Berita

Jasad Lenin yang dibalsem/RT

Dunia

Cerita Mantan PM Soal Perintah Hancurkan Mausoleum Lenin Di Lapangan Merah

KAMIS, 27 APRIL 2017 | 18:51 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden pertama Rusia Boris Yeltsin pernah membuat keputusan untuk menghancurkan Mausoleum Lenin di Lapangan Merah, namun rencana itu berhasil dihentikan.

Begitu kata Mantan Perdana Menteri Rusia Sergey Stepashin dalam sebuah wawancara dengan majalah Istorik seperti dimuat Russia Today pekan ini. Politisi tersebut bahkan mengklaim bahwa dirinya lah yang menghentikan pemimpin Rusia tersebut untuk melakukan penghancuran tersebut

"Boris Nikolayevich (Yeltsin) memerintahkan saya untuk menghancurkan mausoleum itu pada tahun 1998," kata Stepashin, yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dan kemudian pada tahun 1999 ditunjuk sebagai Perdana Menteri.


Dia mengatakan bahwa dirinya dipanggil ke kantor Yeltsin, di mana presiden tersebut mengatakan kepadanya bahwa dia telah membuat keputusan. Ketika ia bertanya apa peran departemennya dalam pembongkaran yang direncanakan, Yeltsin mengatakan bahwa tugasnya adalah untuk menjamin ketertiban selama proses penghancuran berlangsung.

Stepashin mengatakan bahwa pada saat itu ia menyampaikan kepada Yeltsin bahwa bukan wewenangnya untuk menentang "perintah panglima tertinggi".

Namun, bagaimanapun, ia memperingatkan presiden bahwa dia tidak dapat menjamin bahwa setelah tindakan semacam itu dilakukan, keduanya dapat mempertahankan posisi negara mereka. Dia kemudian mulai membujuk Yeltsin agar mengurungkan niatnya tersebut.

"Tentu saja, menurut peraturan Kristen, tubuh Lenin tidak boleh dipajang, itu dosa, tapi sekarang bukan saatnya untuk memindahkan mausoleumnya," kata Stepashin pada Yeltsin pada tahun 1998.

Ia mengklaim bahwa presiden menggerutu, tapi mendengar argumennya.

Mengubur atau tidak mengubur Lenin, yang meninggal pada tahun 1924, telah menjadi topik diskusi dan debat panas di Rusia selama tiga dekade terakhir. Bahkan ada saran dari pihak oposisi bahwa lebih murah menghidupkan kembali Lenin daripada menjaga tubuhnya.

Dalam salah satu langkah terakhir, sejumlah anggota parlemen merancang sebuah proposisi ke Duma Negara untuk menyingkirkan mayat pemimpin Soviet itu dari Lapangan Merah namun kemudian menarik tanda tangan mereka dari undang-undang tersebut.

Sebuah jajak pendapat baru-baru ini oleh firma riset Levada Center menunjukkan bahwa lebih dari separuh penduduk Rusia percaya bahwa Lenin harus dikuburkan. Namun, mayoritas responden, 78 persen, mengatakan bahwa mereka menolak menyingkirkan mausoleum Lenin dari Lapangan Merah. Tiga puluh satu persen orang Rusia yang mengambil bagian dalam survei tersebut mengatakan bahwa mayat tersebut harus tetap berada di sana. [mel]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya