Berita

Ridwan Kamil/Net

Politik

"Kejaksaan Milik Nasdem" Ditonton 70.000 Orang

Pakar Pastikan Video Ridwan Kamil Asli
RABU, 17 MEI 2017 | 08:40 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Video Walikota Bandung Ridwan Kamil yang diberi judul "Nasdem punya Kejaksaan" benar-benar menghebohkan dan digunjingkan warga dunia maya. Seharian kemarin, video yang beredar di Youtube ini sudah ditonton lebih dari 70 ribu kali. Sementara itu, pakar telematika memastikan video ini asli, tak ada rekayasa sedikitpun.

Durasi video yang jadi perhatian warganet dan sempat viral itu pendek saja, hanya 2 menit 32 detik. Video ini diunggah pertama kali oleh akun D' Chanel di situs berbagi video Youtube pada Kamis (11/5) lalu. Judulnya cukup provokatif, "Pengakuan Mengejutkan Ridwan Kamil: Saya Terima Nasdem karena Punya Media dan Kejaksaan". Video ini kemudian dikloning dan diunggah ulang ke Youtube oleh akun Yogi Pratama sehari kemudian dengan judul yang kurang lebih sama.

Video itu menampilkan Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, tengah berbicara di depan hadirin. Emil menceritakan proses komunikasi politik dengan sejumlah partai untuk menjadi cagub. Ia mengaku sudah menemui PKS, Gerindra, PKB, PDIP dan Demokrat.


Namun komunikasi dengan partai-partai tersebut mandek. Dengan PKS tak bisa lanjut karena partai ini akan mengusung kader sendiri. Begitu pula dengan Gerindra. Emil belum klop lantaran diminta menjadi kader partai besutan Prabowo Subianto itu. Sementara di PDIP dan Demokrat, Emil masih diminta mendaftar, sembari menunggu keputusan Megawati dan SBY.

"Tiba-tiba Nasdem tak banyak mikir, di posisi yang sama itu, langsung mendeklarasikan (saya). Nasdem ini, dia punya media dan kejaksaan. Kalau saya tolak, kemungkinan banyak mudaratnya kepada saya, pembangunan kota Bandung terganggu," kata Emil dalam video itu.

Pada awalnya tak banyak yang menonton video tersebut. Sampai Senin (15/5) malam, atau empat hari setelah video itu diunggah, tercatat baru ditonton sebanyak 2.193 kali dengan 16 pengguna memberikan tanda jempol ke atas dan 12 lainnya memberikan tanda jempol ke bawah. Kolom komentar pun sepi. Hanya ada satu pengguna yang berkomen. Video di akun Yogi Pratama tak kalah sepinya. Sampai Senin malam, video ini ditonton tak lebih dari 500 kali.

Namun hanya dalam sehari, jumlah viewer di dua akun tersebut melonjak tajam. Kenaikan paling banyak ada di akun Yogi Pratama. Sampai tadi malam, video tersebut sudah ditonton sebanyak 73.434 kali. Kolom komentar pun diramaikan dengan perdebatan. Tercatat ada 104 pengguna yang menuliskan komentar. Isinya terbelah, ada yang mendukung ada pula yang menyerang Kang Emil.

Akun Ujang Deblo misalnya mempertanyakan maksud dari omongan Kang Emil. "Fokus di sini: 'Nasdem ini pak dia punya media dia punya kejaksaan'," tulisnya. Dia mempertanyakan apakah omongan itu artinya Kang Emil memilih Nasdem demi melancarkan urusan hukum soal pembangunan di Kota Bandung? Senada disampaikan akun Anggi Hahi yang menyayangkan keputusan Kang Emil. "Duh, Kang Emil jadi kieu geuning. Mandiri saja, Jauhi Surya Paloh yang punya kejaksaan dan media," ujarnya dalam bahasa Sunda. Artinya duh, Kang Emil kenapa jadi begini.

Akun Aditya Baharudin mencak-mencak dengan video tersebut. Dia bilang video tersebut sudah dipotong sehingga isinya menghasut. "Cerdaslah dalam mengambil informasi," tulisnya. "Memotong atau mengutip sedikit teks atau pembicaraan tanpa melihat konteksnya secara utuh itu berarti punya niat jahat mau menjatuhkan," tambah akun Sandrach Eben. Kehebohan ini menyebar ke jagat Twitter. Akun @Aldhiraaa menyampaikan keheranan serupa. "Soal video Nasdem pegang kejaksaan bikin kita bertanya-tanya, ada persoalan apa sampai RK (Ridwan Kamil) ketakutan begini," ujarnya. Akun @dulatips pun tak menyangka cara pandang Kang Emil dalam memilih partai.

Mengenai video tersebut, Kang Emil sudah memberikan klarifikasi. Dia mengakui ucapan yang ada di video tersebut. Kata dia, video itu diambil saat ia berbicara dalam acara deklarasi dukungan komunitas Pesantren se-Jawa Barat, 23 April 2017, di Kabupaten Subang, Jabar. Hanya saja, kata Emil, video itu tak komplit alias sudah dipotong-potong sehingga tak utuh. "Cuma kan dipotong, jadi kesannya hanya urusan itu," kata Emil.

Emil menjelaskan saat itu, para ulama menanyakan posisi tawar partai yang berpotensi mengusung calon. Lalu, ia pun menjelaskan pada semua ulama kalau PDIP itu nasionalis, kadernya ada yang jadi menteri. Kalau Perindo, punya media. "Kalau PKS gini-gini. Jadi, posisinya itu sedang menerangkan semua partai," katanya. Ketua DPW Nasdem Jabar Saan Mustopa pun menyampaikan hal serupa. Dia curiga video ini diunggah untuk membusukkan Emil. Seolah, Emil memilih Nasdem karena faktor pragmatis. "Jika niatnya baik tentu akan video akan diunggah secara utuh, tidak dipotong-potong seperti ini," ungkapnya.

Pakar mikroekspresi Mardigu memastikan, konten dan ucapan Emil dalam video "Nasdem Punya Kejaksaan" asli alias bukan editan.

Mardigu menjelaskan, dalam video ini tak ada proses memasukkan audio orang lain untuk seolah-olah diucapkan Kang Emil. "Benar (Kang Emil)," tegasnya seperti dikutip Jawa Pos kemarin.

Cara paling mudah untuk menentukan video dan audio itu palsu atau tidak ialah memperhatikan gerak bibir. Itu dipermudah dengan suara yang secara khas menjadi milik Ridwan Kamil. "Suara dan gerakan bibirnya cocok," tegas Mardigu. Selain itu, visual yang ada cocok dengan adanya kegiatan di salah satu ponpes di Kabupaten Subang.

Pengamat politik dari Universitas Parahyangan Bandung Prof Asep Warlan Yusuf mengatakan, video ini punya dampak besar bagi masyarakat Jabar. Karenanya wajar jika publik bertanya-tanya dan menerka-nerka maksud dari ucapan Kang Emil itu.

Wajar juga jika publik menduga-duga Emil memilih Nasdem jangan-jangan sebagai perlindungan kasus hukum. Meski ada juga yang berpikir bahwa video itu dimunculkan untuk menjelekkan Kang Emil. "Sebuah pemikiran itu bisa saja tidak benar, tapi itu yang dipresepsikan publik dari ucapan Kang Emil," kata Asep saat dikontak Rakyat Merdeka, tadi malam. Karena itu, Asep menyarankan agar Emil melakukan klarifikasi secara utuh untuk mengklarifikasi persepsi yang berkembang di pikiran publik. "Tidak cukup dengan menjelaskan video itu sudah dipotong," ucapnya.

Asep bilang banyak pelajaran yang diambil dari kasus ini. Saat ini sudah masuk era teknologi internet. Artinya, fenomena warga merekam dengan kamera dan kemudian mengunggah sebuah video ke internet sudah tidak bisa dihindari. Cara menyikapinya adalah tahu menjaga diri ucapan dan tindakan. Pejabat, elite politik, anggota DPR dan lainnya jangan lagi bicara sembarangan. Jangan berbicara yang tidak layak atau tidak patut. Karena sangat mungkin direkam dan disebarluaskan. "Itu sebuah konsekuensi. Tidak bisa dielakkan. Cara paling sederhana menghindarinya adalah menjaga diri tidak bikin sesuatu yang menghebohkan," tuntasnya.

Pakar telematika Abimanyu Wahyuhidayat mengatakan fenomena mengunggah video ke Youtube di era sekarang ini makin marak. Termasuk di dunia politik. Tujuannya, tentu saja untuk mempengaruhi. Bayangkan saja, pengguna hape di Indonesia saat ini mencapai 280 juta atau 30 juta lebih banyak dari penduduk Indonesia. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya