Berita

Politik

Takut Kena Bully, Nasdem Pikir-pikir Kirim Wakil Ke Pansus Angket KPK

SABTU, 20 MEI 2017 | 02:02 WIB | LAPORAN:

Awalnya, Nasdem menjadi salah satu fraksi di DPR yang begitu mantap mendorong hak angket bagi KPK. Tapi, kuatnya penolakan masyarakat selama ini membuat sikap Nasdem mulai goyah. Para anak buah Surya Paloh ini pun mulai berpikir dua kali untuk mengutus wakilnya di Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket KPK.

“Karena persepsi masyarakat (kami belum kirim wakil ke Pansus). Tahunya (masyarakat), hak angket ini bertujuan untuk melemahkan KPK,” kata Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem Johnny Plate di Gedung DPR, Senayan, Jumat (19/5).

Johnny mengakui, sejak awal, pihaknya memang setuju dengan hak angket KPK. Surya Paloh, sebagai ketua umum Nasdem, juga sudah memberikan izin untuk menggunakan hak itu. Sebab, tujuan hak angket itu adalah untuk memperbaiki kinerja KPK.


“Fraksi Nasdem ikut mengajukan Hak Angket bukan untuk melemahkan dan mencampuri proses hukum e-KTP. Tujuan kami adalah untuk untuk memperbaiki kinerja KPK,” sambung Johnny.

Namun, setelah melihat persepsi masyarakat yang berkembang selama ini, fraksinya pun jadi ragu-ragu. Makanya, sampai kemarin, Nasdem masih belum mengirimkan nama-nama kadernya untuk duduk di Pansus Hak Angket KPK. Nasdem memilih mengamati situasi politik yang berkembang lebih dulu.

Kata Johnny, mengirim perwakilan di Pansus hari ini, berarti harus siap dirisak alias di-bully masyarakat. Fraksi yang mengirim wakil di Pansus akan langsung dicap pro-koruptor. Namun, di sisi lain, jika tak mengirimkan wakil, pihaknya akan kehilangan kesempatan berdebat secara benar untuk kepentingan pemberantasan korupsi.
“Makanya, kami lihat lagi bagaimana proses politik berjalan dan bagaimana legitimasi angket,” jelasnya.

Selain itu, Nasdem juga menimbang masalah legalitas hak angket akan sebelum memutuskan mengirim atau tidak perwakilan dalam Pansus. Sebab, legalitas ini penting agar Pansus bisa bekerja sesuai dengan peraturan yang ada. Jika tidak, Pansus hanya menyebabkan kegaduhan politik.

Karena itu, pihaknya tidak akan buru-buru mengambil sikap.

“Lagi pula, semua (fraksi) juga belum (mengirimkan wakil ke Pansus). Kita tunggu saja, kita lihat perkembangan politiknya. Yang harus itu adalah legitimasi politiknya perlu ada. Kalau tak ada legitimasi politiknya percuma juga hak angket hanya membuat kegaduhan saja," tambah dia. [ian]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya