Berita

syamsuddin haris/net

Politik

LIPI : Anomali Jika Tolak Ukur Pencalonan Presiden Dari Hasil Pileg

SABTU, 06 MEI 2017 | 22:05 WIB | LAPORAN:

Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menilai sangat anomali jika penetapan hasil pemilu legislatif (pileg) menjadi tolak ukur dalam penentuan calon presiden 2019 mendatang.

Menurutnya, Pilpres ditak bisa didikte oleh koalisi hasil Pileg. Terlebih jika dalam Pileg salah satu partai politik (Parpol) memenangi batas pencalonan presiden, partai tersebut bisa secara tunggal mengusung calon presidennya.

Syamsuddin berpendapat solusi untuk mencegah calon tunggal dari Parpol harus ditetapkan ambang batas koalisi pencalonan presiden.


"Jadi tetap koalisi tapi, basisnya bukan di Pileg melainkan kepesertaan Parpol dalam pemilu itu mesti ada minimumnya. Dengan demikian satu Parpol tidak bisa mencalonkan presiden secara tunggal, dia mesti berkoalisi," ungkap Syamsuddin saat diskusi bertema 'Membatasi Ambang Batas Presidensial?' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/5).

Syamsuddin menambahakan, dalam pencalonan presiden mesti ada batas maksimum besaran koalisi pencalonan, misalnya 60 persen dari jumlah Parpol peserta pemilu. Hal tersebut supaya tidak muncul calon tunggal dalam Pilpres pada 2019 mendatang.

"Ini kan waktunya pendek memang dilema soal koalisi ini tidak banyak disinggung dalam pembahasan Pansus,sayang sekali. Tetapi poin saya dalam pemilu serentak itu meniscayakan ditiadakannya ambang batas pencalonan presiden yang berbasis pada hasil Pileg," demikian Syamsuddin.[san]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya