Berita

Mike Pence bersalaman dengan Malcolm Turnbull/CNA

Dunia

AS Siap Hormati Kesepakatan Pengungsi Dengan Australia

SABTU, 22 APRIL 2017 | 15:41 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menghormati kesepakatan pengungsi kontroversial dengan Australia, di mana Amerika Serikat akan memukimkan kembali ke 1.250 pencari suaka.

Pence mengatakan pada sebuah konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull di Sydney (Sabtu, 22/4) bahwa kesepakatan tersebut akan diperiksa, dan bahwa menghormatinya tidak berarti bahwa mengagumi kesepakatan tersebut.

"Kami akan menghormati kesepakatan ini sehubungan dengan aliansi yang sangat penting ini," kata Pence di kediaman Turnbull di Sydney.


Di bawah kesepakatan tersebut, yang disepakati dengan mantan Presiden Barack Obama akhir tahun lalu, Amerika Serikat akan memukimkan kembali ke 1.250 pencari suaka yang berada di kamp pengolahan lepas pantai di kepulauan Pasifik Selatan di Papua Nugini (PNG) dan Nauru. Kesepakatan itu dinilai Trump sebagai kesepakatan yang "bodoh".

Sebagai gantinya, Australia akan memindahkan pengungsi dari El Salvador, Guatemala dan Honduras.

Gedung Putih telah mengatakan akan menerapkan "pemeriksaan ekstrim" kepada pencari suaka yang berada di pusat pemrosesan Australia yang mencari pemukiman kembali di Amerika Serikat.

Kesepakatan itu lebih penting bagi Australia, yang berada di bawah tekanan politik dan hukum untuk menutup kamp-kamp tersebut, terutama di Pulau Manus di PNG dimana kekerasan antara penghuni dan narapidana baru-baru ini terjadi.

Advokat pencari suaka menyambut baik komitmen AS, walaupun mereka tetap khawatir bahwa "pemeriksaan ekstrim" dapat melihat kurang dari 1.250 orang yang tinggal di Amerika Serikat.

"Yang masih belum jelas berapa banyak orang yang memiliki kesempatan ini, dan kejelasan itu harus disediakan," kata Graham Thom, Koordinator Pengungsi di Amnesty International Australia.

"Kekerasan di Pulau Manus akhir pekan lalu hanya menunjukkan lebih jauh bahwa pemerintah Australia perlu memberikan komitmen yang jelas bahwa tidak ada pengungsi atau orang yang mencari suaka akan ditinggalkan di Papua Nugini atau Nauru," katanya seperti dimuat Channel News Asia.

Australia sendiri adalah salah satu sekutu setia Washington dan telah mengirim pasukan untuk berperang bersama militer AS dalam konflik di Irak dan Afghanistan. [mel]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya