Pihak perusahaan minyak Shell untuk pertama kalinya mengakui pernah menangani pihak yang diduga melakukan pencucian uang ketika bernegosiasi untuk mendapatkan akses ke ladang minyak besar di Nigeria.
Pengakuan itu dibuat setelah muncul email yang menunjukkan bahwa pihak Shell pernah bernegosiasi dengan Dan Etete yang kemudian dijerat dengan kasus pencucian uang.
Shell dan perusahaan minyak Italia ENI diketahui pernah membayar 1,3 miliar dolar AS kepada pemerintah Nigeria untuk bisa mendapatkan akses ke lapangan.
Shell dan ENI menyetujui kesepakatan dengan pemerintah Nigeria untuk hak mengeksploitasi OPL 245, blok minyak utama di lepas pantai Delta Nigeria.
Pemerintah meneruskan 1,1 miliar dolar AS untuk sebuah perusahaan bernama Malabu, yang dikendalikan oleh Etete.
Menurut jaksa Italia, dokumen yang diajukan oleh jaksa Italia mengklaim bahwa 466 juta dolar AS dari jumlah itu kemudian dicuci melalui biro perubahan dan diteruskan ke presiden, Goodluck Jonathan, dan anggota pemerintahannya.
Di masa lalu, ketika ditanya, pihak Shell mengklaim hanya membyarkan uang untuk pemerintah Nigeria.
Namun awal pekan ini, juru bicara Shell mengatakan bahwa Shell telah terlibat dengan Malabu dan Etete sebelum menandatangani kesepakatan itu.
"Selama beberapa tahun, Shell membuat upaya untuk sepenuhnya membangun dan memahami struktur kepemilikan Malabu, termasuk peran yang tepat dari Etete di Malabu," kata Jubir tersebut.
"Seiring berjalannya waktu, itu menjadi jelas bagi kita bahwa Etete terlibat dalam Malabu dan bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan kebuntuan melalui penyelesaian yang dinegosiasikan adalah untuk terlibat dengan Etete dan Malabu, apakah kita suka atau tidak. Hal ini sejalan dengan posisi Pemerintah Federal Nigeria (FGN)," tambahnya seperti dimuat
BBC.
[mel]