Berita

foto/Net

X-Files

Telusuri Mark Up Harga Barang, Kejagung Fokus Periksa Vendor

SENIN, 17 APRIL 2017 | 08:55 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kasus Dugaan Korupsi Proyek Alat Penanggulangan Wabah HIV
Kejaksaan Agung (Kejagung) mengintensifkan pemeriksaan saksi dari sejumlah perusahaan yang jadi vendor proyek pengadaan alat dan bahan penanggulangan wabah HIV di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2015.

Kepala Pusat Penerangan Dan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung M Rum menerangkan, kejaksaan fokus menggarap dugaan korupsi proyek pengadaan alat dan bahan penanggulangan wabah penyakit HIV di Kemenkes. Upaya mengungkap perkara yang sudah masuk tahap penyidikan, dilakukan dengan memeriksa saksi dari sejumlah vendor proyek.

Vendor yang dimaksud ada­lah pengurus perusahaan yang menjadi rekanan dalam proyek pengadaan barang. Dalam perkara ini, sejumlah saksi dari perusahaan yang tercatat pernah diperiksa antara lain dari PTBecton Dicinson, PT Anugerah Argon Medica, PT Mensa Bina Sukses, serta PT Jaya Bima Agung.

Vendor yang dimaksud ada­lah pengurus perusahaan yang menjadi rekanan dalam proyek pengadaan barang. Dalam perkara ini, sejumlah saksi dari perusahaan yang tercatat pernah diperiksa antara lain dari PTBecton Dicinson, PT Anugerah Argon Medica, PT Mensa Bina Sukses, serta PT Jaya Bima Agung.

Perusahaan-perusahaan itu diduga menjadi mitra atau reka­nan dari Satuan Kerja Direktorat Pengendalian Penyakit Menular pada Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes. Dengan kata lain, perusahaan-perusahaan tersebut menjadi pemenang tender proyek yang belakangan diduga merugikan keuangan negara sekutar Rp 12 miliar.

"Saksi-saksi dari perusahaan atau vendor itu diperiksa terkait teknis pelaksanaan tender serta mekanisme penentuan besaran harga barang," ucapnya. Selebihnya, penyidik juga berupaya mengklarifikasi proses pengadaan barang yang didistribusikan oleh vendor proyek.

Dikonfirmasi, berapa vendor yang terlibat dalam proyek pengadaan tersebut, Rum belum bisa memastikannya. Dia bilang, penyidik masih meneliti hal itu. Yang jelas, menurutnya, proses penanganan kasus ini sudah cukup menunjukan kemajuan signifikan.

"Sudah masuk tahap penyidi­kan meskipun belum ditetapkan tersangkanya," ucapnya.

Disampaikan, pada giliran­nya nanti, penyidik pasti akan menentukan tersangka kasus ini. "Biarkan penyidik menggali bukti-buktinya terlebih dahulu," tandasnya.

Sepanjang pengetahuannya, beber dia lagi, saksi-saksi dari pihak vendor yang diperiksa penyidik diminta menguraikan. bukti-bukti pembelian alat dan bahan penanggulangan wabah HIV dari Singapura.

Diminta menjawab pertanyaan,apakah penyidik sudah menggali keterangan saksi dari pihak pe­rusahaan Singapura, lagi-lagi bekas Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) DKI itu me­mastikan, semua pihak yang diduga terkait perkara tersebut pasti dimintai keterangan.

"Sudah ada 48 saksi yang diperiksa," ucapnya. Saksi-saksi itu selain berasal dari vendor atau peruaahaan rekanan Kemenkes, juga berasal dari ling­kungan kementerian.

Diketahui, penyidik Gedung Bundar sepanjang pekan lalu memeriksa saksi Effendi, staf marketing PT Becton Dicinson Indonesia. Dalam pemeriksaan, saksi menerangkan bahwa PT Anugerah Argon Medica merupakan distributor tunggaldari PT Becton Dicinson Indonesia. Menurut saksi, PT Becton Dicinson Indonesia memberikan diskon kepada pembeli ba­rang dari PT Anugrah Argon Medica.

Sebelumnya, kejaksaan juga memeriksa saksi dari pihak ven­dor, yakni Handoyo Orbaniyanto, Branch Manager PT Mensa Bina Sukses. "Pemeriksaan pada pokoknya tentang pembelian ba­rang dari PT Mensa Bina Sukses kepada PT Jaya Bima Agung."

Keterangan saksi dari lingkungan vendor proyek tersebut sampai saat ini masih dikaji penyidik. Dikemukakan, hasil analisis penyidik bakal dikem­bangkan untuk kepentingan memeriksa saksi-saksi lainnya.

"Saat ini fokus penyidik pada pemeriksaan vendor proyek. Dari situ diharapkan penyimpan­gan yang terjadi bisa diungkap secara gamblang."

Dia menambahkan, penyidik sudah mengantongi data atau bukti-bukti seputar dugaan penyimpangan proyek ini. "Modus penyimpangan proyek ini diduga dilakukan dengan cara menggelembungkan harga barang atau mark up," terangnya.

Kilas Balik
Dirut PT Djaya Bima Agung Ikut Diperiksa
Kejagung telah memeriksa 22 saksi perkara dugaan korupsi proyek alat kesehatan (alkes) penanggulangan HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) tahun 2015. Meski sudah masuk tahap penyidikan, jaksa belum menetapkan tersangka.

"Penyidik masih perlu menda­lami kasus ini secara obyektif," kata Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung M Rum, beberapa waktu lalu. Dia menambahkan, peningkatan status penanganan perkara dari penyelidikan ke penyidikan dilatari oleh bukti-bukti adanya dugaan mark-up nilai proyek.

Dengan kata lain, hasil penelusuran sementara menyatakan, harga barang yang ditentukan sendiri oleh panitia proyek tidak sesuai dengan harga pasar. Hanya saja, beber dia, penyidik belum bisa memperkirakan berapa nominal mark-up atau pembengkakan nilai proyek ini.

"Nanti-nanti nominalnya se­dang dihitung oleh penyidik. Biar selesai penghitungannya lebih dulu," terangnya. Disampaikan, asumsi adanya pembengkakan nilai proyek diperoleh setelah penyidik memeriksa sedikitnya 22 saksi.

Lewat keterangan saksi-saksi dan dokumen proyek itulah, sebut dia, penyidik menduga adanya penyelewengan.D ia me­nyampaikan, selain pemeriksaan 22 saksi, penyidik juga menjad­walkan pemeriksaan lanjutan kepada saksi lainnya.

"Sudah dijadwalkan pemang­gilan dan pemeriksaan saksi-saksi tambahan lainnya." Akan tetapi ketika diminta membeberkan identitas saksi-saksi tersebut, bekas Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) DKI itu belum bersedia memaparkannya.

Dia mengemukakan, 22 sak­si yang dikorek keterangannya terkait dugaan korupsi di Direktorat Pengendalian Penyakit Menular pada Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes itu berasal dari lingkungan ekse­kutif dan swasta.

Dari pihak swasta, penyidikmemeriksa saksi Luana Witiawati, Dirut PT Djaya Bima Agung. Saksi dari pihak swasta atau reka­nan itu diduga mengetahui spesi­fikasi dan mekanisme pembelian alat medis untuk keperluan pen­anggulangan penyakit menular.

"Keterangan mereka sedang didalami. Dianalisis untuk mengetahui dugaan penyelewenganproyek tersebut sekaligus dipergunakan untuk kepentingan pemanggilan saksi lanjutan," tuturnya.

Ditambahkan, kesimpulan se­mentara dari pemeriksaan saksi-saksi itu menyebutkan, adanya dugaan ketaksesuain pelaksanaan proyek. Dengan kata lain, perusahaan yang menjadi peme­nang tender diduga tidak punya kapasitas dalam pengadaan alkes. Ketakmampuan peru­sahaan itu memicu terjadinya pengadaan atau pembelian alkes kepada perusahaan lain.

Akibat praktik-praktik yang demikian, nominal anggaran proyek pun membengkak. Dari sinyalemen itu, penyidik men­duga bahwa Pelaksana proyek tidak selektif dalam melaksana­kan tender proyek yang nominal­nya mencapai Rp 80 miliar.

Dia belum bisa menjelaskan, berapa angka kerugian negara yang ditimbulkan akibat penyimpangan di sini. Menurutnya, angka dugaan kerugian negara dalam proyek tersebut sedang dihitung oleh penyidik.

"Kejaksaan juga sudah berk­oordinasi dengan BPK untuk me­minta hasil audit serta melaku­kan penghitungan dugaan keru­gian negara dalam proyek yang menggunakan anggaran tahun 2015 tersebut." ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Dubes Najib: Dunia Masuki Era Realisme, Indonesia Harus Bersatu

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:10

Purbaya Jamin Tak Intervensi Data BPS

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:06

Polisi Bantah Dugaan Rekayasa BAP di Polsek Cilandak

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:58

Omongan dan Tindakan Jokowi Sering Tak Konsisten

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:43

Izin Operasional SMA Siger Lampung Ditolak, Siswa Diminta Pindah Sekolah

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:23

Emas Antam Naik Lagi, Nyaris Rp3 Jutaan per Gram

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:14

Prabowo Janji Keluar dari Board of Peace Jika Terjadi Hal Ini

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:50

MUI Melunak terkait Board of Peace

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:44

Gibran hingga Rano Karno Raih Anugerah Indoposco

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:30

Demokrasi di Tengah Perang Dingin Elite

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:15

Selengkapnya