Berita

Ustaz Ansufri Sambo/Net

Wawancara

WAWANCARA

Ustaz Ansufri Sambo: Kami Jamin Peserta Tamasya Al Maidah Tak Akan Mengintimidasi Warga Jakarta

SELASA, 18 APRIL 2017 | 10:03 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Guru spritual Letjen (Purn) Prabowo Subianto ini, menyanggah beberapa alasan yang dikemukakan Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait gerakan Tamasya Al Maidah, termasuk kekhawatiran tentang adanya kemungkinan kerusuhan, jika massa dari luar ibu kota masuk ke Jakarta. Berikut penjelasan Ustaz Ansufri Sambo;

Kapolri sudah menerbitkan surat edaran ke seluruh Kapolda agar Polri di daerah menghalau massa yang in­gin ikut tamasya Al Maidah. Tanggapan Anda?
Saya kira karena ini aksi da­mai, berkunjung, orang datang melihat dan memantau tidak ada alasan untuk melarang itu. Justru kalau dilarang, itu artinya negara melakukan kekerasan terhadap rakyatnya. Ini suatu tindakan yang damai, kami hanya berkun­jung untuk mengawasi, dan memastikan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta berlangsung dengan damai, adil, dan demokrasi. Kalau kami diintimidasi oleh negara dengan cara diusir dan ditangkap, ini jadi pelanggaran besar bagi demokrasi.

Justru alasan Kapolri melarang massa masuk Jakarta lantaran dikhawatirkan akan menimbulkan aroma intimidasi di TPS. Tanggapan Anda?

Justru alasan Kapolri melarang massa masuk Jakarta lantaran dikhawatirkan akan menimbulkan aroma intimidasi di TPS. Tanggapan Anda?
Kami jamin peserta yang ikut Tamasya Al Maidah tidak akan mengintimidasi warga yang menggunakan hak pilihnya. Massa yang datang nantinya hanya memantau, tetapi tidak masuk ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Mereka akan me­mantau dari jarak 20 meter, sehingga warga juga tidak perlu khawatir.

Lantas kalau terjadi in­timidasi oleh peserta aksi bagaimana?
Kalau ada intimidasi di tem­pat, tangkap saja. Misal ada 100 orang per TPS. Kalau masing-masing ada 2 orang melang­gar komitmen, silakan saja serahkan ke aparat. Kami sudah ada komitmen, siapa pun yang melakukan intimidasi, justru kelompok kami sendiri yang akan menangkap menyerahkan ke aparat. Karena kami memang tujuannya mengawal, menga­wasi, supaya kemenangan tidak dicederai dengan kecurangan-kecurangan. Ini yang sangat tidak diinginkan.

Kalau mengawal dan men­gawasi kan sudah ada petugas KPU, Panwaslu, dan saksi-saksi dari tiap paslon?

Walaupun sudah ada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan sebagainya, kami mensinyalir ini belum cukup kuat. Kami mau lebih kuat lagi, supaya demokrasi kita ini tidak diced­erai oleh hal-hal yang tidak kita inginkan.

Kami kasih tahu, dalam pu­taran sebelumnya kami me­nemukan beberapa kasus in­timidasi terhadap warga ketika menggunakan hak pilihnya, tapi dibiarkan oleh petugas TPS. Makanya kami datang untuk mendukung para aparat, supaya berani menindak.

Caranya?
Kalau massa menemukan in­timidasi atau kecurangan, kami minta untuk sorakin biar malu. Selain itu, massa juga diminta mendokumentasikan intimidasi atau kecurangan yang ditemu­kan. Tujuannya supaya bisa dibawa ke Mahkamah Konstitusi (MK), sebagai barang bukti kelak.

Perkiraan, berapa banyak yang akan mengikuti aksi ini?

Perkiraan 1,3 juta orang.

Massa berasal dari wilayah mana saja?

Yang sudah konfirmasi dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, Kalimantan juga. Dari Ciamis ada 500 orang yang sudah berjalan kaki.

Berapa banyak massa yang diperkirakan akan menginap di Jakarta, untuk melakukan aksi tersebut?
Diperkirakan akan ada sekitar 100 ribu orang yang mengi­nap di Jakarta, untuk ikut aksi Tamasya Al Maidah. Mereka yang menginap akan ditampung di masjid-masjid dan rumah-rumah warga. Sementara para massa aksi yang berasal dari Jabodetabek, akan berangkat pada hari H.

Teknis Tamasya Al Maidah ini nantinya seperti apa?
Setelah para peserta siap, mereka akan digerakkan ke sejumlah TPS yang lokasinya berdekatan dengan masjid, atau musala tempat mereka menginap.

Mereka akan memantau jalannya pemungutan suara di sana dari jauh. Mereka datang, duduk, melihat sambil melaku­kan dokumentasi, baik melalui foto atau pun video, hingga proses perhitungan suara di TPS selesai.

Setelah itu?
Setelah Tamasya Al Maidah berjalan sesuai rencana, massa akan dikumpulkan di Masjid Istiqlal terlebih dahulu. Usai salat Maghrib berjamaah, massa kemudian akan mening­galkan Jakarta dan kembali ke kota masing-masing dengan tertib. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya