Pemerintah Sudan Selatan memblokir pasukan penjaga perdamaian PBB untuk mengunjungi sebuah kota di mana tentara diduga membunuh banyak warga sipil pekan ini.
Menurut keterangan dari juru bicara PBB dalam misi di Sudan Selatan Shantal Persaud (Jumat, 7/3), penjaga perdamaian telah mencoba untuk mendapatkan akses ke kota Pajok, dekat perbatasan dengan Uganda selama empat hari terakhir.
Upaya masuk ke kota itu dilakukan setelah muncul laporan yang belum dikonfirmasi soal adanya pembunuhan massal.
"Negosiasi terus dengan pemerintah setempat," sebutnya.
Namun demikian ada kecurigaan bahwa pembunuhan massal benar-benar terjadi karena ada peningkatan pengungsi Sudan Selatan yang melarikan diri ke Ugana sejak awalpekan ini.
Dalam laporan saksi yang belum dikonfirmasi disebutkan bahwa tentara Sudan Selatan membunuh setidaknya 17 warga sipil di wilayah tersebut.
Para pengungsi mengatakan beberapa dari mereka yang tewas adalah anak-anak yang ditembak ketika mereka mencoba melarikan diri, sementara yang lain ada yang digorok di bagian tenggorokan dan digantung.
Pemerintah Sudan Selatan sendiri membantah pasukannya menargetkan warga sipil. Operasi yang dilakukan di kota itu adalah untuk menyapu gerilyawan.
Sebagai informasi bahwa Sudan Selatan secara politik dan keamanan masih termasuk dalam kategori belum stabil. Negara yang memisahlan diri dari Sudan pada tahun 2011 itu masih terjebak dalam perang dan konflik internal terutama sejak Presiden Salva Kiir memecat wakil presidennya Riek Machar pada 2013. Pertempuran yang diikuti sering membagi negara itu di sepanjang garis etnis.
[mel]