Emmanuel Macron/BBC
Emmanuel Macron/BBC
Macron seolah muncul sebagai bintang politik baru di Perancis. Banyak yang membuatnya menjadi sorotan, selain karena kiprahnya di dunia politik, basis keilmuannya di bidang ekonomi, pandangannya soal Perancis dan Eropa, juga karena hal pribadi yang melekat dengan dirinya seperti usianya yang muda yakni 39 tahun dan istrinya yang jauh lebih tua daripada dirinya.
BBC awal pekan ini merangkup pengamat sejumlah pakat dalam lima hal yang membuat Macron menang dalam pemilu Perancis.
1. Beruntung
Tidak dapat dipungkiri bahwa Macron unggul sebagian adalah karena ada faktor keberuntungan.
Jelang pemilu, skandal publik menyingkirkan kandidat terdepan, Francois Fillon dan kandidat Sosialis Benoît Hamon.
Skandal yang menyeret keduanya muncul di publik di tengah hiruk-pikuk pemilu Perancis. Skandal itu jelas sangat menjatuhkan popularitas keduanya, terbukti dari perolehan suaran yang merosot di putaran pertama pemilu Perancis yang membuat keduanya gugur dalam pertarungan.
"Dia (Macron) sangat beruntung karena ia menghadapi situasi yang benar-benar tak terduga," kata Marc-Oliver Padis, peneliti dari lembaga think tank Paris, Terra Nova.
2. Cerdik
Keberuntungan tidak cukup membuat Macron memiliki tiket emas menuju kursi nomor satu Perancis.
Padis menilai bahwa Macron cukup cerdik dengan memilih untuk membuat partai kecil 'En Marche!. Macron sebenarnya bisa saja memilih untuk tiket dari sosialis, tapi dia menyadari setelah bertahun-tahun berkuasa dan penilaian publik yang buruk, suara partai tersebut akan selalu sulit didengar.
"Dia bisa meramalkan ada peluang saat tidak ada yang bisa melakukannya," kata Padis.
Sebagai gantinya, dia melihat gerakan politik yang bermunculan di tempat lain di Eropa seperti Podemos di Spanyol, Gerakan Bintang Lima Italia, dan melihat bahwa tidak ada kekuatan politik perubahan permainan yang setara di Prancis.
Pada bulan April 2016, dia mendirikan 'En Marche!' dan empat bulan kemudian dia mundur dari pemerintahan Presiden François Hollande.
3. Macron mencoba sesuatu yang baru di Prancis
Setelah mendirikan En Marche, dia mengambil isyarat dari kampanye pemilihan AS Barack Obama di tahun 2008.
Jurnalis freelance Paris Emily Schultheis menilai bahwa usaha besarnya yang dilakukan adalah Grande Marche (Big March), saat dia memobilisasi jajaran aktivis En Marche yang energik namun belum berpengalaman.
"Kampanye tersebut menggunakan algoritma dari sebuah firma politik yang mereka tangani - yang dengan cara itu telah mengajukan diri untuk kampanye Obama di tahun 2008 - untuk mengidentifikasi distrik dan lingkungan yang paling mewakili Prancis secara keseluruhan," kata Schultheis.
"Mereka mengirim orang untuk mengetuk 300.000 pintu."
Para sukarelawan tidak hanya membagikan selebaran, tapi juga melakukan 25.000 wawancara mendalam sekitar 15 menit dengan para pemilih di seluruh negeri. Informasi itu dimasukkan ke dalam database besar yang membantu menginformasikan prioritas dan kebijakan kampanye.
"Ini adalah kelompok fokus besar untuk Macron dalam mengukur suhu negara tetapi juga memastikan bahwa orang-orang telah berhubungan dengan gerakannya sejak dini, memastikan bahwa para sukarelawan tahu bagaimana cara pergi dari pintu ke pintu," sambungnya.
4. Memiliki Pesan Positif
Macron yang bisa dikatakan sebagai "Pendatang Baru" merupakan "anak didik" Presiden Hollande dan kemudian menteri ekonomi.
Mantan bankir investasi itu juga menjalankan gerakan akar rumput dan sentris dengan program radikal untuk memangkas sektor publik.
Itu adalah amunisi yang sempurna untuk memukul telak saingannya Marine Le Pen, yang mengatakan bahwa dia adalah kandidat elit, bukan pemula.
Tapi dia menghindari usaha untuk memberi label kepadanya sebagai Hollandois Hollande lainnya. Ia menghindari citra dirinya sebagai bayangan Hollande.
"Ada suasana pesimis yang sangat lazim di Prancis dan dia hadir dengan pesan positif yang sangat optimis," kata Marc-Olivier Padis.
"Dia muda, penuh energi, dan dia tidak menjelaskan apa yang akan dia lakukan untuk Prancis tapi bagaimana orang akan mendapatkan kesempatan. Dia satu-satunya yang memiliki pesan seperti ini," sambungnya.
5.Lawan Macron adalah Le Pen
Dengan nada yang lebih optimis, Marine Le Pen tampil sebagai sosok yang anti-imigrasi negatif, anti-imigran, anti-sistem.
Demonstrasi kampanye Macron menampilkan arena yang terang benderang yang menggelegar dengan musik pop.
Marine Le Pen mungkin telah menjalankan kampanye yang sangat efektif, namun jajak pendapatnya telah membuatnya tergelincir dari posisi puncak. Dia berada di depan dalam jajak pendapat tahun lalu, menyenggol 30 persen, namun hanya dalam dua minggu dia "dipukul telak" oleh Emmanuel Macron. [mel]
Populer
Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31
Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50
Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00
Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39
Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16
Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13
Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47
UPDATE
Selasa, 12 Mei 2026 | 03:59
Selasa, 12 Mei 2026 | 03:50
Selasa, 12 Mei 2026 | 03:25
Selasa, 12 Mei 2026 | 02:59
Selasa, 12 Mei 2026 | 02:45
Selasa, 12 Mei 2026 | 02:23
Selasa, 12 Mei 2026 | 01:57
Selasa, 12 Mei 2026 | 01:38
Selasa, 12 Mei 2026 | 01:19
Selasa, 12 Mei 2026 | 00:57