Berita

Politik

Golkar: Presidential Threshold Titik Tolak Negosiasi Parpol

SABTU, 06 MEI 2017 | 17:23 WIB | LAPORAN:

. Isu ambang batas mengusung calon presiden (presidential threshold) menjadi titik tolak negosiasi partai politik di DPR untuk masuk ke isu lainnya. Seperti sistem pemilihan terbuka, tertutup atau proporsional terbuka tertutup.

Demikian diungkapkan Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, terkait presidential threshold dalam diskusi bertema "Membatasi Ambang Batas Presidensial?" di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/5).

Hal itu jugalah, yang membuat penetapan keputusan dalam presidential threshold menjadi rumit. Bahkan sambung Ace, saat ini, terdapat tiga kelompok yang mempunyai nilai ambang batas pencalonan presiden. Seperti Partai Demokrat, Partai Gerindra, PAN dan Partai Hanura menginginkan ambang batas nol persen.


Kemudian PPP memiliki sikap presidential threshold dilihat dari 25 persen dari jumlah kursi di DPR dan 30 persen dari jumlah suara dalam Pileg. Sementara Partai Golkar, PKS, Partai Nasedem dan PDI Perjuangan memiliki acuan 20 jumlah kursi di DPR atau 25 persen jumlah suara di Pileg sebagai ambang batas dalam pencalonan presiden.

"Bagaimana pun kita semua di Parlemen punya agenda politik terkit yang ingin disampaikan dalam presidential threshold ini. Tentu masing-masing punya agenda politik," ujar Ace.

Meski penetapan presidential threshold rumit, kedepannya proses tersebut akan berjalan dinamis seiring agenda yang mencuat di DPR dan kebijakan partai politik dalam agenda tersebut.

Menurut Ace, Partai Golkar sendiri telah memiliki tim untuk menyusun formula yang berkaitan dengan agenda utama yakni presidential threshold. Dengan adanya formola tersebut, agenda lain atau isu pembahasan UU Pemilu lainnya bisa berjalan beriringan.

"Bagi kami presidential threshold ini adalah satu gol, dalam konteks penataan kelembagaan dalam UU politik. Presidential threshold ini adalah cara untuk memperkuat sistem presidensialisme yang kuat," pungkas anggota DPR ini. [rus]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya