Berita

Dani Setiawan/Net

Politik

Maksud Jokowi Mungkin Tiga Besar Di G20

RABU, 03 MEI 2017 | 11:28 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Kritik tajam dilayangkan pengamat ekonomi asing atas klaim Presiden Joko Widodo di Hongkong bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia terbesar ketiga di dunia setelah India dan China.

Ekonom asing, Jake Van Der Kamp dalam artikel di kolom bisnis South China Morning Post (SCMP) mencemooh data yang dimiliki Presiden Jokowi. Pasalnya, dalam catatan dia, Indonesia berada di peringkat ketiga belas dalam hal pertumbuhan ekonomi di dunia.

Senada dengan hal itu, analis ekonomi dari Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI) Dani Setiawan mengaku setuju dengan Jake bahwa Jokowi salah data. Jika merunut data yang dikeluarkan OECD tahun 2017, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia (5,02 persen) di ASEAN masih kalah dari dibandingkan dengan negara-negara kecil seperti Myanmar (8,4 persen), Laos (7,3 persen), Kamboja (7,1 persen), dan Filipina (6,2 persen).


"Ini nampak tim ekonomi menyajikan data hanya agar presiden senang. Tim ekonomi, terutama menteri keuangan bertanggung jawab atas suplai informasi sesat kepada presiden," jelasnya kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Rabu (3/5).

Namun begitu, Dani menyebut bahwa penggunaan data sesungguhnya bergantung pada konteks yang diperbincangkan. Ia mengatakan, pernyataan Presiden Jokowi itu tidak akan salah jika perbandingannya adalah negara-negara yang tergabung dalam G20.

"Jika yang dimaksud presiden bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia nomor tiga terbesar di antara negara G20, faktanya memang demikian. Tapi kalau nomo tiga dunia tanpa kategori, jelas ini keliru," tegas Dani.

Ia kemudian menjabarkan data yang dikeluarkan IMF pada Oktober 2016, perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di nomor tiga dengan 5,3 persen, di bawah India dengan 7,6 persen dan China dengan 6,1 persen.

"Jika data disajikan secara 'politis' tanpa disertai informasi yang utuh untuk kepentingan-kepentingan politik jangka pendek, maka ini tidak dibenarkan karena kredibilitas jadi taruhannya," katanya.

Terlepas dari itu semua, Dani menyebut bahwa indikator pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya prestasi yang dapat dibanggakan pemerintah. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi yang terbilang relatif tinggi dan cukup stabil saat ini tidak diimbangi dengan pemerataan, sehingga ketimpangan ekonomi di negeri ini semakin melebar.

"Artinya pertumbuhan tidak merata dan hanya dinikmati segelintir elit di Indonesia," pungkas Dani. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya