Lembaga Syngenta melansir laporan terbaru dari The Good Growth Plan sebagai komitmen untuk membantu petani menghadapi tantangan kebutuhan pangan dengan cara berkelanjutan.
Melalui enam komitmen yang terdapat dalam The Good Growth Plan, Syngenta bertujuan membuat kontribusi terukur di tahun 2020, dengan meningkatkan efisiensi sumber daya, meremajakan ekosistem, dan merevitalisasi masyarakat pedesaan.
Memasuki tahun ketiga, The Good Growth Plan berhasil menunjukkan kemajuan di masing-masing komitmen. Di tahun 2016, Syngenta telah berhasil mencapai 10,55 persen peningkatan produktivitas rata-rata di Asean, dan Syngenta terus berkomitmen untuk memperkuat fungsi pengawasan untuk memaksimalkan pencapaian. Di sisi lain, Syngenta telah menjangkau 1,7 juta petani kecil di Asean melalui penjualan tidak langsung.
Melalui komitmen The Good Growth Plan, sebanyak 563 ribu petani telah mendapatkan pelatihan pertanian yang aman dan berkelanjutan. Lebih dari 430 ribu diantaranya adalah petani kecil.
Di Indonesia, salah satu program The Good Growth Plan untuk memberdayakan petani kecil yaitu melalui program finansial-mikro untuk petani jagung dan teknologi pembungaan awal untuk petani mangga. Beberapa diantaranya melalui program transfer pengetahuan dan pengembangan kapasitas, di mana Syngenta menyediakan pusat pelatihan, mengadakan pertemuan antar petani, membangun jaringan, serta memberikan pelatihan agronomi dan demonstrasi tanaman. Tak hanya itu, Syngenta memberikan kemudahan pada akses finansial dengan model asuransi mikro dengan skema pembayaran yang ramah bagi petani.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia Parveen Kathuria menjelaskan, tantangan terbesar dari meningkatkan ketahanan pangan di dunia adalah pentingnya kerja sama dari seluruh pihak. Saat ini, Syngenta telah bekerja sama dengan pemerintah, petani, LSM, asosiasi internasional dan akademisi demi tercapainya komitmen The Good Growth Plan.
"Melalui komitmen The Good Growth Plan, Syngenta ingin memberikan kontribusi yang nyata, terutama terhadap peningkatan kesejahteraan petani Indonesia. Hanya sedikit orang dewasa di daerah pedesaan di negara berkembang yang memiliki akses ke pinjaman dari lembaga keuangan formal. Padahal kemudahan akses finansial ini sangat penting sebagai modal para petani. Kemitraan diperlukan untuk meningkatkan akses ke pembiayaan mikro untuk meningkatkan produktivitas petani," jelas Parveen dalam keterangannya, Rabu (12/4).
Dia menambahkan, pada 2014, program finansial-mikro dimulai dengan 198 petani jagung di Dompu dan Bima, Nusa Tenggara Barat. Bekerja sama dengan Mercy Corps Indonesia, Bank Andara, dan BPR Akbar Pesisir di bawah kegiatan PISAgro (Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture/Kemitraan untuk Pertanian Berkesinambungan Indonesia) bagi kelompok petani kecil jagung. Selain akses pembiayaan, petani juga dilatih dalam agronomi dan mendapatkan pelatihan literasi finansial.
"Program ini berhasil meningkatkan produktivitas sebesar 12 persen dan meningkatkan pendapatan petani sebesar 23 persen. Diharapkan di tahun 2017 proyek ini bisa mencapai seribu petani," ujar Parveen.
Selain kemudahan finansial, pada 2014, Syngenta juga telah menjalankan kemitraan dengan DFAT/Prisma dengan memberikan edukasi mengenai teknologi pembungaan awal kepada para petani mangga di Jawa Timur dan NTB.
"Petani yang bergabung telah mampu meningkatkan produktivitas mereka dan meningkatkan pendapatan sebesar 34 persen karena mampu menciptakan hubungan langsung ke pasar, dan dapat menjual mangga dengan harga yang lebih stabil," demikian Parveen.
Sekadar informasi, Syngenta sendiri merupakan perusahaan terdepan di bidang pertanian yang memiliki misi untuk meningkatkan ketahanan pangan dunia dengan cara memungkinkan jutaan petani memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia dengan lebih baik. Melalui ilmu pengetahuan kelas dunia dan solusi pertumbuhan tanaman yang inovatif, 28.000 pekerja Syngenta di 90 negara berusaha mengubah cara tanaman tumbuh dengan baik. Kami berkomitmen untuk menyelamatkan lahan dari kerusakan, memperkaya keragaman hayati, dan merevatilisasi masyarakat perdesaan.
[wah]