Berita

Biksu mengenakan masker akibat polusi udara/BBC

Dunia

Tempat Kelahiran Buddha Menghadapi Ancaman Serius

RABU, 10 MEI 2017 | 17:21 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Situs bersejarah tempat kelahiran Buddha di Nepal menghadapi ancaman serius dari polusi udara.

Menurut data terakhir para ilmuwan yang dikumpulkan dari stasiun pemantauan kualitas udara di lima tempat di seluruh negara menunjukkan Lumbini sangat tercemar.

Peringatan telah terjadi di tengah meningkatnya industrialisasi di dekat lokasi suci.


Hal ini sudah terletak di hotspot polusi di dataran Gangga.

Untuk bulan Januari, partikel halus (PM2.5) di Lumbini, di barat daya Nepal, diukur pada 173,035 mikrogram per meter kubik.

Pembacaan untuk kota tetangga Chitwan adalah 113,32 dan ibukota, Kathmandu, yang terkenal dengan tingkat polusi tinggi, berada di 109,82.

Sementara itu diketahui bahwa batas aman WHO untuk polutan adalah 25 mikrogram per meter kubik dan pemerintah Nepal telah menetapkan standar nasional pada angka 40.

Studi ilmiah juga menyoroti meningkatnya tingkat polusi di dalam dan sekitar tempat bersejarah.

"Efek gabungan trans-boundary transport dari daerah Polinesia Indo-Gangetic yang kaya polusi dan pencemaran industri lokal yang terperangkap akibat inversi suhu bertanggung jawab atas polusi musim dingin yang parah," kata sebuah studi yang dilakukan oleh Institut Meteorologi Tropis India yang bekerja sama dengan WHO.

"Untuk musim-musim lain, emisi lokal sebagian besar bertanggung jawab atas kualitas udara yang buruk."

Ditemukan bahwa tingkat partikel halus PM 2.5, yang dapat memasuki pembuluh darah manusia, lebih dari 10 kali di atas batas aman WHO.

Studi lain yang dilakukan oleh IUCN dan Unesco menemukan bahwa polusi telah mulai mengancam situs Warisan Dunia Lumbini.

"Perluasan industri emisi karbon di dalam Lumbini Protected Zone telah menyebabkan beberapa masalah seperti ancaman terhadap keanekaragaman hayati, bahaya kesehatan bagi penduduk lokal, sifat arkeologi, nilai sosial dan budaya," jelasnya.

Sebuah studi IUCN tentang tiga monumen di situs bersejarah tersebut menyimpulkan bahwa taman suci tercemar oleh senyawa berpendingin udara dan padat di udara.

"Pada contoh pilar Ashoka (yang didirikan pada tahun 249 SM oleh Kaisar Ashoka untuk menandai tempat kelahiran Buddha) ada gypsum, kalsit, dolomit dan magnesit hadir dalam bentuk bubuk halus yang menempel di permukaan," kata laporan tersebut. Ditulis oleh arkeolog Italia Constantino Meucci dari Universitas Roma.

"Semua senyawa merupakan bagian dari siklus produksi semen," sambungnya seperti dimuat BBC. [mel]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Pelita Air Libatkan UMKM Binaan Pertamina dalam PAS Sky Shop

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:59

Seluruh SPPG Wajib Tambah Penerima Manfaat 3B dalam Dua Minggu

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:50

19 Juta Tenaga Kerja dan Upsysteming UMKM

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:25

Jokowi dan Pratikno Dituding Bungkam UI Lewat PP 75/2021

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:59

Polisi Ringkus 25 Pelaku Curanmor di Bekasi

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:45

Film Dokumenter “Pesta Babi” Jangan Memperkeruh Keadaan di Papua

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:23

Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan!

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:57

Polda Jambi Bongkar Peredaran Sabu dan "Vape Yakuza" Senilai Rp25,9 Miliar

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:38

Dishub kota Semarang Gencarkan Sosialisasi ke Bus AKAP

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:19

Grace Natalie: Saya Nggak Pernah Punya Masalah dengan Pak JK

Selasa, 12 Mei 2026 | 00:57

Selengkapnya