Berita

Net

Nusantara

Atasi Kemacetan, Pemerintah Jangan Hanya Prihatin

SENIN, 10 APRIL 2017 | 16:28 WIB | LAPORAN:

Indonesia Traffic Watch (ITW) mengingatkan pemerintah agar hasil survei produsen GPS Tom-Tom dijadikan warning untuk segera mewujudkan sistem transportasi umum terintegrasi dan sesuai kebutuhan serta budaya Indonesia.

Diketahui, pada akhir Maret lalu, produsen GPS Tom-Tom yang bermarkas di Belanda mengumumkan hasil survei dan menempatkan Jakarta pada urutan tiga sebagai kota termacet di dunia. Padahal, pada periode 2016, INRIX yang merupakan lembaga penganalisa data kemacetan yang berbasis di Washinton, Amerika Serikat menempatkan Jakarta pada urutan ke-22 sebagai kota termacet di dunia.

"Pemerintah jangan lagi hanya sebatas prihatin tetapi harus move on dan melakukan upaya yang berdampak langsung pada masalah kemacetan. Sebab kemacetan lalu lintas khususnya kota-kota besar seperti Jakarta sudah masuk kategori gawat darurat," jelas Ketua Presidium ITW Edison Siahaan kepada wartawan, Senin (10/4).
 

 
Menurutnya, penyebab kemacetan tampak jelas di depan mata yaitu jumlah kendaraan bermotor yang tidak terkontrol,sehingga panjang dan ruas jalan tak lagi mampu menampungnya. Kemudian, kesadaran tertib berlalu lintas  dan taat aturan masyarakat yang masih sangat rendah, serta penegakan hukum yang belum maksimal bahkan pilih kasih.

Sayangnya, pemerintah belum melakukan upaya maksimal untuk mengatasi penyebab utama kemacetan tersebut. Justru terkesan ada pembiaran sehingga penyebab kemacetan itu terus terjadi.
 
ITW menilai bahwa kemacetan semakin tidak terkendali, dipicu koordinasi antara instansi terkait yang terkadang belum fokus,bahkan sering berbeda sehingga melakukan tindakan dengan cara masing-masing. Akibatnya, muncul berbagai permasalahan yang potensi menimbulkan gangguan hingga kemacetan lalu lintas. Bahkan, sikap pemerintah terbelah ketika muncul permasalahan angkutan umum konvensional dengan berbasis aplikasi online.
 
Edison menyebut, untuk mengatasi kemacetan yang sudah gawat darurat seperti saat ini, pemerintah tidak akan mampu bila hanya melakukan upaya yang biasa atau rutin.

"Pemerintah harus berani melakukan upaya ekstrim tetapi menjadi solusi efektif mengatasi kemacetan, seperti pembatasan penjualan kendaraan baru secara berjangka di Jakarta," ujarnya.
 
Dikatakannya, kemacetan menimbulkan kerugian mencapai Rp 56 triliun per tahun akibat pemborosan penggunaan bahan bakar. Juga mengganggu aktivitas dan mematikan produktifitas serta kreatifitas masyarakat.

"Padahal, lalu lintas adalah sektor utama dalam upaya meningkatkan perekonomian nasional untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat," tegas Edison. [wah]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya