Berita

Ahmad Doli Kurnia/Net

Politik

Citra Golkar Buruk Gara-gara Novanto Sering Disebut Di Kasus E-KTP

MINGGU, 07 MEI 2017 | 18:47 WIB | LAPORAN:

Penyelidikan korupsi e-KTP yang dilakukan KPK telah mengusik Partai Golkar. Hal ini lantaran nama Ketua Umum Golkar, Setya Novanto selalu disebut sejak awal penyelidikan KPK dalam kasus e-KTP.

Politisi muda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menyebut bahwa keterkaitan ini telah memperburuk citra partai beringin di mata masyarakat

"Golkar hampir sudah diidentifikasikan dengan partai korupsi. Kalau memang Setya Novanto tidak terlibat, kenapa disebut terus? KPK main politik, dong?" ujar Doli dalam diskusi bertajuk Hak Angket DPR dan Komitmen Pemberantasan Korupsi di Hotel Puri Denpasar, Jakarta, Minggu (7/5).


Doli mengaku dirinya pernah meminta pada pimpinan pusat Partai Golkar untuk segera menyiapkan ketua umum baru. Namun hal tersebut ditolak karena Setya Novanto masih berstatus saksi dan tidak terbukti ikut terlibat korupsi proyek pengadaan e-KTP.

"Saya usul (Golkar) untuk persiapkan ketum baru karena Setnov sudah tidak legitimate," imbuhnya.

Nama Setya Novanto pertama kali disebut dalam surat dakwaan yang dibacakan jaksa KPK. Novanto, yang saat itu menjabat sebagai ketua Fraksi Golkar disebut sering bertemu dengan terdakwa korupsi pengadaan e-KTP, Andi Agustinus.

Namun hingga saat ini, KPK masih menjadikan Setya Novanto sebagai saksi karena penyidik belum mempunyai cukup bukti untuk menersangkakan ketua DPR tersebut.

Sikap KPK yang dinilai terlalu berhati-hati itu, menurut Doli, justru memancing orang-orang yang namanya beberapa kali disebut dalam penyidikan e-KTP untuk melakukan serangan balik.

"Saya meminta KPK untuk bersungguh-sungguh, tidak main-main memberantas korupsi. Karena rakyat di belakang KPK sekarang. Kalau KPK bergerak cepat tidak akan ada manuver politik," pungkasnya. [ian]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya