Berita

Bambang Soesatyo/Net

Politik

Presiden Harus Perjelas Kriteria Ormas Anti Pancasila

MINGGU, 07 MEI 2017 | 22:20 WIB | LAPORAN:

MOL. Pemerintah diminta mengumumkan kriteria yang jelas dalam menilai dan menetapkan ormas yang bertentangan dengan Pancasila sebelum pembubaran dilakukan. Kejelasan kriteria itu sangat penting untuk mendorong semua ormas melakukan introspeksi.
 
"Rencana pemerintah membubarkan ormas anti Pancasila harus dilandasi sikap yang penuh kebijaksanaan dan juga harus transparan. Karena itu, sebelum membubarkan ormas dimaksud, pemerintah perlu menyosialisasikan kriteria tentang ormas yang bertentangan dengan Pancasila," terang politisi Golkar ini saat dihubungi, Minggu (7/5).

Sebelum melakukan pembubaran, lanjutnya, Pemerintah sebaiknya memanggil pengurus ormas yang dicurigai bertentangan dengan Pancasila. Pemerintah perlu membuka dialog sebelum memulai pembubaran ormas. Bahkan memberikan kesempatan kepada ormas-ormas untuk meluruskan orientasi dan pandangan mereka seturut nilai-nilai dasar Pancasila.  
 

 
Bagaimanapun, tambah Bambang, isu tentang ormas anti-Pancasila bisa menjadi sangat sensitif. Terlebih, jika ada pihak yang mengaitkannya dengan agama tertentu. Masalah ini harus diperhitungkan dengan matang oleh Pemerintah, agar umat beragama tidak lagi terkotak-kotak.

"Komisi III DPR berharap, rencana Pemerintah itu tidak menimbulkan kegaduhan baru dan gangguan serius terhadap aspek keamanan dan ketertiban umum," tandasnya.

Sebelumnya, Menko Polhukam Wiranto menegaskan, ormas-ormas yang bertentangan dengan Pancasila akan dibubarkan. Wiranto kini sedang menggodok sejumlah langkah sesuai arahan Presiden Jokowi untuk pembubaran itu.

"Kita sudah mendengarkan pernyataan presiden bagaimana menangani ormas-ormas yang nyata-nyata bertentangan dengan ideologi negara. Memang di Kemenko Polhukam, tempatnya di situ (menggodok aturan)" katanya. [ian]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya