Berita

Aksi massa HTI/net

Politik

Ketua MPR: Pemerintah Jangan Bikin HTI Menuai Simpati

SELASA, 09 MEI 2017 | 13:07 WIB | LAPORAN:

Rencana pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) didukung oleh Ketua MPR RI. Tetapi caranya mesti sesuai hukum agar HTI tidak malah mendapat simpati lebih luas dari publik.

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, mengatakan, HTI harus dibubarkan jika terbukti sebagai ormas yang ideologi dan kegiatannya berlawanan dengan Pancasila. HTI juga diduga ingin membentuk negara berlandaskan ideologi berbeda.

"Jika bertentangan dengan konstitusi memang harus dilarang. Kan sudah jelas ya, Pancasila itu final. Ormas kan ada persyaratannya," ujar Zulkifli Hasan alias Zulhas di kompleks gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/5).
.

.
Dia tegaskan, pembubaran ormas harus berlandas hukum berlaku. Pembubaran ormas tanpa jalur pengadilan akan menuai protes besar.

Menurut Zulhas, dalam konteks ini pemerintah selaku pembina. Karena itu, langkah yang diambil sebelum membubarkan sebuah ormas adalah langkah persuasif. Sebelum pembubaran, ormas tersebut harus diberi peringatan terlebih dahulu sebanyak tiga kali.

"Kalau melanggar, terus ke pengadilan. Kalau inkrah, ormas itu dibubarkan. Dan saya baca memang, Pak Wiranto (Menko Polhukam) akan mendaftarkan perkara ke pengadilan. Sebelum ke pengadilan kan harus ada peringatan satu dan dua," imbuhnya.

Dia tegaskan lagi, Kementerian Hukum dan HAM serta Kemendagri harus memulai langkah-langkah sebagaimana diatur dalam UU 17/2013 tentang Ormas. Jika tidak sesuai aturan, lanjut Zulhas, maka bisa dipastikan ormas yang hendak dibubarkan malah mendapat simpati dari masyarakat.

"Biarlah ormas itu diberi kesempatan di pengadilan untuk membela diri. Sehingga terang-benderang, rakyat bisa mengikuti, tahu sebab-musababnya sehingga pemerintah akan mendapatkan dukungan yang luas," terangnya. [ald]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya