Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

NSA Kumpulkan 151 Juta Catatan telepon Warga AS Tahun 2016

RABU, 03 MEI 2017 | 17:40 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Badan Intelijen Amerika Serikat NSA mengumpulkan lebih dari 151 juta catatan telepon dari Amerika sepanjang tahun lalu.

Begitu bunyi laporan terbaru yang dirilis oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat awal pekan ini. Laporan tersebut merupakan langkah transparansi yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat terkait kegiatan intelijen.

Dari jutaan catatan telepon yang dikumpulkan, termasuk di antaranya adalah metadata komunikasi, yang menunjukkan siapa yang menghubungi siapa, tapi bukan apa yang mereka katakan. Jumlah data yang dikumpulkan masih lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ketika NSA mengumpulkan miliaran catatan per hari.


Jumlah tersebut, bagaimanapun, masih penting, karena NSA hanya memperoleh jaminan melalui Pengadilan Pengawasan Intelijen Luar Negeri untuk hanya 42 tersangka teroris pada tahun 2016, bersama dengan sejumlah tersangka yang tersisa dari tahun 2015.

NSA dapat menyediakan data yang dikumpulkan, yang melibatkan "orang AS" (USP) ke badan keamanan dan intelijen lainnya. Pada tahun 2016, menurut laporan tersebut, jumlah identitas USP yang tak terbaca jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Nama-nama 1.934 USP terbongkar dalam laporan intelijen tahun lalu sebagai tanggapan atas permintaan spesifik, dibandingkan dengan 2.232 pada tahun 2015.

Laporan transparansi terbaru ini, bagaimanapun, tidak mengidentifikasi agen mana yang meminta nama atau atas dasar apa.

"NSA diizinkan untuk membuka kedok identitas untuk penerima permintaan tertentu hanya jika ada kontrol tambahan khusus yang ada untuk mencegah diseminasi lebih lanjut dan persetujuan tambahan telah diberikan oleh pejabat NSA yang ditunjuk, "tulis laporan tersebut.

Langkah transparansi itu sebagian besar muncul sebagai tanggapan atas langkah Edward Snowden, yang mengungkapkan operasi rahasia NSA untuk mengumpulkan informasi tentang warga negara Amerika dan penduduknya. Koleksi massal yang sebelumnya disahkan menurut Bagian 215 dari Undang-Undang Patriot Amerika Serikat dilarang pada tahun 2015 di bawah Undang-Undang Kebebasan Amerika bipartisan.

"Laporan tahun ini melanjutkan lintasan kami menuju transparansi yang lebih besar, memberikan statistik tambahan melebihi apa yang diwajibkan oleh undang-undang," kata Kepala Juru Bicara Intelijen Nasional Timothy Barrett, seperti dimuat Reuters. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya