Berita

Foto/Net

Politik

Gerindra Jilat Ludah Sendiri

Kirim Anggota Ke Pansus Hak Angket KPK
JUMAT, 19 MEI 2017 | 09:51 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Saat pengesahan usulan Hak Angket KPK dalam Sidang Paripurna DPR, 28 April lalu, Fraksi Gerindra dengan keras menolak. Mereka sampai walk out. Namun, kini mereka mau mengirim wakil ke Panitia Khusus (Pansus) yang menggarap Hak Angket tersebut. Gara-gara sikap ini, Gerindra pun disindir telah menjilat ludah sendiri.

Kepastian Fraksi Gerindra akan mengirim wakilnya ke Pansus Hak Angket KPK dis­ampaikan para petinggi partai besutan Prabowo Subianto ini. Mereka antara lain Edhy Prabowo, Sodik Mudjahid, dan Muhammad Syafii. Namun begitu, mereka tetap ngotot men­egaskan, Gerindra menolak Hak Angket terhadap KPK.

"Kami mengirim nama untuk Pansus Angket KPK bukan berarti kita menyetujui. Sikap kami sudah jelas, Hak Angket ini har­us ditolak," ucap Edhy Prabowo di Gedung DPR, kemarin.


Kata Ketua Komisi IV DPR ini, proses pengesahan Hak Angket KPK sudah menyalahi prosedur. Sebab, sebelum penge­sahan itu, tidak ada komunikasi dan musyawarah yang dilakukan Ketua Sidang yang saat itu dipe­gang Fahri Hamzah. "(Sidang) Paripurna hanya berbicara tek-tok, kemudian keluar keputu­san," cetusnya.

Lalu, kenapa tetap mengirim­kan wakil? Edhy beralasan, wakil dari Gerindra nantinya bertugas mengawal Pansus agar tidak melemahkan KPK. Dia pun memastikan, anggota Gerindra di Pansus tidak akan ikut-ikutan menyudutkan KPK.

"Saya tegaskan lagi, sikap kami tetap menolak hak angket. Tetapi, kami juga bertanggung jawab untuk mengawal prosesnya agar tidak terjadi kekeliruan yang berlanjut," tandasnya.

Sebelumnya, Sodik Mudjahid menerangkan, keputusan itu diambil setelah pihaknya melakukan pengkajian menda­lam. Dalam pengkajian diketa­hui bahwa Pansus Hak Angket KPK akan terus berjalan walau­pun sejumlah fraksi berencana tidak mengirimkan anggotanya. "Dengan kondisi seperti ini, bisa jadi kerugian jika kami tidak kirim utusan," ucap Jubir Fraksi Gerindra ini.

Sodik memastikan, sikapnya tidak akan berubah. Gerindra akan tetap menolak Pansus itu berjalan. Pihaknya mau men­girimkan wakil semata-mata untuk menghindari kerugian yang lebih besar, yaitu mun­culnya keputusan-keputusan yang akan menyudutkan KPK. Dengan adanya wakil di Pansus, pihaknya akan berusaha mela­wan keinginan pihak lain untuk melemahkan KPK.

Kata Sodik, tugas wakil Gerindra di Pansus nanti adalah untuk melobi fraksi-fraksi lain untuk menghindari upaya pelemahan KPK. "Siapa tahu bisa memengaruhi dengan melobi."

Muhammad Syafii punya alasan lain. Kata Anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) ini, fraksinya mau mengirimkan wakil ke Pansus Hak Angket KPK semata-mata karena patuh kepada hukum Sidang Paripurna.

"Kami tegaskan, kami tidak pernah melawan hukum. Keputusan (Sidang) Paripurna adalah aturan hukum. Apa yang sudah diputuskan secara hukum, Gerindra pasti mematuhinya, jangan takut," ujar Syafii.

Kata Syafii, sebelumnya Gerindra memang menginginkan langkah lain di luar Hak Angket dalam upaya memperkuat KPK. Karena pengajuan Hak Angket KPK sudah diputuskan dalam Sidang Paripurna, Gerindra akan mematuhinya dan akan mengirimkan wakil untuk masuk Pansus Hak Angket tersebut. "Kebetulan salah satu yang diu­tus adalah saya," akunya.

Dia pun menyebut, penga­juan Hak Angket bukan untuk menghabisi KPK. Pengajuan itu adalah langkah DPR memperkuat independensi KPK. "Sekarang kan banyak yang menyimpang, penyadapan, OTT, ini ada apa. Kita takut remote control KPK tidak lagi ada di tangan komision­ernya. Maka, kita harus masuk memperbaiki, ada apa, dan harus bagaimana," tandasnya.

Namun, alasan-alasan ini tidak bisa diterima kalangan pemerha­ti. Analis politik dari Universitas Hasanuddin Adi Suryadi Culla menyebut, dengan sikap seperti itu, sama saja Gerindra telah menjilat ludah sendiri. "Ini kan mengkhianati keputusan awal dia yang walk out saat Sidang Paripurna. Jadi, dia jilat ludah sendiri," sindirnya. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya