Berita

Bambang PS Brodjonegoro/Net

Wawancara

WAWANCARA

Bambang PS Brodjonegoro: Pemindahan Ibu Kota Masih Dikaji, Saya Nggak Mau Ditunggangi Spekulan Tanah

KAMIS, 27 APRIL 2017 | 09:21 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Eks Menteri Keuangan ini menjelaskan, pihaknya masih mengkaji lebih dalam mengenai rencana pemindahan ibu kota dari DKI Jakarta ke daerah lain. "Kita akan memilih lokasi yang punya ketersedian tanah yang cukup luas dengan status yang sudah 100 persen free, clear dan dikuasai oleh pemerintah. Jadi tidak perlu lagi ganti rugi atau segala macam," ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang SP Brodjonegoro kepada Rakyat Merdeka;

Kabarnya Presiden me­minta Bappenas mengkaji pemindahan Ibu kota. Apa hasilnya?

Kajiannya sedang dilaku­kan. Pokoknya yang pasti ada keinginan memindahkan pusat pemerintah. Jadi tidak semata-mata ibu kota.

Kota mana yang sedang dikaji sebagai calon ibu kota baru?

Kota mana yang sedang dikaji sebagai calon ibu kota baru?
Yang pasti di luar Jawa.

Kabarnya kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Benar be­gitu?
Saya bilang Palangkaraya. Palangkaraya luar Jawa atau tidak? Ya pokoknya luar Jawa. Tidak di Jawa pastinya.

Atau ada opsi daerah selain Palangkaraya?
Luar Jawa. Ini saya nggak mau ditunggangi oleh spekulan tanah.

Poin apa saja yang akan dinilai dari suatu daerah da­lam pengkajian ibu kota ini?
Kita akan memilih lokasi yang punya ketersedian tanah yang cukup luas dengan status yang sudah 100 persen free dan clear dan dikuasai oleh pemerintah. Jadi tidak perlu lagi ganti rugi atau segala macam.

Nanti itu yang berpindah pusat pemerintahannya saja atau turut membawa pusat perekonomiannya juga?
Ibu kota pemerintahaan, (ka­lau) bisnis tetap di Jakarta.

Berarti nanti untuk mengu­rus perizinan yang terkait pe­merintah pusat akan semakin jauh dong?

Ya nggak, sekarang kan zaman online. Masa masih perlu datang ngisi formulir. Itu zaman kuno.

Oh ya, Bappenas meng­gelar Musrembang Nasional. Apa sih yang membedakan Musrembang Nasional tahun ini dari tahun-tahun sebel­umnya?
Yang pertama kita bisa meli­hat pada tema yang lebih ringkas tapi fokus. Karena kalau kita membaca temanya itu intinya adalah hanya gabungan dari empat kata kunci, investasi, infrastruktur, pertumbuhan, dan pemerataan. Itu kata kuncinya, jadi kita hanya menggabungkan itu semua, karena kita tidak ingin nanti ke mana-mana.

Kenapa empat kata kunci itu yang dimunculkan?
Karena kita ingin target per­tumbuhan 2018 itu difokuskan pada investasi. Karena kalau kita bertumpu pada konsumsi atau ekspor, tampaknya susah untuk mendorong di atas 5 persen. Yang bisa mendorong di atas 5 persen adalah investasi. Selama ini kan pertumbuhan investasi kita relatif agak lambat tapi perlulah percepatan investasi, makanya itu masuk ke dalam keyword.

Lalu kenapa pilihannya investasi infrastruktur?
Karena itu sudah ada sejak tahun pertama tahun 2015, sehingga kita ingin pada 2018 seperti keinginan Presiden, se­bagian besar proyek infrastruk­tur yang sudah dikerjakan itu selesai.

Jadi ini tahun pemantapan sekaligus menyelesaikan dari proyek infrastruktur yang ber­jalan sekaligus juga ingin me­negaskan bahwa infrastruktur tetap akan diperlukan selama kita masih ketinggalan di da­lam penyedian infrastruktur itu sendiri.

Pertumbuhan sudah jelas, apalagi satu lagi yang pent­ing adalah pemeratan. Kita ingin, kalau ada pertumbuhan, itu adalah pertumbuhan yang berkualitas dan kualitasnya itu ditunjukan dari pemerataan.

Bagaimana cara pemerintah meningkatkan investasinya?
Dari poin yang disampaikan oleh Presiden adalah kebebasan dalam memilih. Kalau kamu jadi investor, bukan berarti kamu harus invest di tempat saya, kalau kamu merasa tidak tepat di tempat saya maka kamu akan invest di tempat lain. Artinya kalau dia tidak suka kabupaten A, dia akan lari ke kabupaten B atau dia lari ke kota C, bahkan kalau dia bisa memilih tidak di Indonesia.

Itu tidak berlaku hanya untuk investor luar negeri, investor luar negeri pun punya pemikiran yang sama, kalau dia ingin ekspansi tapi dia merasa dalam negerinya tidak mendorong ke­inginannya untuk ekspansi.

Lantas apa yang seharusnya dilakukan?
Intinya memang sikap untuk bersaing harus ditunjukkan dan salah satunya untuk menjaga per­saingan adalah tidak membuat aturan yang terlalu mengikat atau berlebihan sehingga akh­irnya membuat investor tidak nyaman. Jadi bagaimana daerah membuat kenyamanan itu pent­ing, kedua daerah harus mau investasi melalui infrastruktur. Infrastruktur buat apa, selain buat masyarakatnya, infrastruk­tur juga membuat investor mau datang ke sana. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Negeri Para Bocil

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:14

DPR Tidak Boleh Hadapi Pendemo dengan Pendekatan Keamanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:02

Tak Benar Yayasan Syarif Hidayatullah Berkonflik dengan UIN Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:45

Desil DTSEN Tak Boleh Merugikan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:34

Beban Kesehatan Karhutla Tembus Rp120 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:22

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:12

Jokowi seperti Gelisah dengan Pernyataan Budi Arie

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:28

Dinas Perumahan Harus Bergerak Cepat Tuntaskan Masalah Warga Taman Rasuna

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:16

Naik Motor dari Indramayu, Konten Kreator Ini Semangat Ikut Demo di DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:00

Polri Kumpulkan Donasi Rp12,6 Miliar untuk NTT

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:46

Selengkapnya