Berita

Politik

Mukernas Syarikat Islam Fokus Soal Pendidikan Dan Kaderisasi

JUMAT, 19 MEI 2017 | 09:25 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Pimpinan Pusat Syarikat Islam menyelenggarakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I setelah dilaksanakannya Majelis Tahkim atau Kongres Nasional ke-40 yang mengukuhkan Hamdan Zoelva sebagai ketua umum.

Mukernas Syarikat Islam akan berlangsung di Gedung Diklat Mahkamah Konstitusi, Jalan Raya Puncak KM. 83, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, selama tiga hari, Jumat sampai Minggu (29-21/5).

Mukernas I kali ini diikuti oleh 350 peserta yang terdiri atas unsur Pimpinan Dewan Pusat, Majelis Syar'i, Pengurus PP, Dewan Wilayah, Pimpinan Wilayah. Di samping itu, terdapat peserta dari para tokoh Syarikat Islam dan beberapa pimpinan dewan dan pimpinan cabang tertentu yang menjadi peserta yang diundang oleh PP.


Sebagaimana keterangan kepada redaksi, pelaksanaan Mukernas Syarikat Islam merupakan perintah Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga Syarikat Islam (Pasal 30 AD dan Pasal 77 ART).

Kedudukan Mukernas Syarikat Islam sebagai forum pengambil keputusan tertinggi organisasi di bawah Kongres Nasional. Fungsinya adalah mengevaluasi sejauh mana keberhasilan, hambatan-hambatan dan ancaman apa saja yang dihadapi dalam melaksanakan amanah kaum yang dituangkan dalam keputusan-keputusan Kongres Nasional.

Meskipun Mukernas Syarikat Islam merupakan kegiatan internal organisasi yang bersifat rutin, namun demikian, kedudukan dan fungsi Mukernas demikian penting dan strategis bagi kemajuan organisasi Syarikat Islam sebagai organisasi pelopor perjuangan kebangsaan Indonesia dengan anggota-anggotanya (kaum Syarikat Islam) tersebar di seluruh wilayah Indonesia, maka masalah-masalah kebangsaan, juga menjadi perhatian.

Di antara agenda Mukernas ini adalah merumuskan revitalisasi pendidikan dan kaderisasi. Sejarah nasional Indonesia mengakui, kekuatan Syarikat Islam pada zaman pergerakan membangun nasionalisme Indonesia adalah melalui pendidikan formal dan non-formal.

Juga akan dibahas terkait dengan kemandirian di bidang politik (siyasah). Salah satu kebijakan kembali ke garis Azimut Syarikat Islam adalah melaksanakan asas kemerdekaan atau kemandirian di bidang politik yang telah ditetapkan oleh Syarikat Islam sejak tahun 1916 yang telah dikemukakan oleh HOS. Tjokroaminoto dalam pidatonya yang terkenal berjudul Zelf Bestuur. [rus]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Wall Street Merah Sambut Keputusan The Fed

Kamis, 30 Juli 2026 | 08:21

Piutang Pajak Tidak Tertagih Tembus Rp47,4 Triliun di Akhir 2025

Kamis, 30 Juli 2026 | 08:02

Perpres Baru Bakal Jadi Landasan Utama Tata Kelola Distribusi LPG 3 Kg

Kamis, 30 Juli 2026 | 07:45

AS Jatuhkan Sanksi Baru ke Jaringan IRGC di Selat Hormuz

Kamis, 30 Juli 2026 | 07:30

The Fed Tahan Suku Bunga di 3,5-3,75 Persen

Kamis, 30 Juli 2026 | 07:16

Bursa Eropa Melemah, Sektor Barang Mewah Seret Pergerakan Pasar

Kamis, 30 Juli 2026 | 06:59

AMG Jadi Rujukan Pemakaman Muslim Modern Pertama di Indonesia

Kamis, 30 Juli 2026 | 06:54

MUI Segera Bawa Naskah RUU Anti-LGSP ke DPR dan Pemerintah

Kamis, 30 Juli 2026 | 06:28

Pembakar Rumah Hakim PN Medan Divonis 6 Tahun Penjara

Kamis, 30 Juli 2026 | 06:13

Operator Jangan Bebankan Biaya Tambahan Pasca Putusan MK

Kamis, 30 Juli 2026 | 05:43

Selengkapnya