Berita

Zainal Bintang/net

Politik

Situasi Makin Keruh, Zainal Bintang: Elit Parpol Tak Punya Skenario Tanggap Darurat

SELASA, 16 MEI 2017 | 00:46 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Situasi politik Indonesia saat ini tidak bisa dikatakan kondusif. Kerentanan keberagaman pada hari ini tidak terpisahkan dari ekses Pilpres 2014.

Lebih mengerikan karena yang dimobilisasi sebagai amunisi adalah sentimen agama.  Agama yang sebenarnya di wilayah pribadi, dipaksa terlibat untuk menguatkan suatu argumentasi atau sentimen primordial.
   
Politisi senior Partai Golkar, Zainal Bintang, mengaku sangat cemas  menyaksikan sentimen agama dieksploitasi secara masif untuk tujuan politik jangka pendek.


"Agama sebagai sesuatu yang sakral, diturunkan pangkatnya menjadi pentungan membungkam argumentasi. Jika hal ini dibiarkan begitu saja oleh otoritas negara, sudah pasti keadaan akan semakin keruh dan rumit," kata Bintang kepada redaksi, Senin malam (15/5).

Anggota Dewan Pakar Golkar ini berharap pemimpin bangsa tidak pasif. Ia juga menggugat peran dan fungsi parpol. Ketika masyarakat sedang dihadapkan pada kegaduhan, seyogyanya elite parpol cepat tanggap. Secara kelembagaan, parpol yang punya "garis komando" dari pusat hingga ke daerah, bahkan sampai ke akar rumput di pedesaan.

Bintang menyatakan heran karena seolah elite parpol tidak punya skenario "tanggap darurat". Ia menyindir, kader parpol hanya terlatih membagi Sembako setelah terjadi bencana alam. Sedangkan elite parpol hanya lincah membujuk dan memobilisasi rakyat untuk kepentingan Pilkada atau Pemilu. Parpol tidak memiliki jalur komunikasi intensif dengan masyarakat, tidak memiliki pola monitoring suara hati nurani rakyat.

"Banyak kader parpol tampil gagah dengan pakaian seragam yang mengadopsi kostum miilter. Akan tetapi mereka tercecer dan mengecewakan di dalam konteks perlombaan pengelolaan aspirasi rakyat. Tentu saja masuk akal apabila lambat laun masyarakat merasa tidak butuh parpol," sesal Bintang.

Dia juga mencatat banyak bukti, pelayanan dan perlindungan parpol "kurang menggigit" ketika ada warga masyarakat yang mendapat perlakuan tidak adil.

"Seharusnya parpol tidak membiarkan masyarakat begitu bebas menggunakan isu keagamaan, yang pada kadar tertentu dapat mengancam keberagaman.  Peran dan tanggung jawab elite parpol memang dipertanyakan. Quo Vadis elite Parpol?,"demikian Bintang.[san] 

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Pasar Jaya Minta Maaf soal Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati

Minggu, 29 Maret 2026 | 00:01

BRIN Gandeng UAG University Kolaborasi Perkuat Talenta Peneliti Indonesia

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:40

Masyarakat Apresiasi Bazar dan Hiburan Rakyat di Monas

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:30

Menata Ulang Skema Konsesi Bandara

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:00

Tak Bisa Asal Gugat, Sengketa Partai Harus Selesai di Internal Dulu

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:41

Peradilan Militer Punya Legitimasi dan Tak Bisa Dipisahkan dari Sistem

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:21

Pasar Murah di Monas, Pemerintah Salurkan Ratusan Ribu Paket Sembako

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:05

Juara Hafalan Al-Quran di Lybia, Pratu Nawawi Terima Kenaikan Pangkat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:41

Rudal Israel Hantam Mobil Pers, Fatima Ftouni Jurnalis Al Mayadeen Gugur

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:37

DPR Optimistis Diplomasi Pemerintah Amankan Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:17

Selengkapnya