Berita

Politik

Pesan Esensial Agama

JUMAT, 28 APRIL 2017 | 07:26 WIB | OLEH: SUDARNOTO A HAKIM

BANYAK alasan atau faktor orang beragama. Berbagai literatur tentang sejarah dan sosiologi agama sudah banyak menjelaskan soal ini.

Istilah beragama itu sendiri juga mengandung sejumlah pengertian antara lain secara posesif memiliki agama tertentu. Sebagai sesuatu yang dimiliki, tentu saja agama, apapun namanya, dipercaya bernilai dan berharga (valuable) bagi kehidupan. Bahkan tak sedikit yang meyakini bahwa nilainya melebihi yang lain semisal harta benda yang sifatnya material.

Ada banyak hal dalam kehidupan ini yang secara langsung berpengaruh besar bagi manusia dan  sejarah.


Pertama, adalah aspek-aspek yang terkait dengan kebutuhan ekonomi memenuhi hajat kehidupan material konsumtif. Setiap orang membutuhkan ini dan karena itu memerlukan upaya-upaya khusus untuk memiliki akses seluas-luasnya terhadap sumber-sumber ekonomi. Orang berkompetisi untuk memperoleh berkah ekonomi bahkan tidak sekedar untuk alasan "survivality" akan tetapi lebih jauh dari itu yaitu "kemewahan. " Orang mencuri,  merampas hak milik orang lain dan korupsi, misalnya, dorongan kuatnya antara lain adalah ekonomi baik untuk alasan survivality maupun untuk kemewahan.

Perang jaman kuno hingga kontemporer terjadi antara lain juga karena alasan "penguasaan" sumber-sumber ekonomi ini. Membangun ekonomi menciptakan kesejahteraan dan keadilan bahkan juga diberi perhatian oleh Tuhan. Rezeki yang disediakan oleh Tuhan haruslah digali untuk tujuan mulia dengan cara-cara yang halal dan thoyib,  begitu firman Tuhan. Hindari eksploitasi,  jauhi pencurian dan kejahatan ekononi lainnya.

Kompleksitas masalah-masalah yang ditimbulkan dan terkait dengan hajat hidup ini tak terhindarkan. Ada soal security dan keteraturan, ada soal kekuasaan dan kedigdayaan,  ada soal kemanusiaan dan sebagainya di balik ekonomi. Ada juga soal ketersediaan sumber alam dan lingkungan, sampai kapankah alam bertahan untuk dikeruk,  dieksploitasi,  diperebutkan untuk memenuhi hajat hidup?

Karena itulah maka  para ahli menciptakan teori dan para penguasa mengatur bagaimana sumber-sumber ekonomi itu dimanfaatkan dan dishare untuk kepentingan orang banyak.

Kedua, terkait dengan soal di atas maka kekuasaan dan penguasa menjadi sangat penting dan dibutuhkan karena antara lain bertugas "melayani" dengan baik supaya keadilan tercipta, kemaslahtan umum terwujud. Tak ada yang merasa terzalimi secara sosial, ekonomi dan juga politik.

Kekuasaan menjadi sebuah keniscayaan untuk kebutuhan tersebut karena memang pemegang otoritas penuh. Tapi justru karena kedigdayaan dan dampak besar yang ditimbulkan kekuasaan, sekaligus magnit kewibawaan, kehormatan dan tingginya status,  maka kekuasaan juga diperebutkan banyak orang dengan cara apapun yang mungkin bisa dilakukan.

Ditambah, adanya keyakinan banyak orang beragama bahwa kekuasaan itu suci karena berpusat atau bersumber dari Yang Maha Suci  bertugas mengangkat derajat orang banyak;  penguasa dipercaya memiliki relasi yang sangat khas dengan Tuhan. Seluruh simbol kesucian, kemuliaan dan kebesaran Tuhan nempel di penguasa.

Semua ini menjadi sumber spirit kompetisi memperebutkan kekuasaan. Bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk secara langsung memperebutkan kekuasaan,  maka pilihan yang bisa dilakukan adalah menjadi followers setia kepada kekuatan tertentu sambil berharap keberkahan dan keberuntungan status sosial,  ekonomi dan mungkin politik di masa depan bisa diperoleh. 

Dengan demikian pertentangan atau konflik yang tak berkesudahan dan bahkan peperangan sangat mungkin terjadi untuk sebuah kekuasaan. Dan pada kenyataannya perebutan kekuasaan, adu kedigdayaan, aneksasi politik dan militer telah mewarnai panggung dunia sepanjang sejarahnya dengan akibat yang sangat kompleks. Semua wilayah negara manapun mengalami soal-soal tersebut dan bahkan hingga sekarang masih berlangsung.
     
Ketiga, agama. Sangatlah multidimensional soal agama ini. Ia tidak saja terkait dengan apa yang tertuang di dalam sumber-sumber tekstual keagamaan resmi seperti Kitab Suci dan pandangan atau ajaran para tokoh/pemimpin agama yang paling  otoritatif dari sejak para Rasul hingga ulama, akan tetapi juga bagaimana memandang, menempatkan dan memfungsikan agama dalam kehidupan riil yang begitu kompleks. Banyak yang berkeyakinan bahwa agama sangat bersentuhan dengan the ultimate goal mengungguli atau melampaui batas dan wilayah ideologi duniawi. Ia duniawi dan sekaligus metaduniawi.

Pandangan yang serba duniawi semata dipercaya tidak sekedar tidak lengkap atau komprehensif dan integratif,  akan tetapi justru menyesatkan dan menyengsarakan. Karena itu, agama haruslah menjadi sumber penting dalam mengelola kehidupan termasuk sosial, ekonomi dan politik dan bahkan membangun peradaban universal, untuk siapapun.

Namun demikian, tidak sedikit juga yang berkeyakinan bahwa agama tidaklah diperlukan terutama dalam mengelola kehidupan. Yang dibutuhkan adalah ideologi kongkrit duniawi dan jauh lebih praktikal ketimbang agama.

Mencampur-adukkan agama dengan persoalan sosial, ekonomi dan politik adalah ide yang tidak masuk akal dan malah kontra produktif bagi cita-cita kemajuan. Agama tidak sekedar tidak kompatibel dengan modernitas dan kemanusiaan,  tapi justru bisa menjadi kekuatan destruktif dan karena itu harus dicegah dan jika diperlukan dienyahkan.

Masih banyak spektrum agama ini dan apapun kontroversi yang ditimbulkan tetap saja tidak bisa ditolak kenyataan besarnya pengaruh agama dalam sejarah. Lihatlah bagaimana Islam, Kristen, Yahudi, Hinduisme, Budhisme dan masih banyak lagi lainnya mempengaruhi dunia. Tak sedikit konflik dan pertempuran yang membawa, menyeret dan mengatas namakan agama Islam, Kristen dan Yahudi. Belum lagi penganut agama dan kepercayaan non-mainstream yang dalam realitasnya tak jarang juga terlibat pertentangan.

Harmoni Kemanusiaan

Agama mainstream dan non-msinstream sesungguhnya justru bisa menjadi kekuatan untuk menghadirkan harmo'ni kemanusiaan. Tidak sedikit sebetulnya masyarakat yang tidak peduli madzhab keagamaan apa yang dianut. Bagi mereka, beragama berarti berusaha mencari ketentraman, keselamatan,  kebahagiaan, kedamaian di level personal dan kolegial. Apa kata Tuhan dan Rasul sepanjang yang mampu mereka pahami, mereka ikuti. Lalu karena ulama atau pemimpin agama mereka yakini memiliki berbagai kelebihan moral,  kepribadian, intelektual dan bahkan dinilai memiliki relasi dengan Tuhan setelah Rasul, maka mereka juga dengarkan dan ikuti petuah-petuahnya.

Mereka membutuhkan suluh yang disamping menerangi dan menunjukkan jalan menuju kebahagiaan,  kedamaian dan harmoni juga menyelesaikan problem kehidupan. Mereka tak peduli madzhab-madzhab dengan berbagai perbedaannya. Banyak di kalangan mereka yang bahkan tidak mengerti apa itu Suni-Syiah,  Muhammadiyah-NU dan sebagainya. Tujuan dan cara beragama mereka sederhana seperti diurai di atas. Mereka tidak berharap terlibat dalam kontroversi yang mereka sendiri tidak memahaminya, apalagi konflik.

Cara pandang mereka sesungguhnya esensial karena mengkaitkan kesederhanaan beragama mereka justru untuk kemanusiaan, perdamaian, ketentraman. Agama bagi mereka bukan untuk simbol dan penguat identitas kelompok dan eksklusif apalagi untuk mencerca,  merendahkan dan berbuat aniaya terhadap yang lain. Jika banyak diantara mereka yang berbuat aniaya termasuk melawan ideologi negara, hemat penulis itu karena terintimidasi dan terprovokasi oleh aktor yang obsesif karena kepentingan ekonomi dan kekuasaan,  sebagaimana uraian di atas.

Dengan demikian, sudah saatnya konsolidasi dilakukan oleh semua agama secara bersama-sama untuk memperkokoh secara lebih esensial kehadiran agama-agama untuk kemanusiaan. Para aktor politik dan pemegang kekuasaan haruslah mau mengerti dengan sungguh-sungguh kebutuhan ini supaya negara tidak dibajak oleh kekuatan tak bertanggung jawab. [***]

Penulis adalah Ketua Komisi Pendidikan dan Kader MUI Pusat, Wakil Ketua Majelis Dikti PP Muhammadiyah, serta dosen tetap Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta.


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya