Berita

Foto/Net

On The Spot

Kampung Akuarium Kembali Dipenuhi Rumah-rumah Baru

Akan Digusur Pemprov DKI Lagi
JUMAT, 05 MEI 2017 | 09:47 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan kembali menggusur Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara. Alasannya, di kawasan tersebut akan dibangun alun-alun.

Menjelang penggusuran, warga Kampung Akuarium ra­mai-ramai berkumpul di posko. Mereka asyik bercengkrama satu sama lain sambil bercerita suka dan duka selama hampir setahun digusur.

Raut wajah mereka terlihat pasrah dan lelah, namun masih terus menunjukkan tekad untuk mempertahankan tanah yang telah ditinggalinya selama pulu­han tahun. "Kalau digusur, kami akan melawan," ucap Nurbaiti, warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (3/5).


Tepat 11 April tahun lalu, Pemprov DKI meratakan Kampung Akuarium dengan buldozer hingga tersisa puing-puing. Seiring berjalannya waktu, di atas puing-puing bangunan itu, kini telah berdiri ratusan rumah semi permanen atau bedeng.

Warga nekat membangun ru­mah dengan bahan seadanya dari triplek dan beratap terpal. Ada juga yang mulai membangun rumahnya dengan bahan batu bata. "Kami tinggal di sini (be­deng) hampir setengah tahun," ujar Nurbaiti.

Jalan menuju Kampung Akuarium kini telah dicor, sehingga memudahkan warga yang ingin keluar masuk ke permukiman padat penduduk itu. Sebelum masuk ke kampung yang berada persis di pinggir laut ini, terdapat portal dari bambu yang dicat putih.

Tidak jauh dari situ, dibangunposko yang cukup besar. Spanduk berukuran besar dipasang di posko yang bisa memuat puluhan orang ini. Isinya, "Peringatan 1 tahun, 11 April 2016-11 April 2017, Penggusuran Paksa Pasar Ikan", "Presiden, penggusuran bukan solusi". Di bagian bawah terdapat puluhan foto peristiwa saat penggusuran dilakukan tahun lalu. "Penggusuran jadi momen paling buruk selama lebih dari 35 tahun tinggal di sini," tutur Nurbaiti.

Selain itu, di posko juga terda­pat spanduk dengan ukuran lebih kecil. Spanduk berwarga oranye itu bertuliskan, "Moratorium Penggusuran, Ajakan Kepada Gubernur Basuki Tjahaja Purnama mewujudkan Jakarta yang berkeadilan sosial dan menjun­jung tinggi hak asasi manusia (HAM)". "Kami ingin penggu­suran ditunda hingga dilantiknya gubernur baru," harap wanita berumur 60 tahun ini.

Tidak jauh dari posko, berdiri musholla yang cukup megah. Musholla yang berdiri tepat di tengah-tengah permukiman ini, menjadi salah satu pusat kegia­tan warga Kampung Akuarium sembari berjaga-jaga bila terjadi penggusuran. "Musholla ini na­manya AL-Jihad, sehingga bisa menginspirasi kami untuk terus bersemangat melawan bila peng­gusuran betul-betul dilakukan," tegas Nurbaiti.

Nurbaiti mengaku tinggal di Kampung Aquarium sejak ta­hun 1980. Saat itu, kawasan ini berupa lahan kosong dan baru sedikit orang yang menempatinya. "Setelah beberapa bulan tinggal, baru ada beberapa pen­duduk yang mulai membangun rumah," kenangnya.

Namun, kenangan manisnya selama puluhan tahun tinggal di Kampung Akuarium buyar, ketika Pemprov DKI menggusur kampung ini dengan alat berat hingga rata tanah. Selama rumahnya rata tanah, Nurbaiti mengaku tinggal berpindah-pin­dah dari warung satu ke warung lain. Hal itu dilakoninya selama empat bulan.

"Seringkali tak tidur kalau hujan tiba, karena warung terus bocor," ucapnya.

Karena tidak kuat hidup berpindah-pindah, Nurbaiti akhirnya memberanikan diri membangun rumah dengan bahan seadanya di lahan bekas penggusuran ini. Kini, hidupnya lebih baik dibanding sebelumnya karena sudah mempunyai rumah bedeng yang tidak terlalu besar.

"Yang penting, kalau hujan atau panas, tidak terkena lang­sung," kata wanita empat anak dan 8 cucu ini.

Selain itu, lanjutnya, aliran listrik di rumahnya juga lancar karena ada genset milik mushollayang disalurkan ke rumah-rumah warga. "Tapi, sering mati kalau malam karena terlalu berat bebannya," ucap Nurbaiti.

Untuk mandi, kata Nurbaiti, warga harus menggunakan dua toilet umum yang berada di tengah permukiman. "Setiap hari kami harus antre mandi dengan puluhan warga lain," tuturnya .

Kendati hidupnya pas-pasan, Nurbaiti mengaku lebih senang tinggal di Kampung Akuarium dibanding harus tinggal di rusun karena letaknya sangat jauh dari mata pencahariannya selama ini. "Kerjaaan kami nelayan. Kalau jauh, bagaimana transportasinya," tanya dia.

Sedangkan Eddy, warga Kampung Akuarium lainnya, me­minta pemenang Pilkada DKI, Anies Baswedan-Sandiaga Uno untuk pasang badan terhadap upaya penggusuran ini.

"Janji Pak Anies kan tidak ada lagi penggusuran. Buktikan saja untuk melindungi warga," harap Eddy.

Pria berumur 33 tahun ini menyebut, sudah ada 200 rumah semi permanen yang berdiri di Kampung Akuarium. "Masa tega lihat kami menderita lagi. Di sini, pekerjaan warga itu nelayan. Jelas lebih pilih hunian yang tidak jauh dari laut," tutur Eddy.

Menurut Ketua RT 12/RW04 Kampung Akuarium, Rini Ernawati, saat ini ada 169 keluarga dan sekitar 150 bangunan semi permanen yang masih bertahan di Kampung Akuarium. "Sejak penggusuran, ada yang tetap bertahan, ada juga yang kem­bali lagi dari rusun ke Kampung Akuarium," cerita Rini.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah meminta Satpol PP segera menertibkan bangunan liar di Kampung Akuarium. "Satpol PP yang akan melakukan itu ber­sama wali kota," ujar Saefullah di Balai Kota DKI.

Menurut Saefullah, warga Kampung Akuarium seharusnya sudah bergeser ke rusun. Sebab, warga sudah direlokasi ke tiga rusun, yaitu Marunda, Rawa Bebek, dan Cipinang.

"Ada 300 unit rusun di tiga lokasi itu," tandasnya.

Saefullah menambahkan, bila ternyata warga Kampung Akuarium memangbetul-betul tidak mempunyai rumah tinggal, bisa langsung tinggal di rusun. "Tahun ini kan rusun kita banyak jadi. Kalau memang mereka ingin tinggal di rusun, langsung difasilitasi," janjinya.

Dia mengatakan, belum tentu warga yang mendirikan bangu­nan liar di Kampung Akuarium adalah warga terkena relokasi sebelumnya. "Mereka KTP-nya dimana, alamatnya dimana, apa betul tidak punya rumah," tanya Saefullah.

Menurutnya, rusun hanya untuk warga KTP DKI Jakarta. "Rusun ini kan betul-betul untuk warga DKI yang tidak punya rumah tinggal, supaya berkeadilan," tandasnya.

Kasatpol PP DKI Jopan Royter menegaskan, pihaknya akan kembali menertibkan Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara. "Itu kan kewenangan Walikota (Jakarta Utara), mau didata dulu sesuai KTP-nya, apa benar penduduk situ atau bukan," ujarnya.

Namun, Jopan belum bisa memastikan kapan waktu penggusuran terhadap Kampung Akuarium dilakukan. "Bisa pekan ini atau pekan depan. Cuma, kita kalau diminta turun kapan pun, siap," pungkasnya.

Latar Belakang
Ahok: Proyek Pembangunan Pesisir Ibukota Negara Akan Dilanjutkan


Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara yang sebelumnya telah rata tanah, kinimulai bermunculan ratusan rumah semi permanen.

Kampung seluas 4 hektar ini,pernah digusur Pemprov DKI Jakarta, tepatnya pada 11 April 2016. Walaupun sempat mendapatkan perlawanan warga, akhirnya penggusuran berhasil dilakukan. Warga akhirnya dire­lokasi ke Rumah Susun (Rusun) Marunda dan Rawa Bebek.

Berdasarkan data Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), tercatat ada 396 kepala keluarga (KK) warga Kampung Akuarium yang ber­hak menerima unit rusun dari Pemerintah DKI Jakarta.

Namun, seiring berjalannya waktu, kawasan yang sebelum­nya hanya tinggal puing-puing bangunan ini, mulai berdiri ratusan bangunan lagi.

Lurah Penjaringan Depika Romadi menyebut, ada sekitar 90 bangunan semipermanen yang berdiri di Kampung Akuarium. "Mayoritas bangunan merupakan semipermanen," ujar Depika.

Depika menjelaskan, ada seki­tar 90 keluarga yang tinggal di dua RT di Kawasan Kampung Akuarium. Selama ini, mereka hidup tanpa sambungan listrik dari PLN. Untuk kebutuhan air bersih, lanjut Depika, mereka membeli dari jeriken yang dita­warkan penjual air. "Saya tidak tahu soal asal sumber listrik warga," kata dia.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok me­negaskan, tetap akan menggusur kawasan Kampung Akuarium. "Kami akan minta bereskan," ujar Ahok di Balaikota.

Ahok mengaku sudah menawarkan opsi relokasi bagi warga Kampung Akuarium. Namun, ta­warannya tersebut ditolak. "Sudah dikasih rusun, mereka saja yang tidak mau, sudah dikasih yang bagus," tandasnya.

Ahok mengatakan, tidak mem­permasalahkan janji Gubernur DKI terpilih, Anies Baswedan yang tidak akan menggusur Kampung Akuarium. "Kalau mereka bilang Pak Anies janji tidak bongkar, ya tunggu Pak Anies, baru bangun (rumah lagi di Kampung Akuarium)," tegasnya.

Ahok mengaku telah meminta Wali Kota Jakarta Utara Wahyu Haryadi untuk membongkar ru­mah semipermanen yang pernah dibongkar sebelumnya. Mereka diminta pindah ke Rumah Susun Rawa Bebek yang telah disiapkan sejak tahun 2016.

Ahok mengatakan, telah memiliki rencana pembangunan tanggul di kawasan Kampung Akuarium setelah rumah-rumah liar tersebut dibongkar. "Proyek pembangunan pesisir Ibukota negara, atau national capital integrated coastal development (NCICD) fase Aakan dilanjut­kan," ujarnya.

Ahok pun menegaskan, akan terus melakukan penertiban sam­pai masa jabatannya berakhir.

Seperti diketahui, proyek ini merupakan pembangunan tang­gul setinggi 3,8 meter di pantai utara Jakarta. Tanggul itu dibuat lebih tinggi dari sebelumnya, yang hanya 2,8 meter.

Adapun biayanya akan menggunakan sumber dana dari pe­merintah pusat, dalam hal ini yang bertanggung jawab adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta anggaran pendapatan dan be­lanja daerah (APBD).

Selain itu, Ahok mengatakan, pihaknya juga akan menunggu tim cagar budaya untuk memugarbangunan bersejarah yang pernah ada di sana.

"Dulu kan ada kewajiban reklamasi untuk dikerjakan. Tunggu saja gubernur yang baru," ucapnya.

Terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, Polda Metro Jaya siap mengawal rencana penertiban warga yang masih menduduki kawasan Kampung Akuarium.

"Kalau ada permintaan, kena­pa tidak," ujar Argo di Mapolda Metro Jaya.

Argo menyatakan, saat ini, pihak kepolisian masih menunggupermintaan Pemprov DKI. "Kami siap kapan saja jika diminta bergerak oleh Pemprov DKI," tandasnya. ***

Populer

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

UPDATE

ANTAM Salurkan Ratusan Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Operasional

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:11

Purbaya Tak Tahu Menahu Anggaran Rp100 Miliar untuk Sapi Kurban Prabowo

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:10

Matahari Tepat di Atas Ka’bah pada 27-28 Mei, Momen Cek Arah Kiblat

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:02

Erdogan Serukan Solidaritas untuk Gaza dalam Pesan Iduladha 1447 H

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:02

Menkes Ungkap Penyebab Kolesterol Naik Setelah Makan Daging Kambing

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:57

Warga Pati Jadi Korban Penipuan Masuk Akpol Bayar Rp1,5 Miliar

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:37

Politisi PDIP Minta Indonesia Serius Tangani Regulasi Soal AI

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:25

Putusan MK Momentum Benahi Kaderisasi Politik Perempuan

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:20

Bandar Sabu Ngamuk saat Ditangkap, Polisi Kena Tusuk

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:15

Arus Kendaraan Melonjak Hampir 9 Persen, Jalur Trans Jawa-Bandung Paling Padat

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:11

Selengkapnya