Berita

HTI/net

Politik

AM Hendropriyono: Khilafah Tidak Lebih Baik Dari Empat Pilar Kebangsaan

SENIN, 08 MEI 2017 | 13:56 WIB | LAPORAN:

Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) A.M. Hendropriyono mengkaui salah satu faktor yang menghambat kemajuan Indonesia adalah makin suburnya pahal radikalisme.

Hendro pun menekankan salah satu paham radikalisme yang dia maksud adalah adanya upaya kelompok atau organisasi masyarakat (ormas) yang ingin mengganti sistem pemerintahan menjadi khilafah.

"pemikiran khilafah itu berbicara soal umat. Sementara, NKRI berbicara soal warga negara inklusif. Jadi khilafah tidak lebih baik dibandingkan empat pilar Indonesia yaitu pancasila, NKRI, bhineka tunggal ika dan UUD 1945," ujar mantan kepala badan intelijen negara (BIN) itu saat diskusi di bilangan darmawangsa, Jakarta, Senin (8/5).


Hendro pun mengatakan alasannya soal pendapatnya yang menekankan khilafah merupakan sistem yang tidak baik. Menurut Hendro dalam sistem khilafah umatnya harus patuh kepada khalifah.

"Kalau sistem yang berlaku di Indonesia semua warga negara boleh berbeda pendapat dengan pemerintah sekalipun," tambah Hendro.

Selain itu, khilafah kata Hendro berbicara soal bagaimana menjadi manusia berdasar kacamata Islam versi penafsiran mereka sendiri. Sementara NKRI menjamin hak setiap warga negara untuk menjalankan kehidupan beragamanya sesuai dengan keyakinan masing-masing selama tidak keluar dari konteks Pancasila.

Tak hanya itu, imbuh Hendro, kelemahan sistem khilafah adalah tidak memungkinkannya mengakomodasi sistem demokrasi didalamnya. Salah satunya soal memilih pemimpin. Sementara, NKRI dipastikan menjamin hak seluruh warga negara tanpa kecuali.

"Ini membuat kita akan lebih banyak alternatif untuk mendapatkan pemimpin yang cakap dan kompeten," demikian Hendro.[san]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya