkan. Mengambil yang bukan hak tidak diajarkan. Kalau ada banyak koruptor dari kalangan Islam, karena mayoritas penduduk umat islam," pungkasnya.

Hadir juga dalam seminar tersebut, ulama sekaligus Gubernur NTB Muhammad Zainul Madji alias Tuan Guru Bujang (TGB), Konsultan politik dan CEO Polmark Indonesia Eep Saifulloh Fatah, serta Kaprodi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Fuad Mahbub Siradj. [rus]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya